Saturday, April 28, 2007

Di Luar NII-Binatang & Kafir-Solat Ritualnya sia-sia


source

Assalamualaikum wr. wb.

Yang saya tahu di NII antara desa satu dan desa yang lainnya mempunyai ilmu yang berbeda-beda,
Namun pada intinya tetap satu "JUALAN AYAT2 ALQURAN DENGAN TAFSIRAN NGAWUR"

Dulu kuliah saya berantakan Aneh, jarang sujud sehingga mental rohani menjadi gersang Hiks.., hubungan dengan keluarga tidak harmonis Hiks.., yang ada dibenak saya cuma tilawah dan kejar setoran Gubraks!, dan yang lebih parah MUSA saya bilang orang di luar NII itu binatang Hiks... Padahal Allah sendiri berfirman Manusia itu diciptakan dalam kondisi sebaik2nya mahluk. dasar hukum di NII tidak jelas sama sekali. Yang ada adalah dasar hukum dengan penafsiran ALQURAN NGAWUR. Masalah RMU (Rububiah, Mulkiyah dan Uluhiyah) itu penghinaan terhadap Hakikat ketauhidan Allah SWT. Betapa piciknya menafsirkan tauhid dengan sesuatu yang dicipta-NYA . Jelas sekali ini syirik aghrad, menyama2kan Tuhan dengan sesuatu yang di ciptakannya, belum lagi masalah kerosulan, di NII setiap pemimpin itu Rosul (masya ALLAH), padahal Rasulullah sendiri mengatakan bahwa tidak ada nabi dan rosul sesudahku. Belum lagi tentang kebanggaan dengan sholat aqimuddin dan mengolok2 mereka yang masih melakukan sholat ritual, padahal kalo kita jeli di ALQURAN di sebutkan dalam kondisi apapun sholat itu wajib, seperti dalam kondisi perangpun Allah menyerukan untuk tetap mendirikan sholat.

(4:102) Apabila kamu di kalangan mereka, dan melakukan solat bagi/ untuk mereka, maka hendaklah segolongan daripada mereka berdiri bersama kamu, dan hendaklah mereka mengambil senjata-senjata mereka. Apabila mereka sujud, hendaklah mereka berada di belakang kamu, dan hendaklah segolongan lain yang belum sholat datang, dan sholat bersama kamu, dengan mengambil kewaspadaan mereka dan senjata-senjata mereka. Orang-orang yang tidak percaya menginginkan kamu lengah dari senjata-senjata kamu, dan barang-barang kamu, lalu mereka akan menyerbu kamu dengan serbuan sekaligus. Dan tidaklah bersalah atas kamu jika kamu dalam gangguan hujan, atau kamu sakit, untuk meletakkan senjata-senjata kamu, tetapi ambillah kewaspadaan kamu. Allah menyediakan bagi orang-orang yang tidak percaya, azab yang hina.

4:103. Apabila kamu telah melaksanakan solat, ingatlah kepada Allah, berdiri, dan duduk, dan di atas lambung kamu. Kemudian, apabila kamu tenteram, lakukanlah solat; sesungguhnya solat adalah kitab yang di-shcedulkan bagi orang-orang mukmin.

Oh ya satu hal yang membuat saya tetap eksis sampai sekarang ini adalah dukungan dari keluarga dan teman2, tentunya juga dukungan dari Allah SWT. Dulu teman sekelasku waktu keluar menjadi gila dan masuk ke rumah sakit jiwa karena ancaman2 darahnya halal, kalau sudah futuh yang KASLAN akan dijadikan budak dan lain sebagainya. Padahal kalau di hadapi langsung semuanya pada ngacir satu persatu. Peace ahhh!. Sekedar Info bisa di jadikan gambaran bagaimana stressnya seorang muslimah gara2 Kepincangan paham ini, silahkan antum semuanya baca novel dengan judul "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur" Memoar Luka Seorang Muslimah karya karya Muhidin M.
Masih banyak sekali kepincangan2 dari paham NII. Miris dan Tragis sekali kisah nyata yang diperankan oleh Nidah Kirani dalam novel tsb. Sebetulnya paham ideologi yang dianut di NII adalah ideologi Neo Khawaraj yang dulu di brantas pada zaman kekhalifahan.

Dan memang betul seperi yang saya dapat dari internet : "NII dapat merusak kesehatan, membuat gangguan jiwa, meninggalkan keluarga dan menguras harta benda, jika sakit berlanjut silakan BERTOBAT !!!"

Ya itu semua pilihan dan hak semua orang utk memilih. Namun jika tatanan kehidupan berlandaskan pada penafsiran ALQURAN yang NGAWUR akan merusak tatanan kehidupan, baik aqidah dan akhlak dalam beribadah dan bermasyarakat. Semuanya terserah Anda untuk memilih. Benar dan salah kita kembalikan kepada Allah. Kurang dan lebihnya saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Semuanya saya kembalikan kepada Allah SWT. Semoga bisa mendapatkan maghfirah dan Ridhoanya. Amiin.

Wassalamualakum wr. wb.

Memanfaatkan Anugerah Allah dengan Merekrut Muslimah melalui Tilawah?


source

..dia bilang dia di baiat di jakarta bareng banyak orang dari malaysia dan singapura..dia pergi ke jakarta dari salah satu kota di jawa timur tanpa pamit ke orangtuanya selama 3 bulan! ..edun...ajaran NII emang.... dah gitu dia menambahkan bahwa di NII diajarkan bahwa anggota wanita cari calon anggota laki-laki dengan "memanfaatkan anugerah allah" berupa kecantikan untuk merayu mereka masuk NII... dia juga menambahkan bahwa targetnya adalah mahasiswa yang cerdas dengan IP tinggi...wuah...NII undercover


Friday, April 27, 2007

Hitam Putih NKA

source

hati2 lah dalam menerima ajakan untuk melakukan pengajian/pengkajian dari seseorang yang baru anda kenal atau bahkan dari teman anda sendiri, mohon periksa apakah bentuk pengajian tersebut, apakah sesat atau tidak, jika mungkin jangan datang sendirian, ajaklah orang yang lebih dewasa atau mungkin orang yang akan bisa menyelamatkan anda jika sewaktu2 anda berada dalam kesulitan, karena jika anda sudah memasuki tempat pengajian nka/nii hitam tidak jarang mereka melakukan pemaksaan /ancaman /menakuti2 agar anda bersedia untuk terus mengikuti pengajian mereka. dalam melakukan penarikan anggota baru, mereka beroperasi dengan cara berkenalan, atau pun melalui teman ke teman, atau bahkan yang lebih modern melalui chatting di internet!!! oleh karena itu hati2lah dalam berkenalan dan menerima ajakan mereka, jika mereka sudah menyinggung2 masalah agama atau pengajian, mohon diperiksa atau ditanyakan lebih lanjut mengenai pengajian tersebut dan juga jangan datang sendirian!!!

Tuesday, April 24, 2007

Memotong burung garuda dengan doktrin NII KW IX

source

Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester IV di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu kali ia diajak seorang temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall, salah satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada pameran komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.

Sesampainya di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih yang secara tak sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka terlibat perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. Salah satunya adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman Ratih itu kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan seorang teman dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa kali mengikuti seminar tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama kemudian datanglah orang yang dimaksud.

"Nah, mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol sebentar. Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini dilewatkan," kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.

Mereka menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan menyampaikan pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa tempat di tanah air hingga ke luar negeri.

"Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" Wawan membuka diskusi.

Menurut Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat muslim. Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai muslim yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam. Satu-satunya yakni dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu melakukan jihad menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.

Wawan memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, seperti orang yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al Qur'an berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung argumentasinya.

Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita perlu berjihad. Berjihad secara total, tidak setengah-setengah. Rela memberikan apa yang kita cintai untuk berjuang di jalan Allah.

"Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan Alloh," tanya Wawan.

"Tiga juta," jawab salah seorang.
"Tujuh juta," jawab lainnya.

Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar itu.

"Sekarang, barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku sebagai umat muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di jalan Alloh," tanya Wawan lagi.

"Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah radio," jawab Ema dengan lugu.

Tapi jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio bukan barang yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan Ema, nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" tanya Wawan lagi.

Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang dibawanya, yang paling disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia N-Gage. Tapi dia berat untuk melepaskannya. Ini handphone satu-satunya.

"Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa.
"Tapi, handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia yang membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," jawabnya memberi alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone itu, entah untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari alasan.

"Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda. Harus segera," jawab Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad bersedekah dengan memberikan harta miliknya yang sebenarnya sangat disayangi.

Maka, dengan berat hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah seorang mengatakan Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan digunakan untuk keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang dari 15 menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, sudah beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya.

"Sekarang, anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda untuk hijrah," kata Wawan. Hijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema akan dibersihkan diri. Hmm....

"Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya perlu persiapan," kata Ema.

Lagi-lagi jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat maka harus dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran hijrah ini katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya akan diajak pergi ke Jakarta. Dari Java Supermall mereka kemudian mereka menuju ke stasiun kereta api Poncol. Sore menjelang maghrib mereka tiba di stasiun. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang dimaksud sudah habis dipesan. Jam keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. Artrinya mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.

Ema merasa ada yang tak beres. Ia meminjam handphone Ratih untuk menghubungi pacarnya. Selang beberapa menit kemudian sang pacar menelponnya dengan nada marah-marah setelah mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak lama kemudian sang pacar datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema diajaknya pulang. Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu kabur entah kemana.

****
Mendengar cerita Ema itu, saya mulai curiga, ada yang tak beres dengan "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke Jakarta itu. Pertama, ajakan itu terkesan memaksa. Kemudian, konsep shodaqoh itu saya artikan sebagai pemerasan. Lantas, jihad macam apa itu?

Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk mempertemukan Ema dengan teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli flash disk, di tempat yang dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang akan memberikan presentasi kepada Ema tentang konsep Khilafah Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas cara yang picik, licik, yang dipakai untuk sebuah tujuan berjuang di jalan kebenaran.

"Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada Ema.
"Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih lugu soal wacana Islam ini.

Saya katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk menjadi seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia sekarang muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?

Saya ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya agama Islam ke tanah air. Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka menyebarkan Islam di daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap demi setahap, agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu, di daerah lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh para pedagang Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan Hindu-Budha.

"Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort Geertz dibedakan ke dalam tiga golongan: Santri, Abangan, dan Priyayi," tanya saya kepada Ema.

Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo, terutama yang dimotori oleh Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang begitu lentur, melalui pendekatan budaya dan kesenian. Ia menggunakan kesenian wayang untuk menyebarkan agam Islam. Tokoh-tokoh perwayangan yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan Hindu-Budha itu, diganti dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah islam. Kalijaga tak hendak membuang budaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Jawa itu dengan menggantikannya dengan syariat Islam. Ia memakai cara-cara yang lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai Islam. Ibarat tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma membuang isinya, dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Dengan pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak harus dengan menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti yang tertulis di Al Qur'an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang ada di Arab. Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat berdasar letak geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat dengan jenis kultur dan budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi Islam, termasuk orang Jawa yang masih percaya terhadap sedekah laut, misalnya.

****
Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak mendirikan negara Islam itu?

Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang yang mengajaknya adalah orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya kenal memiliki latar belakang pesantren, dan beberapa kali terlibat diskusi soal pluralisme. Dan ternyata tak cuma Ema, masih ada korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, Fatima, yang diantaranya sudah ada yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa ke Jakarta untuk dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama, dari mereka membuat janji bertemu di toko buku, di rumah makan; kemudian dikenalkan kepada teman; bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; dicuci otak dan sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-lain.

Dari korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana dia sampai di Jakarta ( (tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu itu korban menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil, entah dibawa ke mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang mengajak Ratih, menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari Semarang lepas pukul 24.00. Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun dari kereta ia dijemput sebuah mobil. Ia diminta menutup mata hingga sampai di tempat tujuan. Tibalah ia di suatu ruangan tertutup. Di sana ia "dicuci-otaknya".

Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu dinamai NKA (Negara Karunia Allah), kadar keislaman dan ubudiyah mereka. Mereka menafsir ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong-potong untuk kepentingan mereka. Bahkan mereka tampak tak mengusai ilmu tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata Bani yang berarti anak, Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda yang mengetahui ilmu tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran jemaah NKA ini.

Anggota Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu dalam ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari Jakarta, tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri, Fani diajak ke satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas, tepatnya Ngesrep yang terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Entah atas pengaruh apa, Fani waktu itu yang diminta menutup mata ketika diboncengkan motor tak mencoba untuk mencari tahu hendak ke mana dia dibawa pergi. Ia tak mencoba membuka mata untuk mencari tahu. Apa mungkin ada pengaruh magis?

Setiba di suatu tempat, yang mirip tempat kos, dia bertemu dengan beberapa perempuan yang semuanya tak mengenakan Jilbab. Dia bertanya, kenapa tak mengenakan jilbab. Dijawab, mereka yang sedang berjihad tak diwajibkan memakai Jilbab. Begitu pula, ketika Fani bertanya kenapa mereka tak Sholat, dijawab orang yang lagi berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh Imam. Kita ini lagi dalam kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru setelah berhasil mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat Islam. Tak jauh dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke tempat kos pria.

Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?

Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan siapa. Jihad, jihad untuk apa?

Saya cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Saya tak ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan negera Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan politis, alasan yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!

Dari cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga telah menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara Karunia Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi tertutup. Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan batang-hidungnya di kampus. Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.

Suatu hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang itu. Saya minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. Saya ingin mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya untuk bisa bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup tinggi. Ia cuma sesekali nongol di kampus. Itupun saya duga untuk mencari mangsa baru.

Saat Adi sedang menunggu korban, saya menghampirinya. Saya pura-pura tak tahu. Saya ajak ngobrol hal remeh-temeh. Kemana saja kok jarang keliahatan. Gimana kabarnya. Saya singgung-singgung soal kondisi di Indonesia yang belakangan bermunculan gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru kemudian, saya minta dia untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia lakukan selama ini.

Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah ketangkap basah.

"Oke, kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini sedang punya masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap menganggapmu sebagai teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku siap. Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk menggerakkan semua teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.

Saya berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci otaknya, sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya kini. Atau sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas itu, karena ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari beberapa korban yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu mereka ketakutan karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap, termasuk nama orang tua dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban itu menerima SMS dari anggota NKA. Korban diminta untuk tetap berkomunikasi dan tetap menjaga rahasia. Adakah ancaman yang mengerikan jika korban membuka rahasia itu ke orang di luar kumintas NKA? Mungkin saja!

Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta modus-modus yang digunakan oleh orang-orang yang hendak mengajak korban, saya menduga mereka yang menamakan aktivis NKA itu tak jauh beda dengan jemaah Negara Islam Indonesia (NII) yang telah meresahkan banyak orang. Dari penelusuran di internet, ternyata sudah banyak korban semacam Ema dengan modus yang sama. Sudah banyak laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu kenapa sindikasi ini hingga kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, NII ini punya backing inteljen ataupun TNI. Silakan baca di sini. ****


Catatan:
1 Beberapa nama (Ema, Fani, Ratih, Fatima) adalah bukan nama sebenarnya. Penggunaan nama samaran ini sengaja ditulis demi keamanan narasumber yang masih berstatus mahasiswa. Selain juga akan adanya intimidasi dari anggota NKA/NII karena telah membocorkan rahasia.
2 Saya menggunakan istilah "korban" bagi mereka yang diajak bergabung dengan NKA atau NII atas pertimbangan ajaran yang tidak masuk akal yang diajarkan oleh organisasi itu, yang menurut saya menyesatkan.
3 Gambar ilustrasi pendukung saya ambil dari http://www.allthingsbeautiful.com/yang diberi caption "Jihad Barbie".

Sunday, April 22, 2007

Akar,Batang,Buah


source


Lalu, Syaykh kemudian menambahkan, “Akar, batang dan buah.” Pendeta Rudy kemudian mengangguk lalu mengayunkan palu besar itu sebanyak tiga kali menghantam patok kayu itu.

Saturday, April 21, 2007

Kaedah melunaskan Infaq, 58:12 dan Zakat 9 pintu


Bagaimana untuk melunaskan dana untuk Negara Kurnia Allah?

1- Bagi siswa, anda boleh membayar dana selaku tanggungjawab warga Madinah(MD) dengan menggunakan pinjaman siswa anda, iaitu PTPTN
PTPTN perlu anda lunaskan semula ENAM bulan selepas anda graduate dengan service charge sebanyak 3%. Kegagalan anda melunaskan dana ini boleh menyebabkan nama anda disenaraihitamkan dan penjamin anda bermasalah kelak.

Bagi pelajar yang cemerlang tapi ingin masuk syurga dengan jalan tunggal/haq iaitu warga MD (kerana jika anda belum MOU2 anda masih kafir dan calon ahli neraka), cara lain ialah dengan:


2- Bagi yang baru graduate, anda boleh meminjam dana Bank Rakyat untuk pinjaman peribadi. Negara/Daulah masih miskin, tanggungjawab anda untuk mengayakannya. Ingat, anda dijanjikan untung 700% di atas kemampuan anda berjihad (menjadi sapi perah tanpa akhir)

3-Bagi pimpinan yang terpaksa berhenti kerja untuk bergiata fulltime menjadi balaci/pencacai/mujahid Negara Kurnia Allah ini,anda boleh melakukan bisnes:

  • Jual barangan dapur dengan "markup" harga kepada umat bawahan
  • Menaikkan nilai infaq
  • Menaikkan nilai wang haji untuk MOU2 ke Ka'bah abad ke 21 dari RM1400 kepada RM3500
  • Memperkenalkan infaq baru kepada calon warga dan ahlul bait

Mudah bukan? Syurga di tangan anda, berinfaqlah, dan jangan ragu-ragu lagi.

Monday, April 16, 2007

Temuramah bersama anak Imam SMK (Sarjono Kartosuwiryo)

source

Jumat, 06 Apr 2007,
Negara Islam Belum Memikat

Sarjono Kartosuwiryo

Pada 1950-1960-an, hanya seperseribu rakyat Indonesia yang menerima gagasan negara Islam. Kini lebih kecil lagi: satu per dua atau tiga ribu. Demikian Sarjono Kartosuwiryo, anak kandung SM Kartosuwiryo (pendiri DI/TII), yang kini bergiat di Forum Silaturahmi Anak Bangsa kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) Kamis lalu (29 Maret) di Radio 68H Jakarta.
--------------

Beberapa waktu lalu ada sekelompok orang yang mengatasnamakan NII, yang meminta sumbangan dan melakukan beberapa penjarahan di Jawa Barat. Sebagai anak kandung almarhum SM Kartosuwiryo, pendiri DI/TII, apa tanggapan Anda?
Pertama-tama saya kaget juga ketika ada gerakan yang menamakan diri sebagai gerakan Negara Islam Indonesia (NII) sampai saat ini. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa mungkin negara Islam dibangun di Indonesia dalam keadaan seperti ini? Sepanjang perhitungan saya dan pertimbangan akal sehat manusia, itu tak mungkin, kecuali hanya untuk menjual isu belaka.

Pada beberapa siaran media massa, saya tercengang karena ada yang menghubung-hubungkan gerakan ini dengan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) SM Kartosuwiryo. Padahal, yang namanya DI/TII Kartosuwiryo itu selesai sejak 1962.

Setelah itu, tak ada lagi gerakan yang menamakan DI/TII, baik di siaran pers maupun di tempat mana pun. Yang ada adalah gerakan sekelompok orang yang menamakan diri NII. Lalu, NII ini, terutama yang KW-IX di daerah Jakarta, mengadakan tindakan-tindakan yang abnormal, seperti tindak-tindak kriminal.

Ada berapa KW di NII saat ini?
Yang saya tahu ada sembilan. KW-I di Priangan Timur, KW-II di Jawa Tengah, KW-III di Jawa Timur, KW-IV di Sulawesi, KW-V di Aceh, KW-VI di Sumatera selain Aceh, KW-VII di Garut dan Bandung, KW-VIII di Kalimantan, dan KW-IX di Jakarta.

Nah, sampai kini gerakan ini masih hidup, independen, dan terlepas dari induknya. Dan, di antara orang-orang yang aktif di KW-IX tidak ada satu pun anak Kartosuwiryo, ataupun bekas anak buahnya. Semua adalah orang-orang baru yang mengambil isu Negara Islam Indonesia supaya produknya bisa dijual.

Sepertinya ada keterputusan ideologis antara Anda dan almarhum ayah Anda. Apa bisa disebut Anda bukan anak ideologisnya?
Bagi saya, Islam itu berasal pada suatu keinginan hidup yang mendambakan keselamatan di dunia dan di akhirat. Itulah yang selalu didengungkan para mubalig. Itu sudah merupakan cita-cita umum umat Islam. Kita ini selalu mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nah, Kartosuwiryo ini memodifikasi model mencapai kebahagiaan itu. Dalam perjalanan hidupnya, dia memulai karir di Serikat Dagang Islam (SDI), lalu di Serikat Islam (SI), di Partai Islam Indonesia (PII), ke Masyumi, sampai kemudian mendirikan DI/TII.

Itu semua dia lakukan untuk mengangkat Islam dan bangsa Indonesia dari kondisi keterpurukan penjajahan menjadi bangsa yang terhormat di mata dunia. Tapi, sayang, pada 1962, para pengikutnya di seluruh wilayah Indonesia baru berjumlah 40 ribu dari total jumlah penduduk Indonesia yang sudah berjumlah 40 juta saat itu. Jadi, rasionya satu berbanding seribu. Itu suatu kepemimpinan yang tidak mungkin.

Akhirnya, gerakan itu berakhir pada 1962 dengan keluarnya Maklumat Imam yang menyerukan untuk mengakhiri tembak-menembak dan kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Ketika itu, usia saya baru lima tahun. Dan, saya dibesarkan sudah di daerah ini, di negeri ini, ketika bapak saya meninggal.

Jadi, ada modifikasi?
Ya, ada modifikasi dalam sejarah hidup Kartosuwiryo. Awalnya dia masuk di SDI, lalu SI, lalu PII. Akhirnya, dia membentuk DI/TII. Jadi, ada perkembangan mental dan keorganisasian sesuai dengan kondisinya saat itu. Begitu juga saya. Saya harus berkembang mengikuti kondisi masyarakat saat ini. Jadi, saya tetap harus bergumul dengan kondisi saat ini. Kalau tidak bergumul, perjuangan saya bisa mati.

Kita tahu, dulu ayah Anda membuat konstitusi Darul Islam yang bersifat eksklusif. Salah satu butirnya mengatakan bahwa pemimpin negara wajib Islam dan menteri-menterinya juga wajib Islam semua. Kalau dievaluasi, apakah pemikiran seperti itu perlu?
Inti pertanyaan Anda adalah: mungkin nggak saya menarik model tahun 1962 itu ke model tahun 2007, sampai ke depan? Nah, model ini sudah saya jelaskan dari awal; hanya seperseribu rakyat Indonesia yang menerimanya. Sisanya belum menerima.

Ketika itu saja, pemasarannya sudah begitu. Apalagi sekarang; angkanya pasti lebih kecil. Mungkin sudah menjadi satu per dua ribu atau satu per tiga ribu. Jadi, sesuatu yang tidak mungkin kalau kondisi masyarakat Indonesia seperti ini.

Apa itu berarti masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ingin ber-Islam secara kultural saja tanpa memaksakan ideologi Islam pada aspek kenegaraan?
Ya. Islam Indonesia itu kan Islam yang sangat awam. Orang mengartikan Islam itu hanya di KTP (kartu tanda penduduk). Memang, ada kelompok tertentu yang mempelajari Islam lebih dalam. Tapi, mayoritas umat Islam itu hanya KTP. Dan, karena itu, tidak mungkin dibangun suatu Negara Islam di atas masyarakat seperti itu.

Apakah suatu saat perlu dibangun Negara Islam di Indonesia?
Itu sama dengan pertanyaan: seandainya saat ini adalah kerajaan dinosaurus, kemudian dua ribu tahun lagi ada kerajaan kera, apakah mungkin dibangun negeri kera? Wah, itu tidak bisa saya jawab. Suatu masa yang berbeda itu tidak bisa diandai-andaikan.

Pernahkan Anda bersentuhan langsung dengan orang-orang yang masih berpikir perlunya Negara Islam Indonesia?
O, banyak. Jadi, memang mereka berpikiran ideal. Artinya, untuk mengangkat nilai-nilai Islam supaya Islam bermarwah, orang Islam diharuskan untuk mendirikan negara Islam. Mereka berpikir, kalau orangnya Islam, negara idealnya harus Islam. Itu bukan berarti bentuk negara lain tidak bisa, bisa saja, tapi itu tidak dianggap ideal.

Aspek-aspek apa yang membuat negara Islam itu mereka anggap ideal?
Yang jelas, adanya kontrol. Dalam negara kita sekarang, tidak ada kontrol dari Tuhan. Di negara Islam, setiap individu setiap hari dikontrol oleh Tuhan. Dengan begitu, dia tidak berani untuk melanggar walaupun pimpinannya tidak ada.

Saat ini asumsi seperti itu kan dianggap naïf. Setiap kekuasaan diandaikan punya potensi untuk korup. Makanya diadakan institusi pengontrol pemerintahan, seperti DPR dan Mahkamah Konstitusi.

Apakah gagasan seperti itu tidak menarik bagi yang memperjuangkan negara Islam?
Menarik atau tidak, itu bergantung pada konteks orangnya. Kalau melihat dari jumlah orang yang setuju daripada yang tidak setuju negara Islam, sekarang (yang setuju) memang masih sangat kecil, yaitu di bawah 10 persen.

Jadi, gagasan negara Islam belum menarik atau belum memikat?
Ya. Sebab, tidak ada bukti yang nyata bahwa negara Islam mampu memberikan jawaban atas tuntutan-tuntutan masyarakat. Ketika suatu masyarakat berpikir terhadap negara Islam, mestinya dia minta tuntutan, dong! Saya mau sekolah, tapi sekolah di mana? Saya mau kerja, tapi kerja di mana? Kalau itu tidak bisa dijawab, (gagasan itu) akan ditinggalkan.

Berarti ada aspek praktis yang juga harus ditanggulangi oleh para ideolog negara Islam sekalipun?
Ya. Dalam tataran tekstual, memang itu (negara Islam) sesuatu yang ideal. Tapi, itu tidak bisa diterapkan dalam masyarakat yang tidak ideal. Kemiskinan dan kebodohan itu harus dilepaskan dulu. Jadi, masyarakat harus dipintarkan dulu biar tidak bodoh lagi, biar tidak miskin. Orang yang miskin itu tidak peduli terhadap negara Islam atau tidak.

Apakah saat ini Anda punya ideologi yang berseberangan dengan almarhum ayah Anda?
Masalah ideologi itu kan rumusan tentang suatu cita-cita. Kita pengin begini, mimpi begini. Saya rasa, saya tidak pernah berseberangan dengan bapak saya. Jangankan dengan bapak saya, dengan seluruh umat Islam di dunia juga saya tidak pernah bisa berseberangan. Saya hanya menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Problemnya, ada beberapa paket untuk selamat dunia-akhirat. Yang minimal adalah paket menjalankan segenap rukun dan ajaran Islam, tanpa harus diurus negara sekalipun. Tapi, ada juga yang ingin paket maksimal atau kaffah.

Paket mana yang Anda pikirkan?
Paket saya adalah paket yang minimal tapi kaffah. Ketika semua persyaratannya sudah kaffah, suatu dosa kalau kita tidak melakukannya. Ketika kita sudah punya waktu, ketika sudah mengambil wudu, tapi tidak melakukan salat, itu adalah suatu dosa. Begitu juga dengan yang lain-lain.

Tapi, contoh salat itu kan sederhana. Tanpa diurus negara, kita bisa salat di mana pun, bisa wudu di mana pun; yang penting ada airnya. Dan, kalau tidak ada air pun, kita bisa tayamum.... (novriantoni)


Nota dari penjaga web al-kahfi: Tidak ada yang namanya solat aqimuddin,diajarkan kepada sekalipun kepada anak tokoh NII. Anehnya ibadah NII KW IX jelas amat berbeda dari praktik akhlak,ibadah dan syariahnya.


Hudan yang sebenar?

source

Semoga Allah membalas usaha anda utk kembangkan ilmu Al Quran.saya harap
usaha anda dapat menangani kesesatan yg ada di negara kita ni. Saya yg
kini berada di Johor nak kongsikan satu cerita berkenaan bahana Ajaran
Sesat yg wujud sekitar Johor sini. Ada beberapa kawan saya mendedahkan yg
dia dah terikut satu ajaran sesat yg kununnya ia satu macam usrah yg
bertujuan mendalami isi Al Quran / tafseer. Saya tak tau nama sebenar
usrah / atau pergerakan itu .. dulu nya saya sendiri pernah di ajak oleh
sorang pengikut setia kumpulan itu - tapi saya menolak.Saya menolak sebab
dia belajar / mengajar tafseer Al Quran dgn cara yg tak betul.

Dia baca terjemahan lepas tumenghuraikan ayat itu ikut kepala otak dia...
sedangkan kalau nak tafsir al Quran mcm tu kita kena ada ilmu yg cukup -
bahasa arab, ilmu hadis dan lain2. Saya ingat dia ada rujuk kpd kitab
tafseer mana2 ke... saya tanya dia : KAU PAKAI KITAB TAFSIR YG MANA SATU
??? Dia gagal memberi jawapan ... banyak sangat dia punya
rahsia. maknanya kitab tafser pun tak pakai - maka sah lah dia org ni
tafser Al Quran ikut kepala otak sendiri !!!!!!!

Saya baru tau pengelibatan kawan saya tu baru2 ini lepas dia buat pendedahan,...

kawan saya tu semua jenis yg masa mudanya nakal dan ada di antaranya dulu nya
biasa buat dosa - tapi sekarang lepas dah ada anak bini baru la terpikir
nak cari ilmu islam.... so bila gerakan sesat tu cakap sikit pasal al
Quran - kawan saya tu rasa macam org tu hebat atau ilmunya tinggi
berbanding diri dia,... so dia pun ikut la kumpulan tu - nak dapat ilmu
la kununnya... yg saya nampak kumpulan tu banyak MENYALAH TAFSIR AYAT
AYAT AL QURAN... kumpulan tu buat ajaran - katanya kalau nak bersihkan
diri kita - kita kena korban,,.. lepas tu dia tanya kita : KITA NAK
KORBAN MACAM MANA ?? Lepas tu dia rujuk ayat yg berkaitan korban Nabi
Ibrahim yg mengorbankan anak nya Ismail... So dia cakapla .. BERDASARKAN
AYAT QURAN ITU NABI IBRAHIM KORBAN KAN ANAK DIA .. DAN KEMUDIAN ALLAH
TUKARKAN ANAK DIA JADI QIBAS / KAMBING... JADI KORBAN KITA ADA LAH DALAM
BENTUK KAMBING ATAU NILAI YG SETARA DGN KAMBING TU...\\ So kisahnya -
harga kambung zaman sekarang ni dlm RM 400.. ahli ajaran sesat tu pun
buat KURBAN mereka dgn membayar duit KORBAN (kununnya) sebanyak purata RM
400..... Lepas tu menyalah tafsir konsep hijrah... dia org ada buat
ibadah hijrah - di INDONESIA... yg ni saya tak ingat sebab apa kumpulan
tu buat Hijrah...

kalau tak salah utk pembersihan jiwa jugak la kununnya
!!! Jugak mereka menyalah tafsir Surah Al Kahfi... Untuk pengetahuan anda
anda semua - gerakan ini berleluasa - di Johor sini ada antara ahlinya yg
pensyarah universiti di Johor - maksudnya gerakan ni dah sampai ke
universiti... menurut kawan saya yg dah insaf ni... ada jugak org2
tertentu yg lokasi nya di KL ... tapi dia tak tau siapa.... Gerakan tu
amat menjaga kerahsiaan mereka... kawan2 saya cuma kenal pemimpin
tempatan situ aje... tapi dia org tak pernah dapat jumpa pemimpin
tertinggi .... SIAPA AGAKNYA??? hahaha Entah entah AYAH PIN KOT..... Saya
memberi maklumat ini sebab saya tahu laman web ini ada banyak yg ada
kesedaran agama... dan saya harap anda menyebarkan propaganda ini supaya
MASYARAKAT BERHATI2 DGN GERAKAN ITU...\\ Yelah... kalau nak belajar
tafser ikutlah ustaz2 yg memang ada berkebolehan dlm bidang tu. itu saja
mesej dari saya. Ma 'a Salaama.
~

Saturday, April 07, 2007

Glosari al-kahfi: Cash Cow alias Sapi Emas Perahan


source
In business, a cash cow is a product or a business unit that generates unusually high profit margins: so high that it is responsible for a large amount of a company's operating profit. This profit far exceeds the amount necessary to maintain the cash cow business, and the excess is used by the business for other purposes. The expression is a metaphor for a dairy cow, which after being acquired can be milked on an ongoing basis with little expense.

Risks of a cash cow include complacency, with management ignoring the need for change as market forces erode value; and ongoing turf wars between the management in charge of the cash cow and other managers trying to garner support for other products.

Sunday, April 01, 2007

Former Members Warn Against NII

source

JAKNEWS.COM---Former members of a religious congregation allegedly affiliated with the Indonesian Islamic State (NII) movement urged the Bandung chapter of the Indonesian Ulema Council (MUI) Tuesday to issue a warning about the congregation.

The former members went to the MUI Bandung chapter on Jl. Martadinata in Bandung, West Java, asking it to alert the public to aggressive tactics allegedly used by the movement.

Dede Ahmad, 34, a former NII member, said he was worried over increasingly strident efforts to collect donations, supposedly to establish an Islamic state.

"Now they are aggressively campaigning in Depok (West Java) and Jakarta. We don't want to see them thrive again in Bandung like seven years ago," said Dede, who led an NII village in Pulogadung, Jakarta from 2000 to 2003.

Dede said it was difficult to track what the money was actually being used for.


"Such methods used to be applied by my colleagues to gather funds to be transferred to the organization," Dede said, adding that as an NII leader he had to pay Rp 16 million (US$1,684) per month collected from members.

The NII movement was well known in the early years of this decade when it recruited new members through prayer groups at public and university mosques. Each member was obliged to pay a monthly contribution. Those who did not were punished by being isolated in rooms.

Fearing punishment, many members ended up resorting to theft, deceit and blackmail to get the money.

Egi Rahmadi, 25, whose younger brother had been an NII member, said supervision of prayers on campuses should be tightened because the NII netted new members through religious mentoring.

"My brother entered NII through an introduction at a campus prayer activity," Egi said.

Responding to the complaints, Rafani Achyar, general secretary of MUI's West Java chapter, said both security officers and government agents had been unable to determine who was behind the NII movement. Thus it was difficult for MUI to attempt to get rid of the movement, he said.

Rafani said MUI had not remained silent, however. He said the organization had held activities within the last year in both East and West Java to explain its views against the establishment of a state within the unitary state of the Republic of Indonesia.

"We are encountering difficulties following up on this case due to the absence of evidence," Rafani said.

Hedi Muhammad of the Deviation Movement Investigation Team of the Indonesian Muslim Followers and Ulema Forum said that as of 2000, at least 260 former NII members had repented and were ready to testify in court.

"The problem is that there should have been a case report from the police at the court. No investigation of the case has been conducted by the West Java police thus far. We also question this," Hedi said.

Pro Kontra Projek Pembinaan Madinah Indonesia (Madinah II)

Artikel 1
Artikel 2
Artikel 3
Artikel 4

Adakah Syirik Mulkiyah?

source

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Ustadz, yang saya ketahui, bahwa syirik itu ada 3: Syirik Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyah. Jika salah satunya saja, kita tidak menjalankannya, maka Allah tidak menerima amal kita. Yang saya tanyakan, berarti jika kita tidak berusaha untuk menegakkan Din Islam, dalam tanda kutip tauhid mulkiyah (Undang-undang dan peraturan Islam) di Indonesia, maka kita termasuk syirik. Karena ketiga tauhid di atas tidak bisa dipisah-pisahkan. Mohon penjelasannya. Syukron.

Wassalamualaikum wr. wb.

Nono Taryono
nono at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Umumnya yang seringkali diungkapkan dalam pelajaran ilmu tauhid adalah seputar masalah rububiyah, uluhiyah dan asma' wa shifat. Pembagian masalah tauhid kepada tiga hal ini kalau mau dirunut adalah berdasarkan apa yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi dalam Kitab At-Tauhid, susunan beliau yang teramat poluler itu.

Bahkan kurikulum pelajaran aqidah di beberapa universitas di Saudi Arabia umumnya menggunakan tiga konsep tauhid ini. Selain itu memang telah disusun banyak kitab syarah atas kitab At-Tauhid ini.

Sedangkan konsep tauhid mulkiyah, tidak secara tegas disebutkan di dalam kitab susunan Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab, meski bukan berarti beliau dan para pengikutnya menentang kewajiban penerapan hukum Islam di suatu negeri.

Istilah mulkiyatullah sendiri sesungguhnya diambil dari lafadz Al-Malik, salah satu nama Allah SWT yang juga tercantum di dalam Al-Quran, yang berarti raja atau penguasa.Kalau kita cermati surat pertama dalam susunan Al-Quran, di dalam surat Al-Fatihah akan kita dapati pernyataan pujian kepada Allah SWT sebagai rabbil-'alamin (rububiyatullah), maaliki yaumid-diin (mulkiyatullah), iyyaka na'budu (uluhiyatullah).

Demikian juga di dalam surat terakhir Al-Quran yaitu di dalam surat An-Naas, kita diminta berlindung kepada Allah dalam tiga sifatnya, rabbinnass (rububiyatullah), malikin-nass (mulkiyatullah) dan ilahinnaas (uluhiyatullah).

Sehingga penyusunan sistem ilmu tauhid dengan tiga konsep rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah, pada dasarnya boleh-boleh saja dan bukan hal yang mengada-ada. Sebab kalau dikatakan mengada-ada, toh sumbernya juga dari lafadz Quran juga, bahkan disebutkan secara eksplisit.

Malah tiga konsep tauhid susunan Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang hanya menyebutkan rububiyyah, uluhiyah dan asma' wa shifat, tidak secara berurutan dan eksplisit disebutkan di dalam Al-Quran. Artinya, apa yang beliau susun itu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari sebuah ijtihad, bukan wahyu yang turun.

Barangkali, kebutuhan yang beliau rasakan di masa itu memang sebatas apa yang beliau kemukakan. Dan selama sebuah manhaj itu merupakan ijtihad, tentu sangat dimungkinkan untuk disesuaikan dengan keadaan dan kondisi tertentu.

Tauhid Mulkiyah

Tauhid mulkiyah boleh saja dimasukkan sebagai bagian dari visi ketauhidan seorang muslim. Namun implementasinya perlu dipahami secara integral. Tauhid Mulkiyah memang menegaskan bahwa setiap muslim harus mengakui bahwa Allah SWT bukan hanya sekedar Maha Mencipta, Maha Memberi Rizki, Maha Memelihara atau Maha Memiliki, tetapi juga sampai batas pengakuan bahwa hanya Allah SWT saja yang berhak membuat hukum dan undang-undang untuk mengatur hidup manusia.

Kalau pun ada peraturan, undang-undang atau detail hukum yang diserahkan kepada manusia (qadhi), maka harus merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah, paling tidak, bebas dari tabrakan dengan sumber-sumber hukum Islam.

Dasarnya adalah firman-firman Allah SWT berikut ini:

أليس الله بأحكام الحاكمين

Bukankah Allah hakim yang paling adil? (QS. At-Tiin: 8)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An-Nisa: 65)

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (QS. Al-Maidah: 49)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Maidah: 45)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq. (QS. Al-Maidah: 47)

Tauhid Mulkiyah Bukan Takfir

Namun demikian, apa yang kita pahami dari tauhid mulkiyah ini jangan sampai tergelincir kepada paham sesat takfir. Tauhid mulkiyah tidak dipahami sebagai kaedah bahwa setiap orang yang tidak berhukum pada hukum Allah lantas menjadi kafir dengan sendirinya.

Bagaimana dengan mereka yang memang ditakdirkan lahir di negeri yang tidak menjalankan hukum Allah? Bahkan kalau kita mau lebih ekstrem lagi, hari ini sesungguhnya tidak ada negeri yang menerapkan hukum Allah.

Tauhid Mulkiyah tidak disusun dalam konsep untuk mengkafirkan orang yang kebetulan menjadi penduduk di negeri yang tidak menjalankan hukum Allah. Karena mereka bukanlah penguasa yang punya tanggung-jawab untuk menerapkan hukum Allah sebagai undang-undang positif yang berlaku.

Tauhid mulikyah menuntut umat Islam dengan segala kemampunan dan wewenangnya untuk mengakui Allah sebagai Al-Hakim (pembuat hukum dan sumber). Paling tidak ini harus menjadi i‘tiqad yang menghujam di dalam hati. Dan secara lisan kita harus mengakui bahwa hanya hukum Allah-lah yang benar dan harus diikuti sebagai seorang muslim.

Seseorang menjadi tidak benar i‘tiqadnya secara mulkiyah, bila secara terang-terangan tidak mengakui kebenaran hukum Islam, menolaknya atau membencinya. Seorang menjadi rusak aqidahnya secara mulkiyah, bila memerangi hukum yang Allah turunkan, apalagi sampai menghina dan mengatakan bahwa hukum Allah itu hanya untuk orang arab padang pasir saja.

Namun untuk menggolongkan mereka secara langsung sebagai musyrikin, tentu tidak sederhana itu. Karena, sebuah tuduhan harus di dasarkan pada kekuatan hukum dan bukti-bukti yang kuat. Tidak bisa dengan mudah menuduh seseorang atau menjatuhkan vonis sebagai musyrik kepada sembarang orang.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc