Sunday, November 11, 2007

NII KW 9 - Tak akan terperuk dan morphologi pecahan NII KW IX

klik sini[mel list anti NII KW IX

Milist ini merupakan sarana untuk saling silang kabar tentang maraknya korban NII KW9 di dekitar kita. Juga, sebagai sarana informasi gerakan melawan aliran sesat NII KW9.

Aliansi Mahasiswa Anti NII KW9
Merupakan gerakan perlawanan terhadap NII KW9 yang telah banyak memakan korban dari kalangan ummat Islam. Gerakan NII KW9 telah sangat meresahkan di kalangan pemuda, pelajar, mahasiswa Islam.

Saatnya untuk peduli!
Dengan geraknya yang sangat massif, NII KW9 bisa mengenai siapa saja. Selamatkan sahabat, rekan, keluarga kita.
Sejumlah aliran sesat yang sedang marak disorot media seperti, Alquran Suci, Alhaq, dan Alqiyadah AlIslamiyah mempunyai karakteristik doktrin dan gerakan yang sama, dan dibidani oleh para 'alumni' NII KW9.

Doktrin2 NII KW9:
1. Memandang Kafir siapa pun yang di luar anggota mereka
2. Mengeksploitasi anggota (korban) dengan keharusan merekrut anggota baru dan pengumpulan dana, dengan menghalalkan segala cara.
3. Dan banyak lainnya.

Salam.

Saturday, October 20, 2007

Al Quran suci

source

BEBERAPA hari menjelang Lebaran lalu, selepas sahur, ponsel istri saya bergetar. Maklum disetel kondisi getar, biar tidak ribut. Setelah bercakap sejenak, Bu Eri memberikan SE W200i itu kepada saya. "Dari Asep Rohman katanya," ujar Bu Eri.

Saya berpikir sejenak. "Asep Rohman? Oh, itu teman SMP dulu," kata saya sambil mengambil ponsel. "Assalamualaikum, Halo Sep. Wah gimana kabarnya nih. Kok tahu nomor hp istri saya," tanya saya. "Ini dapat dari teman, Jumadi, anak radio AR," jawab Asep.

Dan di waktu subuh itu terjadilah percakapan cukup panjang. Maklum kami sudah tidak bertemu selama 20 tahun. Kami sama-sama sekelas di kelas 2C SMP Negeri 3 Cimahi. Itu tahun 1987. Setiap minggu, kami selalu main bulutangkis atau main basket di Pusdikhub. Kalau tidak pagi, ya sore-sore. Waktu itu saya lagi hobi bulutangkis, dan lumayan juga lah smashnya seperti Liem Swie King, idola saya (he he maunya...).
Ternyata Asep bekerja di PT POS Cianjur. "Wah nerusin jejak bapak dong," kata saya. "Iya, saya kan sempat ngesms ke hotline tribun, nah itu lagi di sawangan," jawab dia. "Atuh udah jadi pejabat yah?" "Lumayan lah..." jawab Asep lagi.

Lalu obrolan pun berpindah topik secara tiba-tiba. "Tahu aliran sesat yang kemarin rame di koran, apa itu namanya Al Qur'an Suci? tanya Asep. "Oh iya tahu, teman saya yang meliput," jawab saya. "Saya tahu itu muaranya ke mana, pasti ke NII," kata dia lagi mantap.

"NII? Kok tahu, memang darimana bisa menyimpulkan kalau itu NII," tanya saya. "Ya karena saya pernah ikut jemaah sesat itu beberapa tahun yang lalu dan ujung-ujungnya ke NII. Saya pernah dibaiat mereka. Waktu keluar, wah diteror habis. Dan saya tahu bagaimana modus mereka bergerak. Makanya sebenarnya saya nelepon kamu itu ingin cerita soal ini. Ya sekalian ketemu lah, udah lama kan tidak ketemu," papar Asep.

Tentu otak saya langsung ting teng ting teng. "Ini sih berita, tapi gimana caranya supaya dapat cerita itu," pikir saya. "Gini saja Sep, saya kan sulit untuk ke Cianjur. Sementara teman saya yang bertugas di Cianjur sedang cuti. Gimana kalau sehabis Lebaran, teman saya di Cianjur itu mengontak Asep terus wawancara. Soalnya koran udah mau libur, sehabis lebaran baru terbit lagi," kata saya. "Oke deh kalau gitu, saya tunggu. Salam buat keluarga yah," kata Asep sambil menutup telepon.

Al Qur'an Suci. Kata itu terus terngiang di kepala saya. Beberapa hari sebelumnya, teman saya memberitakan soal Achriani Yulvie, mahasiswi Poltek Pajajaran yang menghilang tak tentu rimba. Belakangan diketahui, Yulvie ini sering ikut pengajian kelompok tertentu dan salah satu ajarannya adalah tidak mengakui hadits Nabi. Selain Yulvie, Fitriyanti, temannya juga ikut menghilang sampai sekarang. Pamit ikut pesantren, raib entah kemana.

Dari catatan harian Fitriyanti diketahui, mereka adalah sebuah kelompok yang membedakan antara orang-orang yang Haq dan Batil. Yang Haq adalah yang ikut kelompok mereka, sementara yang Batil, yaitu mereka yang salat, naik haji, dll, digambarkan bakal masuk neraka Jahanam.

Diari itu juga mengungkapkan bagaimana cara seseorang "kader" mendekati calon (dalam diari ditulis CT). Sampai bagaimana cara bersikap dan ngobrol pun dituliskan. Istilah lain untuk orang yang sedang ditatar itu adalah Tilawah-an, seperti tertulis di diari. Lalu terungkap pula pengakuan dari teman-teman dekat Fitriyanti bahwa mereka juga sempat diajak Yulvie untuk hijrah dengan syarat membayar uang Rp 500 ribu.

Sejak semula saya memang sudah curiga, kelompok ini terkait atau masih satu rantai dengan Negara Islam Indonesia, NII, atau N11. Istilah yang dipakai dalam diari itu, seperti CT, Tilawah, adalah istilah-istilah yang biasa NII pakai. Lalu lebih kuat lagi dengan adanya unsur uang saat hijrah.

Friday, October 19, 2007

Hilang akibat terjebak Quran suci

source

Ikut Aliran Alquran Suci
Cari Ahriani & Fitriyanti, Polisi Sebar Foto
Cetak E-mail

BANDUNG – Jajaran Kepolisian Wilayah Besar (Polwiltabes) Bandung terus melakukan upaya keras mencari keberadaan Ahriani Yulvie (19) dan Fitriyanti (19), dua korban hilang akibat ikut aliran Alquran Suci. Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya namun tetap menemukan kendala besar.

“Permasalahan ini masih dalam proses penyelidikan dan pendalaman kasus. Kita menelusuri masalah ini dari awal yaitu kronologis,” kata Kapolwiltabes Bandung Kombes Pol Bambang Suparsono ketika dihubungi di Bandung, Senin (8/10/2007).

Bambang menjelaskan, ada beberapa kendala dalam menindaklanjuti masalah ini, yaitu kurangnya informasi dari keluarga. Karena kasusnya orang hilang, maka sulit melacak keberadaannya, termasuk info yang diperoleh dari keluarga.

“Keluarga pun nggak tahu kemana perginya. Jadi, kita hanya modal keterangan seperlunya dan foto,” imbuh Bambang.

Salah satu yang dilakukan Bambang adalah menyebarkan foto ke polsek-polsek di seluruh Bandung dan berkoordinasi dengan Polres se-Jabar.

“Kami juga terus mengorek keterangan saksi,” paparnya

Dituduh terkait intelejen

source

l Quran Suci Bagian Rekayasa Intelijen Cetak E-mail
Lutfi Dwi Pujiastuti - Okezone

JAKARTA- Aliran Alquran Suci memiliki modus sama dengan NII, yang diduga kuat buatan pemerintah. Aliran ini juga merupakan bagian dari rekayasa intelijen dan merupakan bagian dari kegiatan pemerintah yang legal, untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka.

“Aliran-aliran sesat ini termasuk Alquran Suci merupakan rekayasa intelijen, mungkin bisa dikonfirmasi ke pejabat intelijen. Pemerintah sengaja membentuk ini untuk memecah nasionalisme Indonesia dan mengambil jalur Islam,” ujar Dosen Universitas Malikul Saleh, Lhoksemauwe, Al Chaidar yang juga mantan pengikut aliran Negara Islam Indonesia (NII) pada okezone, Sabtu (6/10/2007).

Menurutnya, ajaran aliran baru Alquran Suci ini mirip sekali dengan NII yang tidak mengakui adanya hadist hingga sunah-sunah rasul. Selain itu, kedua aliran itu sama-sama mewajibkan infak sebagai kewajiban utama.

“Bagi mereka salat bukanlah kewajiban, puasa belum saatnya, haji belum saatnya yang ada kewajiban syahadat saja,” jelasnya lagi.

Bagi Al Chaidar percuma jika sang korban melaporkan hal ini pada pihak kepolisian untuk menanganinya. Sebab, lembaga penegak hukum justru telah melakukan kongkalikong agar jaringan yang telah tertata apik ini tidak terbongkar.

“Percuma lapor polisi tidak akan selesai masalahnya. Para korban cuma bisa disadarkan dengan rasionalistis. Mereka harus disadarkan oleh orang-orang yang pernah juga ikut dalam aliran itu. Para korban harus berani menggertak,” katanya.

Ia juga mengatakan kebanyakan dana nonbudgeter pada pemerintah diperoleh dari hasil pemasukan infak para korban, yang diwajibkan memberikan setoran sebesar Rp.3 juta/orang tiap bulannya.

“Kebanyakan uang itu masuk sebagai dana nonbudgeter yang digunakan oleh oknum untuk menjalankan program-program pemerintah itu. Jadi, ini memang suatu program yang sengaja dibentuk pemerintah” tandasnya lagi.

Gerakan "Quran Suci", kesamaannya dengan NII KW IX?

source

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.


Keselamatan atas mereka yang mengikuti petunjuk.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Qs. 5 al-Maaidah ayat 3)

Ayat diatas merupakan suatu dalil naqly yang bersifat pasti tentang kesempurnaan ajaran Islam yang sudah diturunkan kepada manusia melalui Rasulullah Muhammad SAW. Dengan adanya pernyataan tersebut maka segala bentuk perbuatan, lebih-lebih yang berorientasikan kepada peribadahan vertikal kepada Allah haruslah sesuai dengan apa yang sudah ditentukan didalam kitab suci al-Qur'an itu sendiri.

Tidak ada lagi penyempurnaan-penyempurnaan yang harus dilakukan terhadap agama ini oleh siapapun dan dimasa kapanpun juga setelah hari dimana ayat tersebut diatas turun. Tidak ada kecacatan maupun kekurangan dari Islam yang dibawa oleh Muhammad sehingga memerlukan tangan-tangan diluarnya untuk menutupi kelemahan tersebut sehingga dapat membenarkan berbagai klaim kerasulan atau kenabian sesudahnya yang dilontarkan oleh banyak manusia diluar beliau SAW. Praktis karena itupula maka apa yang dinyatakan dalam surah al-Ahzaab ayat 40 tentang pernyataan Muhammad selaku Khotamannabiyyin telah terpenuhi dengan sendirinya.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-lakipun diantara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. 33 al-Ahzaab ayat 40)


Fase-fase kegelapan telah hilang dengan diutusnya Muhammad serta penyempurnaan ajaran yang dibawa olehnya.

Katakanlah : "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak akan terulangi". (Qs. 34 Sabaa' ayat 49)

Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Qs. 17 al-Israa ayat 81)


Kebenaran adalah sesuatu yang sifatnya pasti dan tidak mungkin bercampur dengan kebatilan meski sedikitpun sebagaimana kebenaran tersebut dinyatakan sendiri terhadap wahyu al-Qur'an.

Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Qs. 41 Fushishilat ayat 42)


Dengan demikian, bila ada yang dengan angkuhnya berkata bahwa dia adalah seorang utusan Tuhan yang diperintahkan untuk memurnikan ajaran Islam melalui pembatalan sejumlah hukum-hukum yang sudah ditetapkan oleh al-Qur'an melalui Muhammad Rasul Allah, tentu pernyataan yang seperti itu adalah pernyataan yang batil adanya.

Hari-hari terakhir ini semakin marak saja bermunculan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan kebenaran agama ditengah masyarakat. Bermacam-macam pola dan pemahaman yang mereka ajukan, ada yang mengekor pada gerakan-gerakan pendahulunya dan ada pula yang bersifat baru dengan mengambil baju penyatuan agama (seperti konsep Baha'i) atau liberalisme.

Pada umumnya gerakan-gerakan itu terbagi atas Mahdiyah (konsep mengenai Imam Mahdi atau Ratu Adil), Messianisme (Ratu adil dengan meminjam nama Isa al-Masih), ada pula percampuran antara Mahdiyah dan Messianisme (misalnya gerakan Ahmadiyah dan Salamullah alias Lia Eden), ada yang bersifat Prophetic (paham kenabian baru misalnya al-Qiyadah al-Islamiah alias kelompok al-Qur'an suci, gerakan Ahmadiyah Qadiyan dan sebagainya).

Isu-isu yang dilontarkan lebih banyak kepada ketimpangan sosial yang dihadapi oleh masyarakat pada setiap masanya sehingga membuat sekelompok orang beragama merasa kecewa terhadap agamanya sendiri atau lebih tepatnya lagi kepada sistem keberagamaan yang dianut serta digembar-gemborkan pada komunitas mereka.; Agama yang selama ini oleh mereka diyakini sebagai jalan keluar dari semua permasalahan dan agama yang selama ini mereka yakini mampu mendidik manusia kepada moralitas yang baik, pada praktek dilapangan justru menimbulkan kemudharatan yang dibuktikan dengan semakin menjadi-jadinya kerusakan akhlak, pertumpahan darah, penghancuran alam semesta dan lain sebagainya.

Terkadang tidak bisa disalahkan timbulnya gerakan-gerakan tersebut pada dasarnya berawal dari kebekuan (stagnanisasi) serta adanya polarisasi dalam umat Islam sendiri didalam memahami dan mengaktualkan ajaran agamanya terlebih dalam pemahaman al-Qur'annya. Jadi istilahnya gerakan ini merupakan gerakan pemberontakan.

Muhammad SAW tidak bisa disalahkan atas semua penyimpangan yang ada terhadap ajaran yang beliau bawa sama seperti Isa al-Masihpun tidak bisa dikambing hitamkan sebagai pembuat keonaran hanya karena umat sepeninggal beliau melakukan intervensi maupun distorsi terhadap risalah-risalah ilahiah yang sudah disampaikan.

Adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Qs. 5 al-Ma'idah ayat 117)


Apabila kita mundur kebelakang, maka dimasa awal Islam, perpecahan itu sendiri sudah ada sejak generasi pertama (awwalun) yang konon disebut-sebut sebagai generasi terbaik, dimulai dari timbulnya gerakan Syi'ah yang merupakan pemberontakan terhadap sikap sejumlah sahabat dalam suksesi kepemimpinan dihari wafatnya Rasulullah SAW yang dianggap sebagai bentuk penzaliman terhadap hak-hak Imamiah atau kekhalifahan para Ahli Bait Nabi dibawah kepemimpinan Ali bin Abu Thalib dan keturunannya.

Memang gerakan tersebut berhasil diredam sendiri oleh Ali bin Abu Thalib dan kedua puteranya Hasan dan Husien (dua cucunda tercinta Nabi Muhammad SAW), tetapi tidak bisa dipungkiri perselisihan yang sudah mulai terbentuk antara kubu pencinta Ahli Bait dengan kubu rezim Abu Bakar, Umar dan Usman ini adalah awal dari keberuntunan perselisihan sesudahnya.

Ketika perang antara Imam Ali sebagai khalifah umat Islam yang syah melawan pemberontakan Muawiyah bin Abu Sofyan dengan hasil akhir tahkim (perdamaian), timbullah gerakan Khawarij yang tidak puas dengan sikap sang Imam sehingga kelak pada satu subuh disuatu bulan Ramadhan, gerakan Khawarij ini berhasil membunuh Imam Ali bin Abu Thalib.

Pasca terbunuhnya suami dari puteri Rasulullah ini, maka perpecahan didalam Islam tidak lagi bisa dibendung, perpecahan yang semuanya berawal dari rasa ketidakpuasan antara satu pihak dengan pihak yang lain, pemberontakan yang muncul dari tidak terlindunginya hak-hak yang lemah dari yang kuat atau berkuasa.

Perjalanan panjang catatan perselisihan ditubuh internal Islam kemudian menurunkan berbagai macam madzhab, aliran atau sekte yang masing-masing mengklaim sebagai kebenaran. Manakala orang sudah mulai sibuk dengan sunnah, maka muncul gerakan ingkar sunnah, manakala orang berada dibawah tekanan-tekanan psikologis dan rezim yang kejam maka timbullah harapan-harapan akan kehadiran seorang pembebas, seorang ratu adil, seorang Messias, seorang Mahdi yang akan bangkit melawan semua kezaliman terhadap mereka. Akan tetapi bila kemudian disebut-sebut bahwa Islamnya yang memiliki kecacatan, jelas pernyataan tersebut masih sangat layak untuk ditinjau kembali otoritasnya.; Islam tidak salah, tetapi yang mengamalkan Islam itulah yang salah.

Karenanya tidak semua gerakan ala pemberontakan inipun secara otomatis bisa dijustifikasi secara general sebagai suatu hal yang menyimpang, meski memang tidak sedikit juga yang sangat tidak bisa dibenarkan.; Misalnya gerakan yang bisa dikatakan tidak menyimpang adalah gerakan aktualisasi model Muhammadiyah, Persis, atau juga al-Manarnya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Dimana gerakan-gerakan tersebut merupakan suatu aksi yang menuntut masyarakat Islam kembali kepada ajaran al-Qur'an yang telah dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW dan mengamalkan apa yang terdapat didalamnya secara konsekwen.

Namun manakala sebuah gerakan mengajarkan batalnya risalah sholat, batalnya risalah puasa, batalnya kepenutupan kenabian Muhammad dan lain sebagainya yang menyerupainya, maka inilah gerakan yang disebut sebagai penyimpangan.

Sejak Islam dinyatakan sempurna, maka tidak ada pembatalan dalam syariat-syariatnya dalam kondisi serta situasi seperti apapun sesudahnya sebab jika tidak demikian maka pernyataan penyempurnaan yang terkandung tersebut akan kehilangan substansinya.

Orang boleh-boleh saja mengatakan jaman sekarang adalah jaman jahiliyah atau lebih buruk daripada itu, tetapi akan sangat salah besar apabila menyebut dijaman yang berlaku sekarang ini sebagai jamannya Makkiyah dimana semua syariat agama berhenti untuk diamalkan.

Sesungguhnya kebaikan dan keburukan akan selalu ada sepanjang masa dan sepanjang kehidupan manusia itu sendiri, menjadi sebuah anekdot saja bila kita bermimpi untuk menghapuskan seluruh keburukan dimuka bumi ini, ibarat punuk merindukan bulan.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan (Qs. 91 Asy-Syams ayat 8)


Dari ayat tersebut maka harusnya kita sadar bahwa kehidupan itu sendiri identik dengan buruk dan baik, benar dan salah, gelap dan terang, hitam dan putih.; Manakala kita bermimpi untuk membuat segalanya menjadi putih, membuat segalanya menjadi benar, membuat segalanya menjadi baik maka saat itu kita sudah merubah sistem berpikir kita kepada suatu fatamorgana dimata al-Qur'an, kita sudah hendak memusnahkan nilai-nilai kehidupan yang ditentukan oleh ALLAH itu sendiri, kita sudah hendak merombak system atau sunnatullah yang diberlakukan sejak dari awal penjadian alam semesta.

Masih ingat bagaimana dahulu para Malaikat sempat bertanya kepada ALLAH tentang penciptaan manusia sebagai khalifah ?

Ingatlah, saat Tuhanmu berkata kepada para malaikat : ‘Aku bermaksud untuk menjadikan seorang khalifah dibumi !’ ; Mereka bertanya : ‘Kenapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan didalamnya dan menumpahkan darah ? ; Padahal kami selalu bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ? ; Dia menjawab : ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa saja yang tidak kamu ketahui.’ (Qs. 2 al-Baqarah : 30)


Saat Allah menyebutkan bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai Khalifah dibumi, maka malaikat menangkap kesan bahwa keburukan akan mewarnai dunia, namun ALLAH memiliki rencana-Nya sendiri dibalik semua itu, kalimat-kalimat dalam ayat ini juga mengindikasikan kuat bahwa Allah memang tidak menjadikan manusia identik dengan malaikat yang selalu berada dalam fitrah kebaikan, atau dengan kata lain, fitrah manusia itu adalah Ya dan Tidak, Baik dan Buruk, Benar dan Salah.

Semua itu merupakan identitas atau jati diri seorang manusia yang tidak akan terbantahkan maupun teringkari sampai kapanpun dan oleh siapapun, tinggal lagi sejauh mana sang manusia tersebut mengendalikan keburukan, kesalahan atau sifat-sifat negatif didalam dirinya dengan mendominasinya dengan perbuatan baik, dengan kebenaran atau pensucian jiwanya.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (Qs. 87 al-A'laa ayat 14)


Lalu apa tugas manusia yang ditugaskan menjadi Khalifah ?

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (Qs. 2 al-Baqarah :29)

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya (Qs. 11 Huud : 61)


Jadi, manusia ini memiliki tugas untuk memberdayakan semua potensi alam yang ada sehingga terciptalah kemakmuran dan keseimbangan dibumi yang manfaatnya bisa membawa kebaikan untuk semua makhluk Allah yang hidup dan tinggal didalamnya, dan karena ini juga kenapa Islam disebut Rahmatan Lil 'Aalamin.

Keberadaan manusia bukan sekedar untuk disuruh sholat, berpuasa atau ritual berhaji semata ... Islam adalah ajaran yang realistis, menyadari potensi kefitrahan yang ada pada diri manusia dan bukan malah untuk membelenggunya.

Perhatikan :
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu untuk negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di duniawi serta berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. - Qs. 28 al-Qashash : 77


Saya sering membuat perumpamaan ini dengan kehidupan sehari-hari ...
Bahwa kita semuanya adalah karyawan-karyawan Allah yang bekerja sesuai dengan apa yang sudah Dia tetapkan dalam perusahaan maha besar-Nya ini.

Pertama sebelum memulai bekerja, kita sudah terlebih dahulu menandatangani nota kesepahaman bersama :

Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas Nafs (anfus) mereka : 'Bukankah Aku Tuhan kamu ?' ; Mereka berkata : 'Betul ! kami menyaksikan.' ; Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat : 'Sungguh kami lalai dari perjanjian ini'. (Qs. 7 al-A'raf : 172)


Selanjutnya, mulailah proses kerja kita dari nol, lahirlah kita ... dari tidak bisa apa-apa, tidak kenal siapapun secara lambat laun dengan adanya pembelajaran dan proses waktu, kita semakin bisa berinteraksi dengan orang lain, semakin bisa mengeksploitasi kemampuan diri untuk menjadi pekerja seperti para pekerja lainnya hingga kitapun akhirnya bisa bersaing dalam menunjukkan prestasi kerja yang terbaik.

Sebagai pekerja, kita terikat dengan berbagai aturan yang ditetapkan oleh sang pengusaha dimana kita bekerja, mulai dari yang sifatnya disiplin waktu, efektifitas sampai kepada produktifitas. Dan itulah kita, terlahir kedunia untuk kemudian menjadi dewasa dan mengerti .... terikat dengan semua aturan yang sudah dibuat oleh Allah sebagai owner dari perusahaan alam semesta mulai dari hal yang paling sepele sampai kepada aturan yang paling kompleks.

Seorang pekerja berkaitan dengan disiplin waktu misalnya, dia harus masuk jam 08.00 tepat dan pulang jam 17:00, sementara pukul 12:00 siang sampai pukul 13:00 para pekerja boleh beristirahat dan diatas pukul 17:00 diperbolehkan pulang kerja, peraturan itu harus ditaati oleh semua karyawan demi adanya keteraturan pekerjaan yang harmonis kecuali tentunya oleh karyawan-karyawan yang memang memiliki shift kerja berbeda, dan ada waktu-waktu lebih yang bisa kita pergunakan sebagai bentuk loyalitas kepada perusahaan dan adapula waktu lembur..

Saat bekerja, kitapun di-ikat dengan peraturan lain misalnya karyawan bagian produksi harus menggunakan seragam kerja tertentu, tidak boleh merokok dilingkungan mesin, tidak boleh bermain games komputer, tidak boleh rambut panjang untuk pria, tidak boleh berkelahi atau mengumbar kekerasan, ancaman dan sebagainya dan seterusnya, masing-masing pekerja harus bisa bekerja sama satu dengan yang lain, saling ingat-mengingatkan apabila rekannya berbuat kesalahan namun setiap karyawanpun harus bertanggung jawab secara pribadi atas pekerjaan dan tugas yang diwajibkan kepadanya dan sejumlah aturan lainnya.

Manakala ada peraturan-peraturan perusahaan yang dilanggar, maka konsekwensinya kita harus menerima sanksi yang sudah ditetapkan sesuai dengan peraturan yang sudah kita langgar ... semakin besar tingkat kesalahan yang kita lakukan maka semakin besar pula resiko yang harus kita terima ...

Demikianlah ajaran Islam secara realitanya, bahwa hidup kita terikat dengan semua peraturan yang sudah diperlakukan atau diundang-undangkan oleh-Nya sebagaimana bisa didapatkan dalam al-Qur'an, bahwa sebagai individu kita memiliki kewajiban mendirikan sholat, memunaikan dzakat, berpuasa, berhaji, menutup aurat, mencari rezeki, mencari ilmu dan seterusnya.

Bila kita melakukan perbuatan-perbuatan standar tadi maka kita akan mendapatkan apa yang disebut sebagai pahala, dalam dunia kerja kita mendapatkan upah atau gaji, ya kita adalah karyawannya Allah, saat kita bekerja sesuai dengan standar yang Dia tetapkan maka Dia-pun akan memberikan upah kepada kita, dan upah itu ada yang sifatnya langsung didunia ini adapula yang sifatnya tidak langsung atau dirapel diakhirat kelak.

Upah dari Allah didunia ini bermacam-macam bentuknya, ada berupa lancarnya rezeki, jodoh, pekerjaan maupun kemudahan usaha, sebagaimana firman-Nya :

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya dan Dia telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. 65 at-Thalaaq :3)


Adapun upah diakhirat, maka bisa jadi itu berupa keampunan atau syafaat Allah bagi kita atas apa yang sudah kita perbuat selama hidup didunia :

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. (Qs. al-Baqarah 2:175)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka. (Qs. 9: at-Taubah 111)


Kita harus tahu, bahwa sesungguhnya Allah sudah memberikan aturan dasar dan aturan rumah tangga dalam berproses dikehidupan ini dimana aturan-aturan tersebut disatu sisi mengikat diri kita selaku individu dan disisi yang lain mengikat diri kita dan juga orang lain dalam sebuah kelompok atau persaudaraan Islamiah.

Sebagai individu, kita diberikan kewajiban-kewajiban untuk menjalani semua yang sudah Dia perintahkan, misalnya kewajiban mendirikan sholat dan berbuat kebajikan, itu mutlak dalam kondisi bagaimanapun dan lingkungan seperti apapun, bila ada orang yang berkata sholat tidak mutlak karena lingkungan kita tidak kondusif atau tidak menjalankan perintah Allah secara kaffah, maka saya katakan dengan tegas bahwa orang itu sudah keblinger otaknya ! Siapapun dia !

Kenapa saya bilang demikian ?

Firman Allah :
Dirikanlah sholat, sungguh ini merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman (Qs. 4 an-nisaa’ :103- 104)


Perintah mendirikan Sholat adalah salah satu perintah yang berkaitan dengan kedisiplinan pendayagunaan waktu dan memiliki dekadensi juga dengan pembangunan moralitas kepribadian, ada waktu-waktu tertentu disiapkan kepada kita untuk memberikan laporan kepada Allah dalam satu harinya maka itu harus tetap dilakukan bagaimana juga situasi dan kondisi yang ada pada diri kita, bahkan dalam keadaan sakitpun ada aturan mainnya sebagai sebuah bentuk penegasan kewajiban mutlak yang tidak bisa dilanggar.

Dari ‘Ali, r.a, katanya : bersabda Nabi Saw : ‘ Sholatlah orang yang sakit dengan berdiri jika ia bisa ; bila tidak mampu maka sholatlah dengan duduk ; jika tidak mampu untuk sujud, isyaratkan saja dengan kepala ; dan dijadikannya sujudnya itu lebih rendah dari ruku’nya ; jika tidak mampu sholat duduk, maka sholatlah sambil berbaring kekanan serta menghadap kiblat; jika tidak mampu juga maka sholatlah dengan menelentang ; sedang kedua kakinya membujur kearah kiblat’ - Hadis Riwayat Daruquthni

Nabi Saw datang kerumah zainab (salah seorang puteri beliau)
Kebetulan disitu ada tali terbentang antara dua tonggak; Nabi bertanya : tali apa ini ? Orang banyak menjawab : tali untuk zainab apabila ia letih mengerjakan sholat berpeganglah ia ditali itu ; sabda Nabi : Tidak boleh, bukalah ! Hendaklah kamu mengerjakan sholat menurut kesanggupannya ; apabila telah letih, duduklah
- Hadis Riwayat Bukhari

Sebagai manusia yang hidup dalam kelompok manusia-manusia lainnya, maka kitapun diwajibkan untuk menyerukan pesan-pesan ilahiah berupa kebenaran didalam komunitas kita berada.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (Qs. 3: ali Imran 104)


Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Dan bila dia tidak sanggup, hendaklah dia mengubahnya dengan lisannya. Dan bila dia tidak sanggup maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. - Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri

Akan tetapi, ingat, setiap orang memiliki tanggung jawabnya masing-masing terhadap Allah, kita tidak diminta pertanggung jawaban terhadap lingkungan kita selama kita sudah berusaha untuk melakukan perbaikan ataupun menyerukan agar diterapkannya peraturan Allah didalamnya, terlepas apakah lingkungan kita itu menerima atau menolaknya.

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka.Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (Qs. 42 Asy-Syuura : 48)

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs. al-Baqarah 2:272)

Katakanlah:"Kamu tidak akan ditanya tentang apa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya tentang apa yang kamu perbuat". (Qs. 34 Sabaa' :25)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Qs. an-Nisa' 4:40)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (Qs. al-Baqarah 2:277)

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesukaran bagimu (Qs. 2 al-Baqarah : 185)


Adanya gerakan baru ditengah umat Islam Indonesia yang mempolitisir ayat-ayat al-Qur'an sedemikian rupa sehingga dengan alasan bahwa negara kita masih berhukum dengan hukum Taghut (non-ilahiah) maka tidak ada kewajiban atas diri kita untuk melakukan sholat atau ibadah wajib lainnya sebab menurut mereka apa yang kita lakukan itu hanya sia-sia.

Ingatkan pesan saya ini kepada semua orang Muslim yang anda kenal, waspadai doktrin menyesatkan ini, bahkan saya memandang doktrin golongan ini jauh lebih berbahaya daripada doktrin kaum anti hadis ... ini sama parahnya dengan misi Kristenisasi !

Sekali lagi, gunakan akal sehat untuk memikirkan ayat-ayat Allah ... doktrin semacam itu JELAS bertentangan dengan isi kitab suci al-Qur'an.

Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka itu juga untuk dirimu sendiri -Qs. 17 al-israa’ : 7


Golongan ini menganggap kita ini berada dalam tatanan Mekkah yang menyembah berhala, berhukum tidak dengan hukum yang diturunkan Allah ... karenanya Sholat tidak perlu.

Kita tahu ibadah Sholat itu sudah diwajibkan oleh Allah jauh sebelum Mekkah ataupun Nabi Muhammad lahir kedunia ini ... semua Nabi dan Rasul bahkan umat mereka masing-masing sudah mendapatkan perintah Sholat ini, jadi sholat bukan merupakan ibadah yang berhubungan dengan kondisi Mekkah atau Madinah semata.

Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat ; dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (Qs. 20 thaahaa: 132)

Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (Qs. 2 al-Baqarah : 43)

Jagalah dirimu dari hari dimana seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun dan hari tidak diterima permintaan maaf serta tidak ada tebusan baginya dan tidaklah mereka akan ditolong (Qs. 2 al-Baqarah : 48)


al-Quran secara tegas menyatakan bahwa Sholat sudah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, seperti perintah Sholat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya [Lihat surah 21 al-anbiya ayat 73 dan surah 19 Maryam ayat 55], kepada Nabi Syu’aib [Lihat surah 11 Huud ayat 87], kepada Nabi Musa [Lihat surah 20 Thaahaa ayat 14] dan kepada Nabi Isa al-Masih [Lihat surah 19 Maryam ayat 31]. Pernyataan al-Qur’an tersebut dibenarkan juga oleh cerita-cerita yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang mengisahkan tata cara beribadah para Nabi sebelum Muhammad yaitu ada berdiri, ruku dan sujud yang jika dirangkai maka menjadi Sholat seperti Sholatnya umat Islam (silahkan merujuk pada Kitab Keluaran 34:8, Kitab Mazmur 95:6, Kitab Yosua 5:14, Kitab I Raja-raja 18:42, Kitab Bilangan 20:6, Lukas 22:41, Markus 14:35).


Dari kenyataan ini, maka jelas bagi umat Islam bahwa Sholat sudah menjadi suatu tradisi dan ajaran yang baku bagi semua Nabi dan Rasul Allah sepanjang jaman, sebagaimana firman-Nya :

Sebagai ketentuan Allah yang telah berlaku sejak dahulu, Kamu sekalipun tidak akan menemukan perubahan Bagi ketentuan ALLAH itu (Qs. 48 al-fath: 23)


Adapun ayat-ayat al-Quran yang dimanipulasi pengertiannya oleh golongan ini salah satunya mengenai ayat :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (Qs. 4 an-Nisaa' :43)


Maksud ayat diatas menurut mereka adalah mabuk bukan berarti kita habis minum alkohol atau mabuk berkendaraan , tapi bingung dalam menjalani hidup ini, maksud mengerti apa yang kita ucapkan adalah, sudah mengerti penjabaran surat al-fatihah (karena induk kitab atau rangkuman 113 surat), maksud dalam keadaan junub, bukan berarti kita belum wudhu tapi masih berada dibawah hukum manusia (artinya kita masih kotor atau najis dihadapan Allah), Mandi maksudnya pada saat kita sudah bersih dari kemusyrikan sudah berada dibawah hukum-hukum Allah.

Secara historis latar belakang turunnya ayat dan secara tekstual ayat saja pemahaman yang demikian sudah bertentangan, belum lagi bila disepadankan dengan apa yang seharusnya kita pahami artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat dalam keadaan lupa ingatan (mabuk) sampai kamu sadar (mengerti) apa yang kamu katakan ... (Qs. 4 an-Nisaa’ 43)


Pertama ayat ini konteksnya berbicara mengenai sholat, dan kita dilarang melakukan sholat adalah apabila kondisi kita saat itu sedang dalam keadaan lupa ingatan. Lupa ingatan disini bisa berarti mabuk, bisa berarti gila atau sejenisnya yang intinya kita tidak bisa berpikir dan berbicara secara jelas. Sebab bila pikiran kacau balau bagaikan orang yang sedang mabuk, maka sholat justru dilarang baginya sebab pasti logikanya akan menjadi percuma saja, dia tidak akan mengetahui dan mengerti apa yang dia baca itu, bisa saja justru dia memaki dirinya sendiri atau malah juga memaki Tuhan dalam sholat tersebut.

Makanya Nabi pesan, kalau kita mengantuk padahal belum sholat, ya tidurlah dulu baru sholat, kalau kita lapar, makanlah dulu baru sholat ... rujukannya itu ya ini, bukan mengenai system atau keadaan disekitar kita yang carut marut.

Dengan demikian, maka Sholat merupakan suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar atau dielakkan dengan alasan apapun juga, sebab itu merupakan salah satu ibadah yang sudah ditentukan waktunya.

Sesungguhnya, sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (Qs. 29 al-ankabut : 45)


Ritualitas sholat dinyatakan didalam al-Qur’an pada ayat tersebut sebagai suatu sarana atau wadah untuk mengontrol perbuatan negatif yang seringkali mendominasi diri manusia. Dengan terjalinnya komunikasi yang baik dengan Tuhan secara vertikal maka diharapkan secara horisontalpun manusia mampu berbuat baik kepada sesamanya bahkan lebih jauh kepada semua hamba Tuhan diluar dirinya.

Namun fakta dilapangan juga membuktikan bahwa banyak orang Islam yang rajin melakukan sholat namun kelakuan dan sifatnya justru tidak sesuai dengan kehendak Tuhan yang ada pada surah al-Ankabut ayat 45 tadi, betapa banyak orang yang kelihatannya rajin sholat namun tetap bergunjing, melakukan zinah, pelecehan seksual, bahkan bila dia seorang penguasa yang memiliki jabatan akan memanfaatkannya untuk menganiaya orang lain, melakukan penindasan, korupsi bahkan sampai pada pembunuhan dan peperangan. Inilah contoh manusia yang telah lalai dalam sholat mereka.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat Yaitu orang-orang yang melalaikan sholatnya (Qs. 107 al-maa’uun : 4-5)


Bila sudah seperti ini, maka kita patut memperhatikan firman Allah yang lain :

Luruskan mukamu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta'atanmu kepada (Nya - Qs. 7 al-a’raaf 29)


Dari ayat tersebut, Allah hendak menyampaikan kepada manusia bahwa sholat itu memerlukan sikap lahir dan batin yang saling berkolerasi atau berhubungan. Meluruskan muka adalah memantapkan seluruh gerakan anggota tubuh dan menyesuaikannya dengan konsentrasi jiwa menghadap sang Maha Pencipta alam semesta. Disaat mulut membaca al-Fatihah, hati harus mengikutinya dengan sebisa mungkin memahami secara luas arti al-Fatihah sementara pikiran berkonsentrasi dengan gerak mulut dan hati, inilah keseimbangan yang di-istilahkan dengan khusuk dalam ayat berikut :

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, Yaitu orang-orang yang khusuk dalam sholatnya (Qs. 23 al-mu’minuun : 1-2)


Jadi, khusuk adalah suatu perbuatan yang menyeimbangkan gerak lahir dan batin, sehingga terciptalah suatu konsistensi ketika ia diterapkan dalam kehidupan nyata, sesuai dengan komitmen yang dilafaskan dalam do’a iftitah :

Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Qs. 6 Al-An'am:162)


Dalam artikel saya berjudul "Bolehkah Belajar Ilmu Ghaib" sudah saya singgung pula bahwa Sholat harus dilakukan dengan konsentrasi ataupun pemusatan pikiran sebagai upaya menjalin komunikasi dengan Allah sang Pencipta. Semakin bagus tingkat konsentrasi yang dilakukan maka akan semakin cepat pula terjadinya komunikasi dua arah antara seorang muslim dengan Tuhannya.

Dengan demikian, melalui ilmu telepati juga kita bisa menjawab kenapa banyak orang yang dalam sholatnya selalu berdoa namun sedikit sekali doanya tersebut yang diterima oleh Allah. Kita tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi mengalirkan pikiran kepada-Nya, dalam sholat kita bahkan masih terikat dengan lingkungan, ingat sendal yang hilang, pekerjaan menumpuk dan sebagainya; semua ini menimbulkan banyaknya getaran yang menuju dirinya sendiri dan menghalangi keluarnya getaran pikiran yang seharusnya terpancar keluar menuju Allah.

Jikapun ada yang masih bisa menerobos keluar maka gelombangnya sudah lebih lemah dan tidak memungkinkan sampai pada tujuan.; analogi telepon seluler merupakan permisalan yang sangat mudah untuk dijabarkan dalam hal ini, dimana agar bisa terjadi hubungan komunikasi dua arah maka baik sipenelepon maupun sipenerima harus berada dalam coverage area dimana sinyal-sinyal yang diberikan bisa saling menangkap. Satu saja dari keduanya memiliki pancaran lemah maka hubungan komunikasi bisa dipastikan tidak dapat berjalan lancar.

Akhirnya sholat merupakan ritualitas multi dimensi yang semuanya mengarah kepada sipelakunya sendiri agar mendapat kebaikan, baik dalam hal mengontrol diri ketika masih hidup didunia maupun menjadi amal yang membantu saat penghisaban dihari kiamat kelak.

Lalu siapakah yang lebih baik agamanya selain orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah sedang diapun mengerjakan kebaikan ? (Qs. 4 an-Nisaa': 125)


Sekali lagi, bila ada orang yang menyatakan bahwa saat ini adalah saat dimana hukum-hukum Islam belum perlu diberlakukan termasuk ritual-ritual ibadahnya (sholat, puasa, haji) maka ingkarilah orang dan kelompok ini, mereka akan menyesatkan dari jalan kebenaran.; Dahulu sewaktu jaman kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, dunia juga penuh kekacauan, fitnah merajalela, angkaramurka dimana-mana, kemunafikan menyebar disetiap penjuru, pertumpahan darah terjadi oleh orang-orang yang tidak suka tegaknya daulah Islamiah ditangan ahli bait Rasul. Tetapi, Imam Ali, selaku otoritas pemerintahan tertinggi umat Islam, sebagai Amirul Mukminin tidak menyerukan berhentinya sholat, berhentinya puasa, berhentinya berhaji.; Manakala ada sekelompok kaum Khawarij mencemoohnya karena mereka menganggap Imam Ali sebagai orang yang telah berbuat dosa besar dan jatuh pada kekafiran sampai ia bertobat dari dosanya itu karena Imam Ali serta kaum Muslim yang masih bersamanya mau menerima tahkim ( perdamaian dengan musuh-musuh Allah yang berlindung dibalik kedok perdamaian seperti dalam kasus perang dengan Muawiyah ), cemoohoan itu dilakukan secara demonstratif, mereka mengganggu Imam Ali pada saat beliau mengucapkan pidato dengan meneriakkan semboyan " La Hukma Illa Lillah" ( Tiada hukum kecuali bagi Allah). Dengan teriakan itu mereka ingin menunjukkan bahwa hanya putusan Allah yang perlu ditaati, bukannya putusan kedua penengah dalam tahkim. ; Sejarah kemudian mencatat najwa kaum Khawarij tidak mau tunduk kepada pemerintahan manapun, baik yang dipimpin Ali maupun Muawiyah yang sama-sama mereka anggap kafir.

Berikut tanggapan Imam Ali kepada semboyan mereka :
Sungguh itu adalah kalimat haqq, namun dimaksudkan untuk sesuatu yang batil !
Memang benar, " La Hukma Illa Lillah " ( Tiada hukum kecuali bagi Allah ).
Namun orang-orang itu bermaksud mengatakan : Tiada kepemimpinan kecuali bagi Allah.


Padahal masyarakat harus punya seorang pemimpin, apakah ia seorang yang baik ataupun yang jahat.

Dibawah kepemimpinannya seorang Mukmin melaksanakan tugasnya dan seorang kafir menikmati hidupnya sementara Allah Swt mencukupkan ajal segala sesuatu.

Penghasilan uang negara dikumpulkan, musuh-musuh diperangi, jalan-jalan diamankan dan hak si lemah diambil kembali dari si kuat, sehingga orang yang baik akan hidup tentram dan yang jahat dapat dicegah kejahatannya.

( Diambil dari sub-bab : Ucapan Imam Ali R.a ketika mendengar teriakan-teriakan Kaum Khawarij : La Hukma Illa Lillah, Halaman 83, Mutiara Nahjul Balaghah
Wacana dan surat-surat Imam Ali R.a, dengan pengantar Muhammad Abduh, Terbitan Mizan Cetakan VII Mei 1999
).

Gerakan kaum Khawarij dan semboyan yang mereka dengungkan pada masa khilafah Imam Ali bin Abu Thalib r.a itu, saat ini secara perlahan dan sembunyi-sembunyi kembali muncul dengan wajah baru dan dikenal dengan gerakan al-Qiyadah al-Islamiah, mereka menolak pemerintahan yang ada dengan dalih bahwa pemerintahan ini merupakan pemerintahan yang musryk dan kafir sebab tidak menjalankan hukum-hukum Allah secara kaffah, mengabdi kepada mereka adalah mengabdi kepada syetan, mereka menggembor-gemborkan untuk meninggalkan kepemimpinan manusia dan kembali kepada kepemimpinan Allah ( melalui diri mereka yang mereka anggap sebagai utusan Tuhan kepada bangsa ini, merekalah Rasul maupun al-Mahdi yang dibangkitkan alias al-Masih al-Mau'ud ).

Saya menyebut gerakan ini adalah neo khawarij, dan jika sejarah kembali terulang, maka selain neo khawarij tentu akan ada neo umayyah lambang orang-orang yang haus kekuasaan, orang-orang yang menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan mereka sebagaimana ini dahulu pernah dilakukan oleh dinasti Muawiyah.; Dan menyikapi ini semua, maka saya akan berada pada posisi Ahli Bait Rasul, posisinya Imam Ali dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan segala konsekwensi dan kebijakan serta cara pandangnya.

Pada halaman 84 dibuku yang sama, masih mengenai kaum Khawarij ini, Imam Ali berkata :
Jangan kalian membunuh kaum khawarij sepeninggalku, sebab tidaklah sama antara orang-orang yang mencari kebenaran lalu terluput darinya dengan orang-orang yang mencari kebatilan lalu memperolehnya.

Artinya menurut sang Imam, walaupun kaum Khawarij telah sesat dengan mengkafirkan dan memeranginya, namun kesesatan mereka bersumber pada suatu keyakinan yang tertanam kuat dalam hati mereka, sedemikian sehingga mereka menganggap pembangkangan terhadap kekuasaan beliau sebagai suatu kewajiban agama.; Dengan demikian, mereka itu sebenarnya mencari kebenaran kendati akhirnya terlempar darinya. Mereka bisa ditumpas apabila telah menimbulkan perbuatan buruk, merusak, membunuh serta hal-hal lain diluar syarit yang ada didalam Islam sebagaimana inipun akhirnya ditempuh oleh Imam Ali bin Abu Thalib.

Saya ingat, dahulu tepatnya tanggal 18 Maret 2006 lalu, Sahmuddin yang sekarang saya berani mengindikasikan sebagai bagian dari jemaah al-Qiyadah al-Islamiah/Qur'an suci atau juga al-Masih al-Mau'ud pernah mengajukan pertanyaan di Milis Myquran@googlegroups.com, isi pertanyaannya waktu itu begini :

Siapa yang layak menjadi pemimpin manusia? Siapa yang layak menjadi presiden manusia? Siapa yang layak jadi Raja manusia? Sipa yang layak jadi gubernur? Siapa yang layak jadi Bupati, Siapa yang layak jadi lurah? Siapa yang layak jadi camat? Siapa yang layak jadi, menteri? Siapa yang layak jadi jendral? Dan lain-lain. Siapa yang layak jadi sembahan manusia? Siapa Tuhan (pemimpin) saudari? Siapa Raja saudari? Siapa sembahan Saudari? Hati-hati ketika menjawabnya. Mohon dijawab sekiranya saudari bisa menjawabnya.

Dan jawaban saya waktu itu, kurang lebih sama seperti jawaban Imam Ali :

Apa yang anda katakan diatas benar ... tetapi fakta bahwa secara geografis hidup manusia ini berada dalam ruang lingkup kewilayahan yang berbeda satu dengan lainnya, dan manusia tidak bisa hidup bebas suka-suka tanpa ada aturan main dalam berkehidupan ... benar Allah adalah pemimpin kita, presiden kita ... tetapi secara realita ... perlu dibentuk sebuah sistem dengan kepemimpinan tertentu diantara sesama manusia itu sendiri ... inilah yang diajarkan dalam Sholat, ada Imam dan ada makmum. Perlu ada aturan yang mengatur agar masing-masing orang yang hidup dan tinggal dalam komunitas berbeda-beda itu bisa saling hormat-menghormati, menebarkan damai dan asas manfaat lainnya.

Karenanya ya saya katakan kitapun tidak salah memilih presiden manusia, camat manusia, menteri manusia ... mereka bagian dari ulil amri yang dipercaya untuk mengatur urusan umat (baik secara individu dan sentimen keagamaan atapun secara massal lintas agama dan budaya).

Memang pemerintahan kita belum sepenuhnya bisa mengaplikasikan hukum-hukum ilahiah secara kaffah, tetapi marilah kita duduk bersama membenahi pemerintahan tersebut secara bertahap, tidak mudah untuk merubah sesuatu yang sudah mapan, namun paling tidak kita sudah bisa sedikit berbangga dengan mulai dimasukkannya beberapa syariat Islam didalam hukum-hukum kenegaraan di Indonesia, misalnya mulai dari hukum perkawinan Islam kedalam UU perkawinan negara yang meskipun sempat menuai pro dan kontra pada masa lalu tetapi toh berhasil di-gol kan, atau dengan diakuinya serta dibebaskannya pemberlakuan hukum-hukum Islam untuk wilayah NAD, begitupula rancangan anti porno aksi dan pornografi yang cepat atau lambat segera pula disyahkan ditengah gelombang pro dan kontranya dan sebagainya.

Dalam merubah paradigma serta tabiat jahat bin jahiliah dari manusia, pasti diperlukan waktu yang tidak singkat, even seorang Rasul sekelas Nabi Muhammad pun membutuhkan rentang waktu 20 tahunan lebih ditambah oleh tahun-tahun kepemimpinan dimasa Umar bin Khatab untuk membentuk sebuah masyarakat yang madani sesuai peraturan ilahiah. Dan kita, mungkin perlu dua kali atau tiga kalinya dari masa-masa tersebut.

Saya hanya menyeru, mari kita contoh pula bagaimana sikap Imam Hasan bin Ali cucunda Rasul yang bersedia berdamai dengan pihak kufar Muawiyah bin Abu Sofyan yang haus kekuasaan selama keselamatan dan hak-hak kaum Muslimin terjaga meski masih dalam batas-batas tertentu. Akan ada saatnya kelak kita mencontoh sikap Imam Husien bin Ali yang juga cucunda Rasul ketika mengangkat senjata untuk memerangi kemungkaran Yazid bin Muawiyah meski tubuh harus berkalang tanah.

Tetapi selama kita masih bisa menggunakan jalan-jalan damai, cara-cara yang arif untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, maka mari kita tempuh cara itu, demi menghindari jatuhnya korban dari anak-anak, wanita dan orang-orang kecil seperti sikap Imam Ali dan puteranya Hasan.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs. 49 al-Hujuraat :13)


Bagi anda yang merasa pemahamannya berbeda dengan saya dalam hal ini, silahkan mengkritisi apa yang saya sampaikan ini, saya siap berdiskusi dengan siapapun anda sebagai pembelajaran juga bagi para sahabat yang lain agar semakin terbuka dan jelas mana yang benar dan mana yang salah atau disalah pahamkan.

Wassalamu'alaykum Wr. Wb.,
Salamun 'ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyah.swaramuslim.net
http://arsiparmansyah.wordpress.com
http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com

Catatan : Posting ini boleh diteruskan kemana saja selama itu bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam dan pencerahan kepada semua orang yang membutuhkannya dengan tetap menyertakan sumber pengambilannya dengan lengkap agar siapapun yang ingin secara langsung mendiskusikan ataupun melakukan sanggahan-sanggahan dapat menghubungi penulis secara langsung dan tidak membuatnya bingung yang bisa jadi menghalangi semangat pembelajarannya terhadap kebenaran yang sudah sampai.

Copyright hanya ada pada ALLAH, sumber semua kebenaran

Kaslan

source

Salman (nama madinah) said...

Gue juga "mantan" NII KW IX tahun 94-98 (buset lama juga yaah) hehehehe.
Untung lah ente baru sadar dalam waktu 9 bulan, gue sampe udah ngerasain penjara booo walaupun cuman seminggu :( .
Secara prinsip gue masih yakin sampai detik ini, Alquran dan islam harus tegak di muka bumi Allah. tapi praktek yang di lakukan oleh para pimpinan di NII KW IX tidak bisa di terima secara logika.
mudah-mudahan "niat" gue untuk tetap mepertahankan prinsip prinsip agung itu bisa tetap bertahan, thanks to NII yang udah buka hati gue terhadap islam, tapi sama sekali nggak thanks untuk cara cara licik yang pernah kalian terapkan ke gue termasuk ke para "korban NII"

=================================================

Anonim said...

Gw jg Mantan NII thn 2000-2002
(lamayan lama kan sadar nyaa)

Hati gw mengatakan memang ALQURAN HARUS berada diatas segala hukum yang ada. Tidak ada hukum yang sempurna selain ALQURAN!semua gw jalanin di NII dengan niatan KAFAH.

Tapi itu dia, cara nya mencampur adukan yang hak dan batil, ya standar lah, emas, henpon,lama2 ludes, utang dimana2.. but its never been enough.

apakah mereka mau mengerti bgmn rasa bersalah menguras harta ortu? cara gw membayar hutang2 yang ada? yang ada gaji cuma udah di tunggu di malja, ..

alhamdulilah masa itu sudah berlalu. memang pengalaman hidup itu MAHAL harganya.
-nissa-



Wednesday, September 26, 2007

Pekerjaan Orang-orang Kaslan

source

Ini Dicky lagi,
Saya telah enam tahun tanpa henti bergerak untuk mempersempit ruang gerak NII KW9. Saya juga mantan mas’ul. Dilihat dari animo di blog ini, bisakah kiranya, para mantan mas’ul, mantan jamaah dan semua orang yang perduli dan berani melawan NII KW9 untuk berkumpul bersama dan merancang gerakan paripurna yang akan menuntaskan NII KW9. karena sejauh ini, saya keteteran menerima banyaknya kasus yang harus saya tangani sendiri. Mungkin, bila kita bersama, akan ada pola yang lebih jelas dan menggunakan sebuah lembaga yang menjadi lawan utama NII KW9 sehingga akan lebih banyak orang yang tertolong. Saya sekarang sedang berkumpul dengan mantan mas’ul, timbara-garda al zaytun dan beberapa menteri NII KW9 yang telah keluar akibat perseteruan dan dekrit Abu Toto tanggal 15 September 2001. Saya berharap perjuangan ini tidak berjalan parsial tanpa pola. Sementara mereka menggunakan pola yang sangat sistematis. Rapatkan barisan. BIla anda semua siap melakukan ini, kita atur bersama. Termasuk teman-teman yang sudah keluar juga di Jawa barat Utara, jawa Barat selatan, jawa tengah dan jawa timur.

"The Kaslanis"




source

Kepada Semuanya,
Bagi yang sudah melewati jalan terjal dan berlikunya NII KW9, jangan pernah hilangkan semangatnya. Bila ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang masih aktif didalam, lakukan dengan cara yang baik. Bila ingin menyampaikan kepada kawan-kawan diluar yang belum dan kalau bisa jangan sampe kenal NII KW9, lakukan dengan seluas-luasnya. Lakukan bersama secara serentak. Setiap orang menyampaikan ke sepuluh orang setiap minggunya, sepuluh untuk satu hari kalau bisa. Ya, seperti dulu DK (Daftar Kunjungan) dan CT (Calon Tilawah) lah. Jadi, tidak perlu lelah dengan kata-kataan. Lakukan dengan aksi. Bukankan tindakan lebih besar nilainya dari kata-kata?. Bila anda perduli dengan teman-teman yang masih diluar dan yang didalam, lakukan langkah-langkah sosialisasi sebanyak dan seluasnya. Semakin sempit gerakan mereka, akan semakin muncul tindakan-tindakan putus asa yang terus memperlihatkan keburukan mereka. Lihat saja nanti. Semakin sempit ruang gerak mereka, akan semakin banyak masalah yang mereka hadapi. Semakin banyak orang tua yang tau, maka semakin banyak umat yang “amnu” dan otomatis memusingkan mereka. Jadi, kita bikin aja mereka terus ngga aman. Sosialisasi meluas, penggerebekan kalau perlu dan penanganan orang yang telah masuk. Percaya deh, kelabakan ntar mereka. Lama-lama juga pada kaslan sendiri. Saya cuma ingat kata Munir untuk mendeskripsikan pola saya, LAWAN!!

Saya sendiri melakukan pola diatas dengan teman-teman yang sudah keluar, setiap hari. dan telah berhasil menyadarkan banyak orang, Insya Allah. Dan hal ini terus dilakukan dengan sistem getok tular.

Untuk Rian, kebetulan saya juga sedang menangani kasus-kasus di 932204. Sudah lumayan yang kaslan. Saya lagi nangani tiga Qobilah itu, Frotila, Karatekan dan resimen. Banyaknya dari mahasiswa FIB UI, FEUI, FKUI, BINUS, YAI, TRISAKTI ma LONDON SCHOOL.

Kalau teman-teman mau nyikat, hajar dari NII KW9 yang kodenya 9322(1-12). Mereka pendana terbesar untuk NII. Bayangkan, untuk desa 9322-10 aja, infaknya 93.000.000 sebulan.

Monday, September 24, 2007

Decieved

source

Deception

The problem with deception is that you don't know that you've been deceived.
In retrospect, finding out is actually a good thing ... even if it's hard to believe at the time


(Gerakan Pemuda Al Kahfi) Deviant sect with strange induction under probe

www.nst.com.my

09 Jan 2007
Neville SpykermanThis email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it

SHAH ALAM: A movement targeting young Muslim professionals and executives is being monitored by the Selangor Religious Affairs Department (JAIS).

The department’s public relations officer Fakrul Azam Yahya said the movement was secretive and had strange induction methods.

He said new members of Gerakan Pemuda Al Kahfi have to pay RM1,000 to join and must agree to wear a blindfold before being taken to a secret location for their initiation.

He said they are subjected to "counselling" by senior members and the group utilises its own scriptures.

He said since the group moved around a lot, the department has found it difficult to track it down.

He said there were suspicions that the group may have links to deviant movements in Indonesia.

The department has to date received numerous complaints about the group but investigations were hindered by the group’s movements and the lack of information.

Fakrul Azam said Al Kahfi was first detected by Angkatan Belia Islam Malaysia (Abim) at the end of 2004, but since then the movement has grown stronger in Selangor.

However, hard evidence was needed before a fatwa (declaration) could be issued against the group. JAIS is appealing to disgruntled ex-members to come forward to help the department.

"We are especially keen to obtain a copy of their scriptures as it will allow us to scrutinise the roots of its deviant teachings. We heard it contains matters such as wahyu (divine revelations), for members," he said.

Fakrul Azam urged those with information about the group to call 03-5519-6997.

Yesterday, JAIS gave a briefing for representatives of Muslim organisations, NGOs and enforcement agencies in Selangor on Rufaqa, a group which is accused of being a front for the banned Al-Arqam movement.

*image taken from here

Thursday, September 20, 2007

Negara Islam Indonesia

sumber

Assalaamu'alaikum. Wr. Wb.

Saya ucapkan terimakasih kepada Ustadz yang telah menjawab pertanyaan saya tentang ajakan bersyahadat lagi... Saya ada beberapa pertanyaan lain:

  1. Sebenarnya siapakah Negara Islam Indonesia itu?
  2. Apakah saat ini gerakan itu masih ada, dan benarkah mereka sesat?
  3. Jika sekarang masih ada, kira-kira bagaimana ciri-ciri proses perekrutan mereka? Apakah melalui proses bersyahadat?

Terimakasih atas tanggapan Ustadz...

Wassalaamu'alaikum wr. Wb.

A.d.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

NII atau Negara Islam Indonesia adalah sebuah gerakan politik yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Berawal dari kelompok TNI yang menyempal di bawah komando Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo. Awalnya hanya ketidak-puasan politik di kalangan tentara, tetapi kemudian berkembang menjadi doktrin aqidah tersendiri dan eksklusif.

Kasus-kasus seperti ini memang bukan yang pertama terjadi. Konflik berdarah syiah sunni sekarang ini, awalnya dahulu hanya berangkat dari ketidak-puasan di bidang politik, tetapi entah bagaimana kemudian berkembang menjadi aliran aqidah tersendiri.

Secara resmi NII dan TII sudah ditumpas habis dan tidak punya kekuatan apa pun. Namun secara spirit, banyak kelompok sempalan yang hari ini masih mengaku-ngaku sebagai 'titisan' dari NII. Sayangnya, jumlah kelompok ini banyak sekali dan beragam. Bahkan banyak yang malah sudah ditunggangi oleh kekuatan politik tertentu untuk sekedar menjadi boneka, tentu dengan maksud-maksud tertentu.

Ibarat sebuah kapal besar pecah menabrak karang, masing-masing penumpangnya mencari selamat masing-masing dengan menumpang sekoci-sekoci kecil. Tetapi kemudian sekoci-sekoci itu masih berpencar dan masing-masing bertabrakan sekali lagi dengan karang, akhirnya tinggal 'perahu-perahuan' dari kertas dalam jumlah ribuan. Masing-masing mengklaim sebagai pewaris resmi dari kapal besar itu.

Kelompok yang ada sekarang ini tentu tidak pernah mengalamipenumpasanpisik secara langsung sebagaimana di zaman Karto Suwiryo, sebab mereka adalah orang-orang baru yang direkrut kemudian. Tentu dengan doktrin yang sudah diramu sedemikian rupa. Bahkan tidak sedikit di dalamnya justru orang-orang 'titipan' penguasa untuk melakukan manuver-manuver tertentu dan dalam posisi on mission.

Ciri-ciri dan Doktrin

  1. Mengembangkan sistem kerahasiaan dalam gerakan, baik struktur maupun doktrin ajaran
  2. Mengembangkan paham takfir, sehingga semua orang yang tidak ikut dalam kelompok mereka dianggap bukan orang Islam.
  3. Menghalalkan darah semua orang yang tidak ikut dalam kelopok mereka, sehingga pengeboman massal atas nyawa manusia menjadi halal.
  4. Menghalalkan hak milik dan harta semua orang, selama orang itutidak ikut kelompok mereka, karena dianggap kafir. Sehingga perampokan, perampasan, penipuan, penjambretan dan penggelapan hukumnya halal kepada siapa pun, baik kepada sesama muslim apalagi kepada orang kafir.
  5. Mewajibkan syahadat ulang dengan keyakinan bahwa tanpa itu, seseorang dikatakan belum beragama Islam.
  6. Mewajibkan bai'at kepada pimpinan yang waktu, cara dan konsekuensinya amat rahasia. Serta kewajiban untuk merahasiakan bai'at.
  7. Mewajibkan ketaatan mutlak kepada pimpinan tanpa boleh melakukan kritisi atau pengecekan kepada ulama lain.
  8. Kewajiban membayar upeti yang disebut dengan beragam istilah, baik zakat, infaq, pajak, kaffrat atau apa pun namanya.
  9. Namun terkadang malah tidak mewajibkan shalat, dengan alasan fase perjuangan mereka masih marhalah Makkah. Padahal kewajiban shalat justru sudah ada sejak awal mula turun wahyu.
  10. Menghindari kritisi dan debat dari para ulama ahli syariah secara terbuka, karena mereka tahu bahwa apa yang mereka ajarkan memang tidak punya argumen syariah. Mereka tahu bahwa mereka sesat dan menyesatkan.

Rekruitment

Tentu saja umat Islam yang punya akal dan punya bekal pemahaman agama yang lumayan, akan menolak mentah-mentah doktrin-doktrin di atas. Sehingga 'dagangan' mereka ini tidak akan laku kalau 'dijual' di tempat-tempat yang banyak ulama dan kiyai serta orang-orang yang melek syariah.

Maka asongan itu mereka dagangkan di tempat-tempat yang sepi dari ulama dan para ahli syariah. Sasaran objek rekruitmen mereka adalah orang-orang berada tapi awam dalam agama.

Sehingga dengan dicukil sepotong ayat Quran yang ditafsirkan semaunya, bahkan tanpa rujukan dari kitab-kitab yang muktamad, mulailah berjatuhan para korban. Kasihan sekali, seharusnya orang-orang itu mendapat hidayah dan ilmu yang benar, tetapi dengan aksi-aksi seperti ini, tenggelamlah mereka di dalam kubangan kejahilan.

Sebaiknya, marilah kita ketuk hati sebagian saudara kita agar kembali ke jalan yang benar. Dan marilah kita jaga agar jangan sampai ada lagi korban-korban berikutnya. Amien

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Perlukah Bersyahadat Lagi?

sumber

Assalamu 'alaikum. Wr. Wb.

Mudah-mudahan Ustadz ahmad selalu dilimpahi rahmat oleh Allah SWT.. Langsung saja ya Pak Ustadz, beberapa hari belakangan saya sedang "didekati" oleh seorang rekan dekat saya, di mana dia mengajak saya untuk bergabung dengan sebuah komunitas Islam.

Dia tidak menyebutkan siapa sebenarnya komunitas itu, akan tetapi salah satu tahap yang harus dilalui untuk tergabung dengan komunitas itu adalah harus bersyahadat. Hal ini pula yang membuat saya merasa janggal.

Saya ingin bertanya, apakah melakukan syahadat ulang untuk masuk ke dalam suatu komunitas itu dibenarkan? Jika tidak, apakah ada dalil untuk meng-counter ajakan rekan saya itu?

Jazakumullah khairan katsira

Wassalamu 'alaikumWr. Wb.

A.d.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syahadat tidak perlu kita ulang, sebab paling tidak kitasudah kita lakukan tiap hari dalam sehari semalam. Paling tidak 9 kali kita melakukan tasyahhud dalam shalat, yaitu 2 kali dalam shalat Dzhuhur, 2 kali dalam shalat Ashar, 2 kali dalam shalat Maghrib, 2 kali dalam shalat Isya' dan 1 kali dalam shalat shubuh.

Jadi syahadat yang mana lagi yang harus diucapkan?

Syahadat itudiucapkan oleh orang kafir yang masuk Islam, sebagai tanda bahwa dirinya masuk Islam. Sedangkan orang yang sejak lahir sudah muslim, baginya syahadat bukan lagi tanda masuk Islam. Melainkan untuk menguatkan keimanan, atau memperbaharuinya.

Yang perlu dikritisi dari jamaah yang anda ceritakan itu adalah pemahaman mereka tentang konsep keIslaman. Apakah dia perpikiran bahwa siapa pun orang yang tidak ikut ke dalam jamaahnya dianggap bukan orang Islam? Sehingga harus membaca syahadat lagi?

Apakah dia beranggapan bahwa kalau tidak ikut dalam jamaahnya, orang-orang lain dianggap sesat dan tidak punya status keIslaman?

Kalau memang begini cara berpikirnya, maka ketahuilah bahwa jamaah itu punya cara pemikiran takfir yang sesat. Sebab dia beranggapan bahwa semua orang yang tidak ikut jamaahnya bukan Islam.

Bukankah setiap bayi lahir itu dalam keadaan Islam? Bagaimana mungkin kita menjatuhkan vonis kafir kepada semua orang Islam, sehingga setiap ada yang mau masuk ke dalam suatu jamaah, kita wajibkan mengulang syahadat lagi?

Sejak kapan orang itu dan jamaahnya punya hak untuk memvonis orang lain masuk Islam atau tidak? Siapakah yang memberikan hak itu kepada mereka? Sebagai apakah hak itu diberikan?

Semua pertanyaan itu harus dijawab dengan landasan syariah yang kuat. Bukan sekedar memberikan klaim belaka.

Jadi silahkan anda meminta penjelasan dengan detail atas semua pertanyaan itu, sebab anda toh tidak ingin membeli kucing dalam karung, kan?

Wallahu a'lam bishshawab, wassaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Judul : Jihad Terlarang, Cerita dari Bawah Tanah

sumber

Judul : Jihad Terlarang, Cerita dari Bawah Tanah
(Kisah Nyata Mantan Aktivis Islam Garis Keras)
Penulis : Mataharitimoer
Penerbit : Kayla Pustaka, 380 hlm, Rp 44.000,-

Dapatkan di toko buku online: www.benggala.com, www.kaylapustaka.com,
www.nunpublisher.com, www.bismikabooks.com. Pemesananan langsung bisa
menghubungi Bapak Dadan: 021-68133999

Kisah dalam buku ini didasarkan pada pengalaman nyata penulisnya,
Mataharitimoer, seorang mantan aktivis NII (Negara Islam Indonesia)
yang "bertobat". Selama 10 tahun ia hidup di "bawah-tanah", berkelana
dari kota ke kota, demi mewujudkan cita-cita mendirikan negara yang
berdasarkan syariat Islam di Indonesia, dengan cara-cara yang kurang
lazim dan asosial.

Penulis mewujudkan dirinya sebagai seorang remaja beranjak dewasa
bernama Royan. Ia menyimpan dendam pada Tuhan dan tentara, yang
merenggut nyawa bapaknya pada Peristiwa Tanjung Priok, 1984. Pada
tahun 1988, ia bergabung dengan pergerakan Islam underground, yang
ingin mendirikan Negara Islam dan menggulingkan rezim yang dianggap
thagut alias setan. Muslim yang tidak mengikrarkan syahadatnya
kembali, dituding kafir.

Sejak bergabung dalam pergerakan, ia hidup bergerilya, berkelit dari
incaran, gerebekan, dan penculikan intelijen. Di tengah-tengah
perjuangan antara hidup dan mati, ia justru menyaksikan banyak
kezaliman di tubuh pergerakan. Ia tak sepakat dengan sikap ketaatan
jamaah yang berlebihan kepada pemimpinnya. Ia menentang larangan
pemimpin bagi para kadernya untuk jatuh cinta dan memilih pasangan
mereka sendiri. Kalaupun menikah, itu harus dengan persetujuan atasan,
dan wajib membayar infak yang jumlahnya sering tak sanggup ditanggung
oleh para kadernya.

Royan pun tak setuju jika jamaah "dipaksa" mencari infak dengan
berbagai cara asal disetor 100% kepada pemimpin pergerakan. Ia
menentang sikap jamaah yang suka menganggap harta yang dimiliki
masyarakat boleh dirampas karena alasan fa'i (rampasan perang).
Pergerakan menganggap, masyarakat negeri ini masih hidup dalam
kekafiran, sehingga merampok harta mereka adalah tindakan halal.

Abu Qital, Abu Shoffan, dan Imam—atasan-atasan Royan—mencoba
membungkamnya dengan fitnah, teror, penculikan, bahkan uang sogokan.
Pengalaman-pengalaman traumatis itu membuat Royan "tersadar" dan
segera keluar dari pergerakan yang selama ini dianggapnya sebagai
kebenaran tunggal. Ia berjalan sendiri dalam kesunyian, dan mulai
mencari makna sejati jihad dan kebenaran ...


TESTIMONI

Novel ini menarik karena dua alasan. Pertama, alur ceritanya diangkat
dari pengalaman aktual dalam sebuah dunia yang penuh misteri, ganas,
eksklusif, mengatasnamakan Tuhan—sebuah perbuatan yang berlawanan
dengan seluruh ruh Alquran tentang cara damai dan beradab dalam
mencapai sebuah tujuan. Kedua, menempuh jalan kekerasan dalam
pengalaman politik Indonesia ujung-ujungnya hanya satu: malapetaka.
—Ahmad Syafii Maarif, Sesepuh Muhammadiyah

Makna jihad yang sering dipahami dengan salah kaprah oleh banyak orang
dibongkar dengan unik oleh Mataharitimoer .
—Enison Sinaro, Sutradara Film Bom Bali Long Road To Heaven

Buku ini tidak saja mengisahkan perjalanan hidup namun juga pergulatan
mencari makna kehidupan yang berkarakter diametral penuh konfrontasi
dan jamak dari penulisnya. Saya pikir ia telah menemukan dirinya
kembali walaupun tidak pernah sama lagi dengan dirinya yang dulu.
—Nurul Arifin, Artis Indonesia

Sangat bagus! Mengupas ijtihad seorang anak manusia dalam sebuah misi
jihad, namun pada akhirnya ia sendiri meragukan jalan yang
ditempuhnya. Baru kali ini ada sebuah buku yang memaparkan kehidupan
seorang manusia yang sangat tersembunyi.
—Alchaidar, Mantan Aktivis NII

Novel ini membuka tabir sebuah gerakan yang mengklaim kebenaran hanya
ada di pihaknya. Sungguh menggugah!
—Herry Muhammad, GATRA

Mataharitimoer hanyalah sebuah noktah di gunung es: betapa
ketidakadilan global kuasa membangkitkan kerikil terpendam yang
selanjutnya menjadi batu sandungan global.
—Prof. Dr. Ahmad Mubarok, M.A., Guru Besar Psikologi Islam

Menukik tajam! Layak dibaca oleh para pemerhati kebijakan politik
nasional dan internasional, terkait isu jihad dan terorisme.
—Zaki Amrullah, Radio Berita Jerman Deutsche Welle

Penculikan ternyata tidak hanya dilakukan oleh Densus 88, tapi juga
oleh kelompok yang bersaing dalam satu tubuh gerakan yang awalnya
sama. Apakah itu yang dimaksud "Jihad Terlarang"? Membaca buku ini
akan menambah wawasan bagaimana serunya pergolakan dalam sebuah
harakah (gerakan).
—Fauzan Al-Anshari, Juru Bicara Majelis Mujahidin Indonesia

Novel yang untuk pertama kalinya mengilustrasikan Islam underground
dengan jujur. Latar belakang si penulis yang pernah bersentuhan
langsung dengan gerakan bawah-tanah membuat kisah di dalamnya begitu
hidup dan nyata. Sebuah referensi penting untuk memahami satu dimensi
dari Gerakan Islam di Indonesia.
—Siska Widyawati, JIJI Press

Akhirnya, ada juga orang yang berani menulis novel tentang pergerakan
Islam garis keras dalam rangka mendirikan Negara Islam. Selama ini,
mereka yang terlibat hanya berani mengungkapkan bisik-bisik belaka.
Sangat inspiratif sekaligus mengejutkan.
—Wahyudin Fahmi, Koran Tempo

Realitas kemelaratan dan ketidakadilan cenderung menumbuhkan perilaku
kekerasan. Novel ini sangat inspiring bagi kita untuk segera
merumuskan makna "jihad" yang halal tapi konstruktif, tanpa diracuni
oleh pemahaman Barat tentang terorisme dan jihad.
—Faisal Haq, Majalah Gontor

Sangat menarik! Sayang kalau buku ini hanya dinikmati kovernya saja ….
—Herawatmo, Rakyat Merdeka Online

Karya-karya Mataharitimoer telah dibaca oleh banyak penggemarnya. Ia
telah memberikan inspirasi dan motivasi pada jutaan orang lainnya.
—Yudhi Aprianto, sarikata.com

Menyingkap rahasia gerakan Islam militan di Indoensia, yang selama ini
masih terkubur dalam ribuan kabar burung yang simpang siur.
—Ade Tri Marganingsih, Matabaca

Thursday, September 13, 2007

NII Asal, Al Quran dan Hadith

source


Leaving the "Islamic State of Indonesia": An interview with Mataharitimoer

By Ayu Arman, Common Ground News Service

Jakarta – After more than ten years of hiding after leaving the Negara Islam Indonesia (NII) or Islamic State of Indonesia movement, Mataharitimoer has re-emerged with a surprising autobiography, Forbidden Jihad, a Story from the Underground. In the following interview, Eddy Prayitno, a.k.a. Mataharitimoer, describes the NII's vision and methods for implementing Islamic law.

AA: Your book's title, Forbidden Jihad, compelled many people to read the book, especially in this era of global terrorism, when the word "jihad" is associated with "terrorism." What do you mean by this title?

Mataharitimoer: The word "jihad" described what the NII's members call Jihad fi Sabilillah, a fight to enforce the law of God in the form of an Islamic country. However bad others perceptions might be towards them, they still state that they are conducting jihad in the Way of God. Their jihad is to turn Indonesia into an Islamic country. And because the NII has threatened the stability of the state, it has become "forbidden".

AA: What drove you to write the novel?

M: According to the NII, if one leaves the organization, he has become an apostate, although he might still consider himself a practicing Muslim. When I left the NII, my friends were wondering why I apostated (murtad) when I had a bright career in the movement. My answer to them was: "I promise that when the time comes, I will write a book that explains why I have had to leave this Islamic movement." It is that promise that drove me to write Forbidden Jihad.

AA: In Forbidden Jihad, you said you're still dealing with the trauma from the violence practiced by NII members. Was it vengeance that compelled you to write?

Mataharitimoer: If I still felt vengeance, I would do a lot more than just write a novel. I would reveal their secrets and divulge the whereabouts of the NII leaders. But I haven't done that. As for dealing with the trauma, frankly speaking, I am still traumatised today by the movement's violent methods. I have been terrorised, slandered, beaten, caged and even bribed by the NII in order to prevent me from leaving.

AA: What is the real vision and mission of NII?

Mataharitimoer: Its real vision is a country based on Islam where the highest law is the Qur'an and hadith. In 1949, Indonesia had no government as a result of the Renville Agreement [a Dutch-Indonesian accord which aimed to resolve unsettled disputes from a previous settlement]. The vision and mission of the NII, as stated by Imam Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo at that time seemed ideal to me. His vision of an Islamic country was inspired by the Medina Charter, inaugurated by Muhammad (SAW). During the time of the Prophet, Medina was a just state for Muslims, Jews, Christians and anyone else who lived there.

AA: How has the NII deviated today from Kartosuwirjo's vision?

Mataharitimoer: The most principle deviation is that they do many things to harm the image of Islam. They think that only their group is representative of the truth and Islam. They hardly accept criticism and rely more on violence than dialogue to spread their message. This runs contrary to Islam as a religion that aims to spread love to the world (rahmatan lil 'alamin).

AA: Is the concept of an Islamic country compatible with democracy?

Mataharitimoer: Islam cannot be compared with democracy because democracy is only a tiny part of the people-government interaction. Democracy is only one of many solutions for countries led by an authoritative leader. It can be in line with Islam, but it doesn't mean Islam is democratic. Islam appreciates and guarantees plurality and the needs of people, but it doesn't accept people as the source of truth, which could lead to totalitarianism in the name of people's will.

AA: If the concept of an Islamic country is good, true, ideal and can be applied, should we export it just like the West "exports" democracy?

Mataharitimoer: Islam is a religion that is open to innovation. Islam can accept the concept of Western democracy with several alterations. The question then arises, is the West willing to open up and "import" Islam? I think the ideal situation is that regardless of who we are, and despite our ideological differences, we should try to walk hand in hand, instead of humiliating each other. In Surah Al-Hujurat in the Qur'an, it is written that God has created different genders, ethnicities, races and nations so that human beings would acknowledge and respect each other, not divide and fight one another.

AA: Can't democracy bring justice and peace to the world?

Mataharitimoer: Whatever it is, democracy, theocracy, or nomocracy, success depends on the honesty and kind-heartedness of human beings. Regarding the concept of an Islamic country itself, are justice, equality, brotherhood and wealth guaranteed? Which country can provide that guarantee?

AA: Aren't you afraid you might be terrorised, kidnapped, or even murdered as a result of writing this novel?

Mataharitimoer: I don't know whether these things will happen to me or not. I only hope groups such as the NII are wiser towards critics now. If they become annoyed, however, I realize the risks I have to face. Life is a choice, and every choice has its risks.

Saturday, August 11, 2007

RMU, Ahli Jemaah Kahfi-Nisa' Devisa Non Migas! NII, Negara Islam Ilusi

------ Message from khafinisa to you: ------

Betul ke kamu dulu dlm umat Islam yg kata nak dirikan negara Islam? Sy skrg pun dlm jemaah ini dan skrg sangat khuatir lepas baca info dari forum dan apa yg kamu tulis.

tolong respon supaya boleh bercakap lagi. sy mesti tahu kalau ini ajaran sesat yg perlu sy larikan diri .

===============

alkhafi, lepas baca semua blog yg kamu cakap tuh, sy mula khuatir lah. sy sekarang dah T3, tapi baru sekarang nak cari kat internet pasal benda2 nih. apa yg kamu ckp nih tepatlah. so saya takut pulak. betul ka negara islam yg dia org ckpkan itu di indonesia? ramai ke umat di sana? bila dia orang cerita dia orang kata ada ramai orang dari negara lain.

Huh takut lah saya lepas baca forum nih. dan tak tahu apa nak buat skrg. dah banyak saya belanjakan. harap dapat tolong.

Tuesday, June 26, 2007

Buku Mantan NII KW 9

source



Dia muslimah yang taat, badannya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar, hampir semua waktunya dihabiskan untuk sholat, baca Al Qur’an, dan berdzikir. Dia memilih hidup yang sufistik demi ghirah kezuhudannya kerap dia hanya mengkonsumsi roti ala kadarnya di sebuah pesantren mahasiswi. Cita-citanya hanya satu untuk menjadi muslimah yang kaffah.

Tapi di tengah jalan, ia diterpa badai kekecewaan. Jama’ah yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diharapkan menghantarkannya ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas harta, studi, masa depan, dan juga nalar kritisnya. Setiap tanya yang ia ajukan dijawab dengan dogma dan bentakan !

Telp. +62-274-7457184

E-mail : scripta_manent2005@yahoo.com