source
BEBERAPA hari menjelang Lebaran lalu, selepas sahur, ponsel istri saya bergetar. Maklum disetel kondisi getar, biar tidak ribut. Setelah bercakap sejenak, Bu Eri memberikan SE W200i itu kepada saya. "Dari Asep Rohman katanya," ujar Bu Eri.
Saya berpikir sejenak. "Asep Rohman? Oh, itu teman SMP dulu," kata saya sambil mengambil ponsel. "Assalamualaikum, Halo Sep. Wah gimana kabarnya nih. Kok tahu nomor hp istri saya," tanya saya. "Ini dapat dari teman, Jumadi, anak radio AR," jawab Asep.
Dan di waktu subuh itu terjadilah percakapan cukup panjang. Maklum kami sudah tidak bertemu selama 20 tahun. Kami sama-sama sekelas di kelas 2C SMP Negeri 3 Cimahi. Itu tahun 1987. Setiap minggu, kami selalu main bulutangkis atau main basket di Pusdikhub. Kalau tidak pagi, ya sore-sore. Waktu itu saya lagi hobi bulutangkis, dan lumayan juga lah smashnya seperti Liem Swie King, idola saya (he he maunya...).
Ternyata Asep bekerja di PT POS Cianjur. "Wah nerusin jejak bapak dong," kata saya. "Iya, saya kan sempat ngesms ke hotline tribun, nah itu lagi di sawangan," jawab dia. "Atuh udah jadi pejabat yah?" "Lumayan lah..." jawab Asep lagi.
Lalu obrolan pun berpindah topik secara tiba-tiba. "Tahu aliran sesat yang kemarin rame di koran, apa itu namanya Al Qur'an Suci? tanya Asep. "Oh iya tahu, teman saya yang meliput," jawab saya. "Saya tahu itu muaranya ke mana, pasti ke NII," kata dia lagi mantap.
"NII? Kok tahu, memang darimana bisa menyimpulkan kalau itu NII," tanya saya. "Ya karena saya pernah ikut jemaah sesat itu beberapa tahun yang lalu dan ujung-ujungnya ke NII. Saya pernah dibaiat mereka. Waktu keluar, wah diteror habis. Dan saya tahu bagaimana modus mereka bergerak. Makanya sebenarnya saya nelepon kamu itu ingin cerita soal ini. Ya sekalian ketemu lah, udah lama kan tidak ketemu," papar Asep.
Tentu otak saya langsung ting teng ting teng. "Ini sih berita, tapi gimana caranya supaya dapat cerita itu," pikir saya. "Gini saja Sep, saya kan sulit untuk ke Cianjur. Sementara teman saya yang bertugas di Cianjur sedang cuti. Gimana kalau sehabis Lebaran, teman saya di Cianjur itu mengontak Asep terus wawancara. Soalnya koran udah mau libur, sehabis lebaran baru terbit lagi," kata saya. "Oke deh kalau gitu, saya tunggu. Salam buat keluarga yah," kata Asep sambil menutup telepon.
Al Qur'an Suci. Kata itu terus terngiang di kepala saya. Beberapa hari sebelumnya, teman saya memberitakan soal Achriani Yulvie, mahasiswi Poltek Pajajaran yang menghilang tak tentu rimba. Belakangan diketahui, Yulvie ini sering ikut pengajian kelompok tertentu dan salah satu ajarannya adalah tidak mengakui hadits Nabi. Selain Yulvie, Fitriyanti, temannya juga ikut menghilang sampai sekarang. Pamit ikut pesantren, raib entah kemana.
Dari catatan harian Fitriyanti diketahui, mereka adalah sebuah kelompok yang membedakan antara orang-orang yang Haq dan Batil. Yang Haq adalah yang ikut kelompok mereka, sementara yang Batil, yaitu mereka yang salat, naik haji, dll, digambarkan bakal masuk neraka Jahanam.
Diari itu juga mengungkapkan bagaimana cara seseorang "kader" mendekati calon (dalam diari ditulis CT). Sampai bagaimana cara bersikap dan ngobrol pun dituliskan. Istilah lain untuk orang yang sedang ditatar itu adalah Tilawah-an, seperti tertulis di diari. Lalu terungkap pula pengakuan dari teman-teman dekat Fitriyanti bahwa mereka juga sempat diajak Yulvie untuk hijrah dengan syarat membayar uang Rp 500 ribu.
Sejak semula saya memang sudah curiga, kelompok ini terkait atau masih satu rantai dengan Negara Islam Indonesia, NII, atau N11. Istilah yang dipakai dalam diari itu, seperti CT, Tilawah, adalah istilah-istilah yang biasa NII pakai. Lalu lebih kuat lagi dengan adanya unsur uang saat hijrah.