Wednesday, September 26, 2007

Pekerjaan Orang-orang Kaslan

source

Ini Dicky lagi,
Saya telah enam tahun tanpa henti bergerak untuk mempersempit ruang gerak NII KW9. Saya juga mantan mas’ul. Dilihat dari animo di blog ini, bisakah kiranya, para mantan mas’ul, mantan jamaah dan semua orang yang perduli dan berani melawan NII KW9 untuk berkumpul bersama dan merancang gerakan paripurna yang akan menuntaskan NII KW9. karena sejauh ini, saya keteteran menerima banyaknya kasus yang harus saya tangani sendiri. Mungkin, bila kita bersama, akan ada pola yang lebih jelas dan menggunakan sebuah lembaga yang menjadi lawan utama NII KW9 sehingga akan lebih banyak orang yang tertolong. Saya sekarang sedang berkumpul dengan mantan mas’ul, timbara-garda al zaytun dan beberapa menteri NII KW9 yang telah keluar akibat perseteruan dan dekrit Abu Toto tanggal 15 September 2001. Saya berharap perjuangan ini tidak berjalan parsial tanpa pola. Sementara mereka menggunakan pola yang sangat sistematis. Rapatkan barisan. BIla anda semua siap melakukan ini, kita atur bersama. Termasuk teman-teman yang sudah keluar juga di Jawa barat Utara, jawa Barat selatan, jawa tengah dan jawa timur.

"The Kaslanis"




source

Kepada Semuanya,
Bagi yang sudah melewati jalan terjal dan berlikunya NII KW9, jangan pernah hilangkan semangatnya. Bila ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang masih aktif didalam, lakukan dengan cara yang baik. Bila ingin menyampaikan kepada kawan-kawan diluar yang belum dan kalau bisa jangan sampe kenal NII KW9, lakukan dengan seluas-luasnya. Lakukan bersama secara serentak. Setiap orang menyampaikan ke sepuluh orang setiap minggunya, sepuluh untuk satu hari kalau bisa. Ya, seperti dulu DK (Daftar Kunjungan) dan CT (Calon Tilawah) lah. Jadi, tidak perlu lelah dengan kata-kataan. Lakukan dengan aksi. Bukankan tindakan lebih besar nilainya dari kata-kata?. Bila anda perduli dengan teman-teman yang masih diluar dan yang didalam, lakukan langkah-langkah sosialisasi sebanyak dan seluasnya. Semakin sempit gerakan mereka, akan semakin muncul tindakan-tindakan putus asa yang terus memperlihatkan keburukan mereka. Lihat saja nanti. Semakin sempit ruang gerak mereka, akan semakin banyak masalah yang mereka hadapi. Semakin banyak orang tua yang tau, maka semakin banyak umat yang “amnu” dan otomatis memusingkan mereka. Jadi, kita bikin aja mereka terus ngga aman. Sosialisasi meluas, penggerebekan kalau perlu dan penanganan orang yang telah masuk. Percaya deh, kelabakan ntar mereka. Lama-lama juga pada kaslan sendiri. Saya cuma ingat kata Munir untuk mendeskripsikan pola saya, LAWAN!!

Saya sendiri melakukan pola diatas dengan teman-teman yang sudah keluar, setiap hari. dan telah berhasil menyadarkan banyak orang, Insya Allah. Dan hal ini terus dilakukan dengan sistem getok tular.

Untuk Rian, kebetulan saya juga sedang menangani kasus-kasus di 932204. Sudah lumayan yang kaslan. Saya lagi nangani tiga Qobilah itu, Frotila, Karatekan dan resimen. Banyaknya dari mahasiswa FIB UI, FEUI, FKUI, BINUS, YAI, TRISAKTI ma LONDON SCHOOL.

Kalau teman-teman mau nyikat, hajar dari NII KW9 yang kodenya 9322(1-12). Mereka pendana terbesar untuk NII. Bayangkan, untuk desa 9322-10 aja, infaknya 93.000.000 sebulan.

Monday, September 24, 2007

Decieved

source

Deception

The problem with deception is that you don't know that you've been deceived.
In retrospect, finding out is actually a good thing ... even if it's hard to believe at the time


(Gerakan Pemuda Al Kahfi) Deviant sect with strange induction under probe

www.nst.com.my

09 Jan 2007
Neville SpykermanThis email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it

SHAH ALAM: A movement targeting young Muslim professionals and executives is being monitored by the Selangor Religious Affairs Department (JAIS).

The department’s public relations officer Fakrul Azam Yahya said the movement was secretive and had strange induction methods.

He said new members of Gerakan Pemuda Al Kahfi have to pay RM1,000 to join and must agree to wear a blindfold before being taken to a secret location for their initiation.

He said they are subjected to "counselling" by senior members and the group utilises its own scriptures.

He said since the group moved around a lot, the department has found it difficult to track it down.

He said there were suspicions that the group may have links to deviant movements in Indonesia.

The department has to date received numerous complaints about the group but investigations were hindered by the group’s movements and the lack of information.

Fakrul Azam said Al Kahfi was first detected by Angkatan Belia Islam Malaysia (Abim) at the end of 2004, but since then the movement has grown stronger in Selangor.

However, hard evidence was needed before a fatwa (declaration) could be issued against the group. JAIS is appealing to disgruntled ex-members to come forward to help the department.

"We are especially keen to obtain a copy of their scriptures as it will allow us to scrutinise the roots of its deviant teachings. We heard it contains matters such as wahyu (divine revelations), for members," he said.

Fakrul Azam urged those with information about the group to call 03-5519-6997.

Yesterday, JAIS gave a briefing for representatives of Muslim organisations, NGOs and enforcement agencies in Selangor on Rufaqa, a group which is accused of being a front for the banned Al-Arqam movement.

*image taken from here

Thursday, September 20, 2007

Negara Islam Indonesia

sumber

Assalaamu'alaikum. Wr. Wb.

Saya ucapkan terimakasih kepada Ustadz yang telah menjawab pertanyaan saya tentang ajakan bersyahadat lagi... Saya ada beberapa pertanyaan lain:

  1. Sebenarnya siapakah Negara Islam Indonesia itu?
  2. Apakah saat ini gerakan itu masih ada, dan benarkah mereka sesat?
  3. Jika sekarang masih ada, kira-kira bagaimana ciri-ciri proses perekrutan mereka? Apakah melalui proses bersyahadat?

Terimakasih atas tanggapan Ustadz...

Wassalaamu'alaikum wr. Wb.

A.d.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

NII atau Negara Islam Indonesia adalah sebuah gerakan politik yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Berawal dari kelompok TNI yang menyempal di bawah komando Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo. Awalnya hanya ketidak-puasan politik di kalangan tentara, tetapi kemudian berkembang menjadi doktrin aqidah tersendiri dan eksklusif.

Kasus-kasus seperti ini memang bukan yang pertama terjadi. Konflik berdarah syiah sunni sekarang ini, awalnya dahulu hanya berangkat dari ketidak-puasan di bidang politik, tetapi entah bagaimana kemudian berkembang menjadi aliran aqidah tersendiri.

Secara resmi NII dan TII sudah ditumpas habis dan tidak punya kekuatan apa pun. Namun secara spirit, banyak kelompok sempalan yang hari ini masih mengaku-ngaku sebagai 'titisan' dari NII. Sayangnya, jumlah kelompok ini banyak sekali dan beragam. Bahkan banyak yang malah sudah ditunggangi oleh kekuatan politik tertentu untuk sekedar menjadi boneka, tentu dengan maksud-maksud tertentu.

Ibarat sebuah kapal besar pecah menabrak karang, masing-masing penumpangnya mencari selamat masing-masing dengan menumpang sekoci-sekoci kecil. Tetapi kemudian sekoci-sekoci itu masih berpencar dan masing-masing bertabrakan sekali lagi dengan karang, akhirnya tinggal 'perahu-perahuan' dari kertas dalam jumlah ribuan. Masing-masing mengklaim sebagai pewaris resmi dari kapal besar itu.

Kelompok yang ada sekarang ini tentu tidak pernah mengalamipenumpasanpisik secara langsung sebagaimana di zaman Karto Suwiryo, sebab mereka adalah orang-orang baru yang direkrut kemudian. Tentu dengan doktrin yang sudah diramu sedemikian rupa. Bahkan tidak sedikit di dalamnya justru orang-orang 'titipan' penguasa untuk melakukan manuver-manuver tertentu dan dalam posisi on mission.

Ciri-ciri dan Doktrin

  1. Mengembangkan sistem kerahasiaan dalam gerakan, baik struktur maupun doktrin ajaran
  2. Mengembangkan paham takfir, sehingga semua orang yang tidak ikut dalam kelompok mereka dianggap bukan orang Islam.
  3. Menghalalkan darah semua orang yang tidak ikut dalam kelopok mereka, sehingga pengeboman massal atas nyawa manusia menjadi halal.
  4. Menghalalkan hak milik dan harta semua orang, selama orang itutidak ikut kelompok mereka, karena dianggap kafir. Sehingga perampokan, perampasan, penipuan, penjambretan dan penggelapan hukumnya halal kepada siapa pun, baik kepada sesama muslim apalagi kepada orang kafir.
  5. Mewajibkan syahadat ulang dengan keyakinan bahwa tanpa itu, seseorang dikatakan belum beragama Islam.
  6. Mewajibkan bai'at kepada pimpinan yang waktu, cara dan konsekuensinya amat rahasia. Serta kewajiban untuk merahasiakan bai'at.
  7. Mewajibkan ketaatan mutlak kepada pimpinan tanpa boleh melakukan kritisi atau pengecekan kepada ulama lain.
  8. Kewajiban membayar upeti yang disebut dengan beragam istilah, baik zakat, infaq, pajak, kaffrat atau apa pun namanya.
  9. Namun terkadang malah tidak mewajibkan shalat, dengan alasan fase perjuangan mereka masih marhalah Makkah. Padahal kewajiban shalat justru sudah ada sejak awal mula turun wahyu.
  10. Menghindari kritisi dan debat dari para ulama ahli syariah secara terbuka, karena mereka tahu bahwa apa yang mereka ajarkan memang tidak punya argumen syariah. Mereka tahu bahwa mereka sesat dan menyesatkan.

Rekruitment

Tentu saja umat Islam yang punya akal dan punya bekal pemahaman agama yang lumayan, akan menolak mentah-mentah doktrin-doktrin di atas. Sehingga 'dagangan' mereka ini tidak akan laku kalau 'dijual' di tempat-tempat yang banyak ulama dan kiyai serta orang-orang yang melek syariah.

Maka asongan itu mereka dagangkan di tempat-tempat yang sepi dari ulama dan para ahli syariah. Sasaran objek rekruitmen mereka adalah orang-orang berada tapi awam dalam agama.

Sehingga dengan dicukil sepotong ayat Quran yang ditafsirkan semaunya, bahkan tanpa rujukan dari kitab-kitab yang muktamad, mulailah berjatuhan para korban. Kasihan sekali, seharusnya orang-orang itu mendapat hidayah dan ilmu yang benar, tetapi dengan aksi-aksi seperti ini, tenggelamlah mereka di dalam kubangan kejahilan.

Sebaiknya, marilah kita ketuk hati sebagian saudara kita agar kembali ke jalan yang benar. Dan marilah kita jaga agar jangan sampai ada lagi korban-korban berikutnya. Amien

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Perlukah Bersyahadat Lagi?

sumber

Assalamu 'alaikum. Wr. Wb.

Mudah-mudahan Ustadz ahmad selalu dilimpahi rahmat oleh Allah SWT.. Langsung saja ya Pak Ustadz, beberapa hari belakangan saya sedang "didekati" oleh seorang rekan dekat saya, di mana dia mengajak saya untuk bergabung dengan sebuah komunitas Islam.

Dia tidak menyebutkan siapa sebenarnya komunitas itu, akan tetapi salah satu tahap yang harus dilalui untuk tergabung dengan komunitas itu adalah harus bersyahadat. Hal ini pula yang membuat saya merasa janggal.

Saya ingin bertanya, apakah melakukan syahadat ulang untuk masuk ke dalam suatu komunitas itu dibenarkan? Jika tidak, apakah ada dalil untuk meng-counter ajakan rekan saya itu?

Jazakumullah khairan katsira

Wassalamu 'alaikumWr. Wb.

A.d.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syahadat tidak perlu kita ulang, sebab paling tidak kitasudah kita lakukan tiap hari dalam sehari semalam. Paling tidak 9 kali kita melakukan tasyahhud dalam shalat, yaitu 2 kali dalam shalat Dzhuhur, 2 kali dalam shalat Ashar, 2 kali dalam shalat Maghrib, 2 kali dalam shalat Isya' dan 1 kali dalam shalat shubuh.

Jadi syahadat yang mana lagi yang harus diucapkan?

Syahadat itudiucapkan oleh orang kafir yang masuk Islam, sebagai tanda bahwa dirinya masuk Islam. Sedangkan orang yang sejak lahir sudah muslim, baginya syahadat bukan lagi tanda masuk Islam. Melainkan untuk menguatkan keimanan, atau memperbaharuinya.

Yang perlu dikritisi dari jamaah yang anda ceritakan itu adalah pemahaman mereka tentang konsep keIslaman. Apakah dia perpikiran bahwa siapa pun orang yang tidak ikut ke dalam jamaahnya dianggap bukan orang Islam? Sehingga harus membaca syahadat lagi?

Apakah dia beranggapan bahwa kalau tidak ikut dalam jamaahnya, orang-orang lain dianggap sesat dan tidak punya status keIslaman?

Kalau memang begini cara berpikirnya, maka ketahuilah bahwa jamaah itu punya cara pemikiran takfir yang sesat. Sebab dia beranggapan bahwa semua orang yang tidak ikut jamaahnya bukan Islam.

Bukankah setiap bayi lahir itu dalam keadaan Islam? Bagaimana mungkin kita menjatuhkan vonis kafir kepada semua orang Islam, sehingga setiap ada yang mau masuk ke dalam suatu jamaah, kita wajibkan mengulang syahadat lagi?

Sejak kapan orang itu dan jamaahnya punya hak untuk memvonis orang lain masuk Islam atau tidak? Siapakah yang memberikan hak itu kepada mereka? Sebagai apakah hak itu diberikan?

Semua pertanyaan itu harus dijawab dengan landasan syariah yang kuat. Bukan sekedar memberikan klaim belaka.

Jadi silahkan anda meminta penjelasan dengan detail atas semua pertanyaan itu, sebab anda toh tidak ingin membeli kucing dalam karung, kan?

Wallahu a'lam bishshawab, wassaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Judul : Jihad Terlarang, Cerita dari Bawah Tanah

sumber

Judul : Jihad Terlarang, Cerita dari Bawah Tanah
(Kisah Nyata Mantan Aktivis Islam Garis Keras)
Penulis : Mataharitimoer
Penerbit : Kayla Pustaka, 380 hlm, Rp 44.000,-

Dapatkan di toko buku online: www.benggala.com, www.kaylapustaka.com,
www.nunpublisher.com, www.bismikabooks.com. Pemesananan langsung bisa
menghubungi Bapak Dadan: 021-68133999

Kisah dalam buku ini didasarkan pada pengalaman nyata penulisnya,
Mataharitimoer, seorang mantan aktivis NII (Negara Islam Indonesia)
yang "bertobat". Selama 10 tahun ia hidup di "bawah-tanah", berkelana
dari kota ke kota, demi mewujudkan cita-cita mendirikan negara yang
berdasarkan syariat Islam di Indonesia, dengan cara-cara yang kurang
lazim dan asosial.

Penulis mewujudkan dirinya sebagai seorang remaja beranjak dewasa
bernama Royan. Ia menyimpan dendam pada Tuhan dan tentara, yang
merenggut nyawa bapaknya pada Peristiwa Tanjung Priok, 1984. Pada
tahun 1988, ia bergabung dengan pergerakan Islam underground, yang
ingin mendirikan Negara Islam dan menggulingkan rezim yang dianggap
thagut alias setan. Muslim yang tidak mengikrarkan syahadatnya
kembali, dituding kafir.

Sejak bergabung dalam pergerakan, ia hidup bergerilya, berkelit dari
incaran, gerebekan, dan penculikan intelijen. Di tengah-tengah
perjuangan antara hidup dan mati, ia justru menyaksikan banyak
kezaliman di tubuh pergerakan. Ia tak sepakat dengan sikap ketaatan
jamaah yang berlebihan kepada pemimpinnya. Ia menentang larangan
pemimpin bagi para kadernya untuk jatuh cinta dan memilih pasangan
mereka sendiri. Kalaupun menikah, itu harus dengan persetujuan atasan,
dan wajib membayar infak yang jumlahnya sering tak sanggup ditanggung
oleh para kadernya.

Royan pun tak setuju jika jamaah "dipaksa" mencari infak dengan
berbagai cara asal disetor 100% kepada pemimpin pergerakan. Ia
menentang sikap jamaah yang suka menganggap harta yang dimiliki
masyarakat boleh dirampas karena alasan fa'i (rampasan perang).
Pergerakan menganggap, masyarakat negeri ini masih hidup dalam
kekafiran, sehingga merampok harta mereka adalah tindakan halal.

Abu Qital, Abu Shoffan, dan Imam—atasan-atasan Royan—mencoba
membungkamnya dengan fitnah, teror, penculikan, bahkan uang sogokan.
Pengalaman-pengalaman traumatis itu membuat Royan "tersadar" dan
segera keluar dari pergerakan yang selama ini dianggapnya sebagai
kebenaran tunggal. Ia berjalan sendiri dalam kesunyian, dan mulai
mencari makna sejati jihad dan kebenaran ...


TESTIMONI

Novel ini menarik karena dua alasan. Pertama, alur ceritanya diangkat
dari pengalaman aktual dalam sebuah dunia yang penuh misteri, ganas,
eksklusif, mengatasnamakan Tuhan—sebuah perbuatan yang berlawanan
dengan seluruh ruh Alquran tentang cara damai dan beradab dalam
mencapai sebuah tujuan. Kedua, menempuh jalan kekerasan dalam
pengalaman politik Indonesia ujung-ujungnya hanya satu: malapetaka.
—Ahmad Syafii Maarif, Sesepuh Muhammadiyah

Makna jihad yang sering dipahami dengan salah kaprah oleh banyak orang
dibongkar dengan unik oleh Mataharitimoer .
—Enison Sinaro, Sutradara Film Bom Bali Long Road To Heaven

Buku ini tidak saja mengisahkan perjalanan hidup namun juga pergulatan
mencari makna kehidupan yang berkarakter diametral penuh konfrontasi
dan jamak dari penulisnya. Saya pikir ia telah menemukan dirinya
kembali walaupun tidak pernah sama lagi dengan dirinya yang dulu.
—Nurul Arifin, Artis Indonesia

Sangat bagus! Mengupas ijtihad seorang anak manusia dalam sebuah misi
jihad, namun pada akhirnya ia sendiri meragukan jalan yang
ditempuhnya. Baru kali ini ada sebuah buku yang memaparkan kehidupan
seorang manusia yang sangat tersembunyi.
—Alchaidar, Mantan Aktivis NII

Novel ini membuka tabir sebuah gerakan yang mengklaim kebenaran hanya
ada di pihaknya. Sungguh menggugah!
—Herry Muhammad, GATRA

Mataharitimoer hanyalah sebuah noktah di gunung es: betapa
ketidakadilan global kuasa membangkitkan kerikil terpendam yang
selanjutnya menjadi batu sandungan global.
—Prof. Dr. Ahmad Mubarok, M.A., Guru Besar Psikologi Islam

Menukik tajam! Layak dibaca oleh para pemerhati kebijakan politik
nasional dan internasional, terkait isu jihad dan terorisme.
—Zaki Amrullah, Radio Berita Jerman Deutsche Welle

Penculikan ternyata tidak hanya dilakukan oleh Densus 88, tapi juga
oleh kelompok yang bersaing dalam satu tubuh gerakan yang awalnya
sama. Apakah itu yang dimaksud "Jihad Terlarang"? Membaca buku ini
akan menambah wawasan bagaimana serunya pergolakan dalam sebuah
harakah (gerakan).
—Fauzan Al-Anshari, Juru Bicara Majelis Mujahidin Indonesia

Novel yang untuk pertama kalinya mengilustrasikan Islam underground
dengan jujur. Latar belakang si penulis yang pernah bersentuhan
langsung dengan gerakan bawah-tanah membuat kisah di dalamnya begitu
hidup dan nyata. Sebuah referensi penting untuk memahami satu dimensi
dari Gerakan Islam di Indonesia.
—Siska Widyawati, JIJI Press

Akhirnya, ada juga orang yang berani menulis novel tentang pergerakan
Islam garis keras dalam rangka mendirikan Negara Islam. Selama ini,
mereka yang terlibat hanya berani mengungkapkan bisik-bisik belaka.
Sangat inspiratif sekaligus mengejutkan.
—Wahyudin Fahmi, Koran Tempo

Realitas kemelaratan dan ketidakadilan cenderung menumbuhkan perilaku
kekerasan. Novel ini sangat inspiring bagi kita untuk segera
merumuskan makna "jihad" yang halal tapi konstruktif, tanpa diracuni
oleh pemahaman Barat tentang terorisme dan jihad.
—Faisal Haq, Majalah Gontor

Sangat menarik! Sayang kalau buku ini hanya dinikmati kovernya saja ….
—Herawatmo, Rakyat Merdeka Online

Karya-karya Mataharitimoer telah dibaca oleh banyak penggemarnya. Ia
telah memberikan inspirasi dan motivasi pada jutaan orang lainnya.
—Yudhi Aprianto, sarikata.com

Menyingkap rahasia gerakan Islam militan di Indoensia, yang selama ini
masih terkubur dalam ribuan kabar burung yang simpang siur.
—Ade Tri Marganingsih, Matabaca

Thursday, September 13, 2007

NII Asal, Al Quran dan Hadith

source


Leaving the "Islamic State of Indonesia": An interview with Mataharitimoer

By Ayu Arman, Common Ground News Service

Jakarta – After more than ten years of hiding after leaving the Negara Islam Indonesia (NII) or Islamic State of Indonesia movement, Mataharitimoer has re-emerged with a surprising autobiography, Forbidden Jihad, a Story from the Underground. In the following interview, Eddy Prayitno, a.k.a. Mataharitimoer, describes the NII's vision and methods for implementing Islamic law.

AA: Your book's title, Forbidden Jihad, compelled many people to read the book, especially in this era of global terrorism, when the word "jihad" is associated with "terrorism." What do you mean by this title?

Mataharitimoer: The word "jihad" described what the NII's members call Jihad fi Sabilillah, a fight to enforce the law of God in the form of an Islamic country. However bad others perceptions might be towards them, they still state that they are conducting jihad in the Way of God. Their jihad is to turn Indonesia into an Islamic country. And because the NII has threatened the stability of the state, it has become "forbidden".

AA: What drove you to write the novel?

M: According to the NII, if one leaves the organization, he has become an apostate, although he might still consider himself a practicing Muslim. When I left the NII, my friends were wondering why I apostated (murtad) when I had a bright career in the movement. My answer to them was: "I promise that when the time comes, I will write a book that explains why I have had to leave this Islamic movement." It is that promise that drove me to write Forbidden Jihad.

AA: In Forbidden Jihad, you said you're still dealing with the trauma from the violence practiced by NII members. Was it vengeance that compelled you to write?

Mataharitimoer: If I still felt vengeance, I would do a lot more than just write a novel. I would reveal their secrets and divulge the whereabouts of the NII leaders. But I haven't done that. As for dealing with the trauma, frankly speaking, I am still traumatised today by the movement's violent methods. I have been terrorised, slandered, beaten, caged and even bribed by the NII in order to prevent me from leaving.

AA: What is the real vision and mission of NII?

Mataharitimoer: Its real vision is a country based on Islam where the highest law is the Qur'an and hadith. In 1949, Indonesia had no government as a result of the Renville Agreement [a Dutch-Indonesian accord which aimed to resolve unsettled disputes from a previous settlement]. The vision and mission of the NII, as stated by Imam Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo at that time seemed ideal to me. His vision of an Islamic country was inspired by the Medina Charter, inaugurated by Muhammad (SAW). During the time of the Prophet, Medina was a just state for Muslims, Jews, Christians and anyone else who lived there.

AA: How has the NII deviated today from Kartosuwirjo's vision?

Mataharitimoer: The most principle deviation is that they do many things to harm the image of Islam. They think that only their group is representative of the truth and Islam. They hardly accept criticism and rely more on violence than dialogue to spread their message. This runs contrary to Islam as a religion that aims to spread love to the world (rahmatan lil 'alamin).

AA: Is the concept of an Islamic country compatible with democracy?

Mataharitimoer: Islam cannot be compared with democracy because democracy is only a tiny part of the people-government interaction. Democracy is only one of many solutions for countries led by an authoritative leader. It can be in line with Islam, but it doesn't mean Islam is democratic. Islam appreciates and guarantees plurality and the needs of people, but it doesn't accept people as the source of truth, which could lead to totalitarianism in the name of people's will.

AA: If the concept of an Islamic country is good, true, ideal and can be applied, should we export it just like the West "exports" democracy?

Mataharitimoer: Islam is a religion that is open to innovation. Islam can accept the concept of Western democracy with several alterations. The question then arises, is the West willing to open up and "import" Islam? I think the ideal situation is that regardless of who we are, and despite our ideological differences, we should try to walk hand in hand, instead of humiliating each other. In Surah Al-Hujurat in the Qur'an, it is written that God has created different genders, ethnicities, races and nations so that human beings would acknowledge and respect each other, not divide and fight one another.

AA: Can't democracy bring justice and peace to the world?

Mataharitimoer: Whatever it is, democracy, theocracy, or nomocracy, success depends on the honesty and kind-heartedness of human beings. Regarding the concept of an Islamic country itself, are justice, equality, brotherhood and wealth guaranteed? Which country can provide that guarantee?

AA: Aren't you afraid you might be terrorised, kidnapped, or even murdered as a result of writing this novel?

Mataharitimoer: I don't know whether these things will happen to me or not. I only hope groups such as the NII are wiser towards critics now. If they become annoyed, however, I realize the risks I have to face. Life is a choice, and every choice has its risks.