Saturday, August 05, 2006

Iklim Kebebasan Kita Harus Disyukuri

sumber

Fauzi Isman:
Iklim Kebebasan Kita Harus Disyukuri

Perubahan sikap eskrem dalam beragama sangat mungkin
asalkan sang aktor mau membuka diri dan bergaul dengan
banyak orang dari latar belakang berbeda. Itulah yang
pernah terjadi pada Fauzi Isman, mantan aktivis
Kelompok Warsidi yang getol memperjuangkan negara
Islam di tengah rezim represif Orde Baru. Dia pun
divonis 20 tahun penjara, dan sempat menjalaninya
selama 10 tahun. Pria yang kini menjadi terapis
akupuntur itu menuturkan pengalamannya kepada M.
Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis
(22/6) lalu.

*Mas Fauzi, apa yang dulu menjadi cita-cita Anda dan
teman-teman waktu ikut terlibat kasus Tegalsari
Lampung yang berkehendak mendirikan negara Islam itu?

**Cita-cita kami waktu itu, yang kemudian
distigmatisasi oleh pemerintah sebagai gerakan
pengacau Warsidi, adalah keinginan mendirikan negara
Islam. Kenapa kami berpandangan seperti itu? Karena
kami melihat bahwa Pancasila sebagai ideologi negara
waktu itu telah gagal. Dan kami waktu itu melihat
Islam sebagai sebuah alternatif. Saat itu kami yakin
bahwa
hanya dengan Islamlah bangsa ini akan dapat dibawa ke
arah perubahan yang lebih baik.

*Anda sebagai apa dalam Kelompok Warsidi?

**Awalnya, kelompok Warsidi itu adalah salah satu
faksi di dalam kelompok NII (Negara Islam Indonesia).
Pada waktu itu, kelompok ini merupakan pecahan dari
kelompok Usroh, Santan Nur Hidayat. Kemudian Nur
Hidayat merekrut saya, Darsono, dan Wahidin, yang
kebetulan punya pemikiran yang sejalan. Melihat kita
perlu segera mewujudkan negara Islam, kita harus
membentuk kekuatan militer. Sebab waktu itu, kekuatan
militer cukup dominan dan tindakan represi dari
pemerintah Orde Baru keras sekali. Banyak sekali
aktivis-aktivis NII yang dipenjarakan, sehingga waktu
itu faksi-faksi ini seperti kehilangan pemimpin,
sehingga mereka-mereka yang sudah punya pola pikir
fundamentalis tidak tersalurkan ke dalam aksi
perbuatan. Itulah dasar pemikiran kami sehingga
membentuk suatu jamaah. Kami tidak membentuk apa-apa
lagi, tapi kira-kira jamaah itu bertujuan untuk
mendirikan negara Islam.

*Mengapa ideologi Islam begitu mempesona sebagai
alternatif di masa itu?

**Saya pribadi tertarik karena sikap kritis terhadap
rezim yang berkuasa ketika itu. Dan ketertarikan saya
pertama kali terhadap ideologi Islam bermula ketika
mengikuti training yang diselenggarakan Pelajar Islam
Indonesia (PII) di Bandar Lampung. Pada waktu itu,
saya masih duduk di kelas 3 SMP. Saat itulah saya
sadar bahwa sebagai seorang muslim, seharusnya saya
mencari pandangan hidup ataupun ideologi yang Islam.
Tapi dari sana juga saya menyadari kekuarangan
pemahaman saya tentang Islam, sehingga saat duduk di
kelas 1 SMU, saya minta orangtua saya memondokkan saya
di pesantren Tambak Beras, Jombang.

Saya sempat dua tahun belajar di sana dan dari situ
pula saya makin menyadari pentingnya ideologi Islam
setelah mengkaji fikih Islam dan segala macam disiplin
ilmu di pesantren. Saya lalu kuliah di perguruan
tinggi umum di Jakarta. Di Jakarta inilah kemudian
saya bertemu dengan kelompok NII, salah satu faksi NII
Nur Hidayat. Saya tertarik karena semangat dia yang
menggebu-nggebu hendak menegakkan syariat Islam di
Indonesia.

Sebagai kelanjutan dari itu, kami membuat satu program
yang ingin memberi suatu percontohan tentang negara
Islam. Kami sebut Islamic Relief di Lampung. Lalu kami
sosialisasikanlah misi ini ke faksi-faksi NII yang
lain. Misalnya ada faksi dari Tahmid, faksi Ajengan
Masduki, dan faksi lainnya, termasuk orang-orangnya
Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Tapi waktu
itu Ba'asyir lari ke Malaysia, dan sebagian orang
menganggap tindakan Ba'asyir dan Sungkar tersebut
sebagai tindakan pengecut.

*Kok disebut pengecut?

**Saya ingat persis, waktu itu seorang teman bernama
Usman selalu mengatakan kok ada rasul yang hijrah
duluan meninggalkan jamaahnya. Kebetulan setelah itu
kami bertemu jamaah Warsidi di Lampung yang juga salah
satu jamaah NII. Setelah itu, jadilah kami kelompok
yang paling keras di antara yang keras. Itulah isu di
kalangan NII kala itu. Kami lalu membuat program
Islamic Village, dan melakukan program hijrah. Kami
pindahkan keluarga-keluarga kami, lebih kurang 100
keluarga, ke tanah Warsidi.

Kepindahan orang-orang yang waktu memakai krudung
masih dianggap aneh dan identik dengan ciri kelompok
fundamentalis. Itu lalu menimbulkan kecurigaan aparat
pemerintah. Sebab waktu itu pendekatan intelijen dan
militer sangat kuat. Danramil waktu itu, Kapten
Sutiman, meminta Warsidi untuk melaporkan kegiatannya,
yang ditolak Warsidi. Tindakan menolak itu yang lalu
dinamakan pembangkangan. Karena laporan intelijen juga
menyebut kami sebagai kelompok radikal, lalu Sutiman
melakukan penyerbuan dengan satu pasukan.

Di situlah terjadi insiden karena jamaah melakukan
perlawanan dan Sutiman tewas. Selang dua hari
kemudian, barulah Komandan Korem melakukan operasi
pembersihan, sehingga banyak yang tewas. Ada sekitar
200 orang korban. Kami yang sisanya kemudian
ditangkap, diadili, dan mengalami penyiksaan selama
proses pemeriksaan. Pada waktu itu, saya diadili di
Jakarta dan divonis 20 tahun penjara.

*Kapan Anda berubah dari cita-cita ingin negara Islam
menuju gerakan memperkuat basis-basis demokrasi?

**Perubahan itu tidak terjadi seketika. Ada proses
yang panjang dan mulai timbul ketika saya berada di
penjara yang cukup lama, yaitu 10 tahun. Padahal usia
saya waktu itu baru 22 tahun. Cuma waktu itu saya
punya satu dasar yang menganggap semua itu sebagai
proses mencari kebenaran dalam hidup. Itu dimungkinkan
karena dalam diri saya ada sikap kritis.

Setelah mengalami kegagalan di Lampung, di penjara
kita punya banyak waktu untuk kontemplasi atau
melakukan muhasabah. Di situlah sikap kritis muncul.
Doktrin-doktrin NII yang saya telan begitu saja selama
ini, mulai saya kritisi. Dalam NII, kalau kita
mengaji, ada konsep bai'at. Dampak psikologis bai'at
itu ternyata betul-betul sangat mendalam. Seakan-akan,
kita berbai'at di hadapan Allah langsung. Kalau kita
melanggar bai'at itu, berarti kita menentang Allah.
Padahal kita berbai'at tidak kepada Allah, tapi kepada
manusia biasa yang kebetulan pimpinan. Belakangan saya
bertanya, otoritas apa yang ia punya kok
mengatasnamakan Allah?

Pada awalnya, saya takut-takut juga berpikir begitu.
Tapi saya coba mencari referensi dari kitab-kitab
fikih, apakah bisa bai'at tersebut dibatalkan. Dan
saya kebetulan juga senang bergaul di dalam penjara.
Waktu itu, tahanan politik ataupun narapidana politik
ada sekitar 100 orang yang dibagi antara ekstrem kiri
dan ekskrem kanan. Ekstrem kiri adalah tahanan politik
yang terlibat atau diduga terlibat dalam kasus
G30S/PKI, sementara ekstrem kanan yang terlibat
masalah-masalah Islam kayak kasus Tanjung Priuk,
Lambung, Usroh, dan NII.

Lalu saya berjumpa narapidana politik kasus Timor
Timur. Ada yang bernama Sanan dan ada juga dari OPM
(Organisasi Papua Merdeka), almarhum Dr. Thomas
Wangggai. Nah, saya senang bergaul dengan mereka. Di
situlah terjadi diskusi yang intens, walau kami
tinggal di blok khusus EK (Ekstrem Kanan) yang dipisah
dari tahanan khusus EK (Ekstrem Kiri) atau PKI. Blok
tahanan Tim-Tim juga tersendiri. Pengawasannya sangat
ketat. Tapi dari interaksi itulah saya memahami orang
komunis.

Saya tidak tahu kebijakan apa pada waktu itu yang
membuat pimpinan LP dan Bakorsanada menyatukan tahanan
Lampung satu blok dengan tahanan politik G30S/PKI.
Saya ketemu Kolonel Latif, Sersan Bungkus dari
Cakrabirawa, dan bergaul juga dengan Asep Suryaman,
anggota biro khusus PKI. Juga ketemu Sukatno, Ketua
Pemuda Rakyat, dan Rewang Iskandar Subekti. Dari
pergaulan dengan mereka saya tahu, meskipun ideologi
mereka komunis, tapi mereka tidak atheis sebagaimana
yang selama ini saya pahami. Pak Latif tetap shalat
Jumat ke Masjid, dan Asep Suryaman juga demikian. Itu
pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya yang pada
akhirnya membuat pandangan saya tentang mereka tidak
hitam-putih.

Saya bisa memahami latar belakang perjuangan mereka.
Tapi ketika itu, tahun 1990, setiap tanggal 1 Oktober,
bersamaan dengan peringatan G30S/PKI, tahanan PKI itu
diambil untuk diekskusi mati. Saya masih satu blok
dengan mereka-mereka. Saya di kamar 11, sementara Pak
Asep Suryaman di kamar 4. Nah, pada tengah malam
ketika dia ingin dipanggil, mereka sudah tahu kalau
akan dieksekusi. Mereka lalu datang untuk pamitan ke
kamar saya. "Bung, kalau saya ada kesalahan dalam
pergaulan dengan Anda, saya minta maaf. Saya tidak
tahu apakah saya termasuk mereka yang akan dipanggil
atau tidak," katanya. Padahal dia sudah menjalani
hukuman penjara 27 tahun. Karena itu, dia mengatakan,
"Saya sudah siap menghadapi kematian."

"Apa yang membuat Anda siap, Pak?" tanya saya. "Saya
membawa ini," katanya sambil menunjukan buku surat
Yasin kecil di kantongnya. Saya sangat tertegun
melihat peristiwa itu. Ternyata saya salah selama ini.
Mereka berideologi komunis, tapi tetap shalat. Dan
ketika menghadapi kematian, buku Yasin kecil itu yang
membuat dia yakin. Itulah yang mengubah pandangan saya
agar tidak melihat orang lain secara hitam-putih.
Padahal, selama ini, dalam NII diajarkan, pokoknya
orang yang di luar kelompok kita adalah kafir dan
segala macam cap buruk lainnya. Nah, itu yang mengubah
saya, dan mendorong untuk mengupas dan mengkritisi
doktrin doktrin NII.

*Mengapa Anda begitu lama tersadar akan kekeliruan
doktrin NII?

**Karena kelompok-kelompok seperti itu kan melarang
jamaahnya untuk bergaul dengan kelompok lain. Untuk
pengajian di jamaah lain pun nggak boleh. Kita juga
dilarang membaca buku-buku di luar buku doktrin yang
tersedia. Dulu ketika masih di NII, bacaan wajib saya
adalah kitab Jundullâh (Serdadu Tuhan, Red). Di situ
diterangkan, kalau kita sudah menyatakan kesetiaan
atau walâ kepada seorang pimpinan, maka kepada selain
dia harus barâ' atau emoh taat. Ternyata, setalah saya
pelajari lagi, konsekuensinya kan tidak selamanya
seperti itu dalam kehidupan kita ini.

*Ada buku yang mempengaruhi Anda ketika di penjara?

**Banyak sekali. Kebetulan kami dikunjungi pula oleh
berbagai kelompok. Saya mulai merambah buku-buku Islam
dari berbagai lapisan. Buku-buku yang dikarang ulama
Syiah juga saya baca. Buku-buku tentang demokrasi
segala macam juga saya baca. Saya merasa beruntung
ketika di penjara mempunyai banyak kesempatan untuk
belajar, intropeksi-diri, kontemplasi, dan bergaul,
termasuk dengan tahanan kriminal. Dari situ saya
memahami tidak semua orang yang divonis kriminal itu
jahat. Kadang-kadang lebih banyak motif ekonomi yang
menyebabkan mereka terjebak dalam kriminalitas.

*Mas Fauzi, bagaimana Anda melihat pelbagai gerakan
Islam radikal yang sekarang ini cukup lantang bersuara
memanfaatkan iklim demokrasi di Indonesia?

Bagi saya ada penyelesaian yang sangat gampang:
penjarakan saja mereka dalam waktu yang lama, sehingga
bisa intropeksi. Tapi memenjarakan itu tentunya kalau
mereka melanggar hukum. Jadi pemerintah harus
melakukan
tindakan tegas. Menurut pengalaman saya, orang-orang
ekstrem yang dipenjara cukup lama di masa lalu, akan
merasakan pengalaman psikologis dalam perkembangan
kesadaran mereka. Sehingga dengan begitu, mereka yang
tadinya terlalu radikal akan jadi moderat.

Saya bisa contohkan kasus Abdul Kadir Barajah. Tadinya
kita mengenal dia sebagai pengeboman Borobudur. Ketika
divonis 18 tahun penjara dan menjalani masa tahanan
hampir 12 tahun, setelah keluar dia mendirikan gerakan
Khilafatul Muslimin yang lebih berorientasi kultural.
Jadi dia tetap memperjuangkan syariat Islam, tapi
dengan cara yang lebih ramah. Jadi, saya bisa katakan
bahwa mayoritas orang-orang yang dulu berpandanagan
radikal seperti Abu Bakar Ba'asir dan lain sebagainya
itu, ketika dipenjara menjadi cukup moderat atau arif.
Dalam kasus NII, saya bisa sebutkan nama Tahmid
Kartosuwiryo, kemudian almarhum Aceng Kurnia, dan
banyak lagi.

Pengalaman intropeksinya itu lebih lama, sehingga
mereka bisa menyadari sebetulnya di mana kesalahannya.
Hanya saja, dulu Abu Bakar Ba'syir kabur ke Malaysia
dan tidak berani menghadapi pengadilan dan
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Itu memang hak
dia. Tapi saya memilih strategi pencerahan, melakukan
kajian, dan diskusi tentang Islam politik. Dengan
begitu, tafsiran tunggal yang monopoli kebenaran
tentang negara Islam yang selama ini didomonasi oleh
kelompok-kelompok ekstrim tersebut, mendapat
pembanding. Ternyata, kalau kita kaji literatur
literatur klasik Islam, banyak sekali sikap moderat
dalam memandang hubungan Islam dan negara. Tapi karena
selama ini tidak ada pembanding, orang-orang yang
sebelumnya tidak mengenal Islam itu jadi terkesima.
Saya dulu juga orang yang seperti itu.

*Menurut Anda, apa perbedaan antara kelompok-kelompok
radikal Islam radikal saat ini dengan Anda dulunya?

**Ada satu hal mendasar yang saya lihat. Kalau dulu,
munculnya radikalisasi dari kalangan Islam itu karena
adanya tindakan represif dari penguasa. Jadi kita
berbeda pendapat sedikit saja sudah ditahan,
diintrogasi, dan disiksa. Kita nggak bisa bebas.
Khatib-khatib Jumat, kalau dulu mau berkhutbah,
bahannya harus diperika dulu oleh Laksusda Jaya dan
Bakorkanas seminggu sebelumnya. Tapi sekarang, saya
melihat kekerasan itu justru terjadi secara
horisontal, bukan untuk melawan kesemena-menaan, dan
hanya untuk pemaksaan pendapat. Jadi ada keinginan
untuk memonopoli dan kalau ada orang yang tidak
sependapat dengan dia, dilakukanlah berbagai tindak
intimidasi, stigmatisasi, dan teror.

Itulah yang membedakan keduanya. Karena itu, untuk
yang saat ini, saya tidak melihat adanya alasan bagi
mereka untuk bertindak. Terhadap pelacur dipukuli; apa
alasannya? Saya yakin, tidak ada orang yang ingin
menjadi pelacur. Jadi harus dilihat persoalannya itu
apa sebenarnya.

*Jadi proses radikalisasi itu dulunya untuk melawan
represi, sementara kini untuk melakukan represi?

**Ya, karena itu kini tidak ada alasan rasional untuk
ada. Tapi anehnya, terhadap kelompok yang melakukan
anarkisme itu, tidak ada penekanan yang memadai dari
aparat. Saya tidak melihat aparat melakukan itu pada
Muhammad Riziq Shihab, misalnya. Seharusnya, dia
bersyukur dengan kondisi saat ini. Dulu kita
memperjuangkan dan menyosialisasikan wacana Islam dan
bicara soal negara Islam saja sudah dipenjara. M.
Irfan Awas itu dulu pernah menerbitkan buletin Risalah
lalu kalau tidak salah, dipenjara 7 tahun. Itu hanya
karena dia mau menerbitkan buletin yang
menyosialisasikan wacana negara Islam.

Nah, sekarang kan dengan bebasnya kita bisa berdiskusi
dan berwacana. Kondisi ini harus kita syukuri, dan
untuk itu, tawarkanlah ide-ide negara Islam dengan
cara yang ramah. Biarlah masyarakat yang menentukan
mau menerima atau tidak. Bukan dengan pemaksaan
seperti yang terjadi sekarang ini.

*Beberapa individu yang sempat seideologi dengan Anda
juga dipenjara, tapi setelah keluar tetap tak berubah.
Apa yang membedakan orang seperti Irfan Awwas itu
misalnya, dengan Anda?

**Irfan Awwas itu dipenjara di Nusakambangan, sebuah
daerah terisolir. Jadi pergaulan dia dengan
kelompok-kelompok politik yang lain sangat terbatas.
Sehingga dia tidak punya kesempatan untuk bergaul
dengan orang lain, seperti tahanan politik dari
berbagai latar belakang ideologi. Tapi memang ada juga
yang pernah sama-sama di Cipinang dengan saya, tapi
kini tetap ekstrem. Saya ingin contohkan Abu Fatih
yang sekarang menjadi ketua Mantiqi II Jamaah
Islamiyah yang sedang dicari-cari. Namanya dulu
dikenal sebagai Abdullah Mansyuri. Tapi saya melihat,
memang sejak dulu dia tidak mau bergaul dengan orang
lain. Dia tetap memelihara sikap ogahnya.

Dulu saya ingat, pernah ada bantuan dari kelompok
Gereja. Dia begitu takut bantuan itu akan membahayakan
akidah. Pasti mereka ingin mengkristenkan kita,
pikirnya. Padahal, kalau dia sudah yakin dengan
ideologi Islamnya, kenapa mesti takut akan
dikristenkan? Dia sampai membakar baju yang diberikan
pihak gereja. Jadi memang ada sikap-sikap yang tidak
mau bergaul sejak dulu. Mungkin itu pilihan dia. Saya
kira itu di antara beberapa faktor yang penting. []

NII di Malaysia, NII di Indonesia

Berikut ialah komentar dari sahabat Indonesia yang mengungkap doktrin, gerak kerja NII (sila hati-hati membuat kesimpulan);

NII @blogger (1)

NII @blogger (2)

NII @ blogger (3)

NII chat

"Negara Islam"

sumber

Assalamualaikum...saya tak pasti sama ada topik ni telah dikeluarkan ke belum..last week saya berkursus di Bangi...and lepak kat umah member. tetiba dia bukak topik tentang hijrah..satu kumpulan yg bergiat aktif utk menubuhkan negara islam..korang masih ingat tak kisah maahad az-zaytun di indonesia yg org2 profesional malaysia ni sibuk hantar anak belajar agama ke sana. rasanya ade cawangannya di shah alam..berbalik pada topik ini..kumpulan ini terdiri drpd golongan profesional yg menyamar menggunakan pelbagai nama utk mengelirukan org ramai..golongan sasaran juga adalah golongan cerdik pandai spt pelajar uni., pegawai2 kerajaan, engineer dll yg tak berapa jelas tentang islam..mereka akan dibawa ke sebuah tempat utk ditanya background mereka terutama psl agama..kena isi borang pendaftaran...member saya tu cakap mula2 mereka ckp nak pegi kelas tafsir...golongan ini ckp tak pyh baca quran, baca tafsir pun ok...modus operandi menggunakan pelbagai modul depends pada knowledge agama seseorg...setiap kali kelas kene bagi sumbangan kononnya utk bersihkan jiwa...berkorban utk agama Allah..kalau sumbangan kita tu ckit, dia akan ckp sahabat nabi dulu korban semua harta yg dia ada...then, slps beberapa kali kelas 'tafsir', mereka dikehendaki buat hijrah ke 'negara islam' impian diaorg...nak p hijrah tu sumbangan mesti plng kurang rm3500...kena tutup mata ms hijrah tu...kumpulan ni sedang hebat beroperasi di serdang, kalau tak silap serdang jaya and bandar baru bangi..banyakla penyelewengan diaorg ni cthnya mereka dakwa sesiapa yg dah msk group diaorg ni masing2 adalah rasul dan mesti berdakwah utk ajak org lain turut serta. takde halangan bercampur lelaki and perempuan...dan semua mesti patuh pada arahan ketua. baru2 ni katanya dah digalakkan berkahwin sesama ahli kumpulan...nauzubillah...mcm2 kes umat akhir zaman..just nak share perkara ni ngan korang sumer sbg renungan dan peringatan kite bersama...sebar2kanla kpd kawan2 yg lain..jgn ter'join' kumpulan yang sesat ni...kepada sesapa yg ade kabel kuat bhgn penguatkuasaan agama dipersilakan ajukan perkara ini ke pihak atasan..tolonglah...kumpulan ni dah beroperasi lbh kurang 5 tahun dan ahli mereka semakin ramai...maas salamah...harap boleh diforumkan...wassalam