source
Ayat Al Quran yang diselewengkan N11
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillaahirrahmanirrahim
Berbicara tentang Al Quran, tentu mereka yang paling paham adalah ahlinya, para ulama yang mendalami tafsir. Sudah sewajarnyalah ketika kita tidak atau belum memahami suatu ayat, maka ‘palabuhan’ pertanyaan kita adalah kepada para ulama tersebut. Agar tidak tersesat jalan kita, dan agar kita memahami syariat Agama ini sesuai dengan apa yang telah diwasiatkan oleh rasulullah sholallhu’alaihi wassalam. Tidak perlu ragu mempertanyakan ‘sumber’ sebuah penafsiran yang kita dapatkan dari orang lain, agar menjadi jelas kedudukan penafisiran itu apakah sesuai dengan kaidah yang dibenarkan oleh syariat ataukah justru menyalahinya. Karena banyak terjadi akhir-akhir ini mereka yang mengatasnamakan Islam, dengan dalih melakukan ‘rekonstruksi’ penafsiran, tetapi kenyataannya, penafsiran mereka jauh dari apa yang dipahami oleh para ulama(ahli agama), apalagi mendekati pemahaman rasulullah sholallahu’alaihi wassalam sebagai satu-satunya pembawa risalah agama ini. Padahal rasulullah sholallahu’alaihi wassalam telah mewanti-wanti umatnya agar tidak sembarangan berbicara tentang Al Quran, dalam sabdanya “Barang siapa berbicara tentang Al Qur'an dengan akal nya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka’(HR Tirmidzi), ini berarti ketika kita hendak bericara tentang Al Quran harus jelas ilmu dan sumbernya, disamping sebagai tanggungjawab kita dalam menjaga agama Allah ini, juga kaitannya dengan keselamatan kita diakhirat, karena ancaman bagi mereka yang berbicara tentang Al Quran hanya dengan akal saja, siap-siap memilih tempatnya dineraka, na’udzubillah.
Berbicara tentang Al Quran harus merujuk kepada ahlinya(ahli tafsir). Dizaman rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, selain keempat sahabat khulafaur rasyidin, sahabat-sahabat yang dikenal memiliki pemahaman Al Quran yang baik adalah Ibn Mas’ud ra, Ibn Abbas ra, Ubai bin Ka’b ra, Zaid bin Tsabit ra, Abu Musa al-Asy’ari ra, dan Abdullah bin Zubair ra,serta istri rasulullah sholallahu’alaihi wassalam ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu anha. Dan yang terbaik diantara yang baik tadi adalah pemahaman Ibnu Abbas ra, karena secara khusus rasulullah sholallahu’alaihi wassalam mendoakan beliau ra seperti dalam beberapa riwayat dikatakan Rasulullah pernah merengkuhnya ke dada beliau seraya berdoa, "Ya Allah, ajarilah ia al-hikmah." Dalam suatu riwayat disebutkan, "(Ajarilah ia) al-Kitab (Alquran)." Dan didalam riwayat yang lain rasulullah sholallhu’alaihi wassalam berdoa sambil mengusap kepalanya ''Ya Allah, anugerahilah pemahaman agama kepadanya”. Bahkan beliau ra dalam usianya yang sangat muda telah menjadi rujukan para sahabat-sahabat rasulullah sholallahu’alaihi wassalam dalam masalah agama, dimana Umar bin Khattab pernah berkata "Apa pendapat kalian mengenai firman Allah, 'Bila telah datang pertolongan Allah dan Penaklukan.' (surat An-Nahsr hingga selesai). Maka, sebagian mereka berkata, "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya bila kita menang (dapat menaklukkan Mekkah)." Sebagian lagi hanya terdiam saja. Lalu, Umar pun berkata kepada Ibnu Abbas, "Apakah kamu juga mengatakan demikian?" Ia menjawab, "Tidak." Lalu Umar bertanya, "Kalau begitu, apa yang akan kamu katakan?" Ia menjawab, "Itu berkenaan dengan ajal Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam di mana Allah memberitahukan kepadanya bila telah datang pertolongan-Nya dan penaklukan kota Mekkah, maka itulah tanda ajalmu (Rasulullah-red), karena itu sucikanlah Dia dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya karena Dia Maha Menerima Taubat." Umar pun berkata, "Yang aku ketahui memang seperti yang engkau ketahui itu.". Itulah Abdullah bin Abbas, atau yang dikenal dengan Ibnu Abbas ra, sahabat yang paling paham Al Quran. Dan ‘kaidah’ tafsir yang beliau(Ibnu Abbas ra dan para sahabat yang lain) lakukan menjadi dasar seluruh ulama tafsir hingga saat ini dalam memahami Al Quran. Menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, ayat dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah, atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in wat tabiut tabi’in(generasi setelah sahabat dan setelahnya) karena mereka pada umumnya menerimanya langsung dari para sahabat rasulullah sholallahu’alaihi wassalam. Itulah penafsiran yang ‘tertinggi’, tafsir yang ma’tsur, yang sampai kepada pemahaman rasulullah sholallhu’alaihi wassalam. Dan dalam perjalanan generasi setelahnya,banyak mufassirin yang mencoba menafsirkan kembali ayat-ayat Al Quran nul kariim itu dengan mengaitkan realita zaman meneruskan tradisi keilmuan dalam Islam tsb, tanpa keluar dari kaidah-kaidah penafsiran yang benar,salah satunya yang masih aktual sampai saat ini adalah tafsir Ibnu Katsir, dimana jawaban terhadap ayat-ayat ‘penafsiran’ N11 berikut ini diinspirasi dari tafsir ibnu katsir rahimakumullah.
Mungkin sahabat pernah mendengar ada orang yang tidak menyukai islam mengambil potongan sebuah ayat(Al ma'un:4) yang artinya "maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat". Ayat ini mereka gunakan dalam rangka mendoktrin bahwa ada ketidakkonsistenan didalam Al Quran, disatu sisi menyuruh mendirikan sholat, diayat yang lain malah disumpahi agar celaka jika melakukan sholat. Padahal akan jauh lebih jelas kepada siapa 'kecelakaan bagi mereka yang sholat' itu, jika orang itu mau jujur membaca kelanjutan ayat2nya (Al ma'un 5 - 7) yang artinya "(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna". Meski begitu, kita jangan berhenti pada "arti" saja, karena pemahaman pada ayat diatas tidak cukup bermodalkan arti atau terjemahan, lanjutkan dengan bertanya kepada ahli ilmu(ahli agama/ ahli syariah / ulama)sehingga apa saja yang dimaksud oleh Al Quran sebagai "orang2 yang lalai", "orang2 yang berbuat riya", dan "orang yang enggan menolong dengan hal2 yang berguna" dapat kita pahami makna sebenarnya.
Ternyata begitu juga yang dilakukan oleh para rekruter N11 terhadap Al Quran, mereka dengan serampangan dan sepotong-potong mencuplik ayat tanpa ilmu agar sesuai dengan maksud yang mereka inginkan, agar para rekruter berhasil menimbulkan dalam diri target 'ketakutan' dan 'kepatuhan' terhadap doktrin yang mereka sampaikan, karena seolah-olah sesuai dengan Al Quran. Padahal sejatinya hanya menjadikan ayat-ayat Allah itu sebagai olok-olok dan permainan tipu daya saja, na'udzubillah. Yang diperparah lagi dengan hilangnya sikap “kritis” para target terhadap apa yang diberikan kepada mereka. Para rekruter N11 ini selalu berbicara mengatasnamakan Al Quran, padahal kebenaran Al Quran tidak akan mungkin keluar(baca: bertentangan) dari fitrah manusia dalam mencernanya(dengan akal dan hati), karena Al Quran itu petunjuk bagi manusia. Ambil contoh, kewajiban berzakat itu hanya bagi mereka yang telah mencapai haul dan nisab, atau karena sebab2 misalkan ia mendapatkan harta yang tidak diduga-duga, atau karena dalil-dalil zakat yang lainnya, tetapi tidak pernah dikenal ada syariat zakat hijrah didalam Islam sejak 14 abad yang lalu sampai sekarang kecuali seperti yang dilakukan oleh N11, mewajibkan seluruh anggotanya untuk membayar sejumlah tertentu sebagai infaq wajib bulanan, atau menganggap tidak berlakunya syariat Allah azza wajalla karena perjuangan masih dalam fase Mekkah, dll, padahal jelas-jelas syariat agama Allah ini telah sempurna, dan diperintahkan untuk kita(sebagai seorang muslim) masuk secara kaffah(keseluruhan), bukan dengan mengambil yang cocok, dan membuang yang tidak cocok, bahkan lebih jauh dari itu, mengubah apa-apa yang telah ditentukan(halal dan haram) oleh Allah azza wajalla didalam syariatNya. Itulah sebagian dari rekaan, khayalan dan penipuan mereka terhadap ayat-ayat Allah dan umat Islam Indonesia serta Malaysia. Tidaklah Allah azza wajalla menjadikan agama Islam ini begitu sulit, karena Allah tidak mungkin membebankan sesuatu melebihi kemampuan hambaNya.
Berikut ayat-ayat yang sering digunakan untuk N11 dalam doktrinya kepada para target sebagai pembenaran atas apa yang mereka tawarkan :
===============================
1. Surat Adz Dzariyat ayat 56 (51:56)
“Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah”.
N11 berkata : Arti menyembah: Ibadah ------- yang bermaksud umat Islam harus melaksanakan aturan Islam di negara karunia Allah SWT.
Bantahan : Ayat itu menurut terjemahan kata per kata pada surat adzdzariyat: 56 ini berbunyi "Dan (Aku) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku". Secara umum pengertian ibadah adalah apa-apa yang dilakukan dan tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan diniatkan karena Allah. Para ulama membagi ibadah kedalam 2 jenis ibadah. Yakni ibadah mahdah berupa ibadah yang cara, waktu, dan berbagai halnya telah ditentukan secara pasti dan jelas oleh nash(dalil Quran dan Hadits) serta merupakan inti ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala dimana contoh dari ibadah mahdah adalah salat, puasa, zakat, dan haji. Sementara ibadah ghairu mahdah adalah semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan seperti minum, makan, mencari nafkah, dsb yang dilaksanakan dengan niat kebaikan karena Allah subhanahu wata’ala. Disamping itu dalam tafsir ibnu katsir, dijelaskan bahwa ayat ini merupakan pernyataan Allah azza wajalla kepada hamba-hambaNya dari golongan Jin dan Manusia agar jangan merasa sombong dengan keberadaan mereka dimuka bumi ini. Allah azza wajalla sekali-kali tidak membutuhkan seluruh ibadah jin dan manusia, tetapi jin dan manusia lah yang membutuhkan ibadah kepada Allah azza wajalla, ibadah(kepatuhan terhadap syariat Allah) kepada Allah itulah 'makanan' lain yang sangat dibutuhkan oleh jin dan manusia. Didalam tafsir yang sama, dari ali bin abi talhah dari ibnu abbas ra(salah satu sahabat didikan rasulullah sholallahu'alaihi wassalam yang paling paham Al Quran) berkata, maksud dari ayat itu adalah agar jin dan manusia tunduk(kepada syariat Allah) baik secara suka rela maupun terpaksa, dan ibnu juraij menambahkan, ibadah yang dilakukan oleh jin dan manusia itu dalam rangka mengenal Allah azza wajalla.
Sekarang bandingkan dengan "tafsiran" N11 yang menyempitkan makna ibadah itu dengan melaksanakan aturan islam dinegara karunia Allah(N11). Aturan/ syariat Allah tidak mengenal tempat, meski seorang muslim berada didaerah kafir sekalipun, syariat Islam itu tetap berlaku untuknya, karena seluruh bumi dan alam semesta ini milik Allah azza wajalla. Darimana mereka mendapatkan "bisikan" aneh(jika tidak dikatakan sesat) seperti ini? Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka, aamiin.
=======================
2. Surat Al Maidah ayat 50 (5:50)
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah SWT bagi orang yang yakin.”
N11 berkata : Didalam Negara RI manusianya : Judi juga shalat juga, mabuk juga puasa juga, zina juga zakat juga, Dll
Didalam N11 (Negara Islam) / Negara Karunia Allah hanya ada : shalat, puasa, zakat dll yang semuanya terhitung ibadah.
N11 berdalih ”bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan khusyu', sementara kejahatan dimana-mana, bahkan yang sholat saja masih berjudi dan sebagainya’
Dalilnya “Janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil” (Al baqarah:42)
Negara RI menggunakan hukum jahiliyah, berarti negaranya negara jahiliyah, yang artinya juga rakyatnya adalah jahiliyah. Oleh karena itu kita harus berhijrah.
Bantahan : Sangat tidak logis(terlalu dipaksakan) ketika mengaitkan ada sebagian orang yang masih melakukan sholat tetapi masih melakukan maksiat sebagai sebuah alasan untuk mengajak orang ’berhijrah’ ke N11. Pertama, sholat yang dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai sholat yang mampu menghindarkan pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, adalah sholatnya mereka yang memiliki ilmu tentang sholat itu sendiri ditambah dengan ilmu tentang rukun iman dan islam. Ilmu bagaimana sholat yang benar menurut rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, dan sholat yang hanya diniatkan untuk Allah subhanahu wata’ala. Kedua, perintah Hijrah sendiri didalam Islam turun karena semakin meningkatnya ancaman pembunuhan terhadap kaum muslimin dan kepada rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, bahkan rumah beliau sholallahu’alaihi wassalam telah dikepung oleh kaum kafirun, kemudian atas ijin Allah azza wajalla, pasukan kaum kafirun itu diserang kantuk yang berat, hingga kaum kafirun itu tidak menyadari rasulullah sholallahu’alaihi wassalam telah lolos melewati kepungan mereka. Ketiga, rasulullah hijrah ke tempat yang baru, yang mana sebelum peristiwa hijrah itu, rasulullah sholallahu’alaihi wassalam telah mengutus seorang da’i muda Mushab bin Umair untuk mendakwahkan Islam, dakwah tauhid kepada Allah subhanahu wata’ala, dan atas izin Allah, mayoritas masyarakat madinah saat itu menerima Islam dengan lapang dada. Meski dakwah Mushab bin Umair adalah dakwah yang 'sirr'(rahasia), semua orang tahu siapa yang mendakwahkan Islam dan memiliki kebebasan untuk menanyakan segala hal tentang Islam kepada beliau ra. Bahkan pada suatu kesempatan Mushab bin Umair pernah dihunus oleh orang-orang Yahudi yang tidak menyukai dakwahnya, beliau ra dengan tenang berkata ’kenapa anda tidak duduk dulu bersama kami untuk mendengarkan apa yang saya sampaikan? Bila tertarik, alhamdulillah, bila tidak, kami pun tidak akan memaksakan apa-apa yang tidak kalian sukai." . Dan setelah mendengarkan penjelasan Mushab bin Umair ra tentang Islam, masuklah orang-orang Yahudi itu secara sukarela ke dalam Islam. Ini semata-mata semakin menunjukkan bahwa dakwah Islam itu adalah dakwah yang terbuka, tidak memaksa, dan jauh dari tipu daya. Inilah akhlak seorang muslim yang shahih / benar dari 14 abad yang lalu hingga sekarang.
Sekarang bandingkan dengan apa yang dilakukan N11 dan doktrin-doktrinnya, apakah sudah terpenuhi sebab-sebab seorang muslim harus hijrah? Apakah jiwa mereka terancam di Negara RI ini? Kalaupun mereka hijrah demi menyelamatkan ’diri dan agamanya’ apakah mereka hijrah ke negara lain diluar teritorial negara RI? Jika tidak, apanya yang hijrah?? Jika dikatakan ’pemikiran’nya yang hijrah, pemikiran yang seperti apa yang dihijrahkan oleh N11 ini, jika bukan pemikiran yang merendahkan Islam itu sendiri, dengan dalih ’jihad’ seseorang diwajibkan berhijrah, dan membayar zakat, serta infaq wajib tiap bulannya dengan besaran yang ’wah’ tanpa ada satupun dalil yang benar dan membenarkan tindakan seperti itu, apakah ini yang disebut dengan berhukum pada hukum Allah? Disamping itu, apakah doktrin N11 itu adalah doktrin terbuka layaknya seperti Islam yang diajarkan rasulullah sholallahu’alaihi wassalam? Padahal Islam yang benar pasti didakwahkan dengan cara terbuka, tidak mungkin ada dakwah Islam dengan ketertutupan, kebohongan, apalagi dengan teror kecuali yang terjadi pada aliran sesat.
Sebenarnya ayat ke 50 dari surat Al Maidah itu berlaku secara umum, bahwa hukum Allah adalah syariat Allah tidak menunjukkan ke salah satu hukum(misal hukum bernegara saja). Ayat ini seharusnya tidak dapat dipisahkan dari ayat sebelumnya yang berbunyi ”.. dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah SWT bagi orang yang yakin.” (Al Maidah:49-50) Didalam tafsir ibnu katsir, dijelaskan, ayat ini terkait dengan sebuah kasus zina yang dilakukan oleh 2 orang yahudi dimana mereka meminta rasulullah sholallahu'alaihi wassalam untuk memutuskan perkara diantara mereka, jika hukuman rajam(tubuh ditanam ketanah sedalam setengah badan, kemudian orang yang ditanam tersebut dilempari batu) yang rasulullah pilih untuk mereka, maka akan mereka abaikan. Padahal telah jelas didalam kitab mereka, Taurat, hukuman atas dosa zina itu adalah juga rajam, tetapi diantara mereka kemudian mengubah ketetapan Allah subhanahu wata'ala atas dosa zina tersebut dengan cambukan. Dalam salah satu riwayat, satu diantara mereka menutupi(dengan tangan) ayat tentang rajam tersebut, dan mereka hanya membaca ayat yang telah mereka ubah, hingga salah seorang sahabat rasulullah melihat hal itu dan mengangkat tangan yahudi yang menutupi ayat tentang rajam tersebut, dan terbongkarlah kebohongan mereka.
Terkait dengan doktrin N11 diatas dengan menjadikannya ayat ini sebagai ”dalil” pembenaran perintah ”hijrah” yang mereka doktrinkan, justru dengan ayat ini juga, kita menjawab doktrin mereka diatas, karena disatu sisi mereka seolah-olah bersikap agar kita menggunakan hukum Allah, tetapi disisi yang lain mereka(N11) malah mengabaikan hukum-hukum Allah, dan menggantinya dengan apa-apa yang datang dari hawa nafsu mereka, diantaranya menetapkan hijrah diikuti dengan ibadah zakat ini dan itu,ditetapkan tanpa dalil yang dibenarkan oleh syariat. Apakah mereka menganggap Allah dan RasulNya ’kurang’ jeli sehingga tidak menetapkan aturan hijrah dan zakat itu dengan sempurna? Siapakah yang justru mengabaikan hukum Allah, umat Islam atau N11?
Ayat ke-42 dari surat Al Baqarah yang secara lengkap memiliki arti "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui". Ayat ini justru berbicara tentang perintah Allah subhanahu wata’ala agar tidak mencampur kebenaran dengan kesesatan (menetapkan apa-apa yang tidak pernah ditetapkan Allah dan rasulNya atas dasar syariat Islam), justru seperti yang dilakukan N11, padahal sebagian orang-orang N11 ini tahu mana yang benar, tetapi mereka malah menyembunyikan kebenaran itu, dan menggantinya dengan kesesatan, meski begitu ada sebagian dari mereka tidak tahu tentang kebenaran Islam, tetapi juga tidak/ belum berusaha untuk mencari kebenaran itu. Padahal ada kewajiban bagi setiap muslim untuk terus belajar(membaca dan bertanya kepada ahlinya, para ulama) dan mengamalkan kebenaran Islam itu dengan sungguh-sungguh.
Dan diakhir ayat Allah berfirman agar setiap muslim wajib menyampaikan setiap kebenaran yang ia ketahui agar bisa memberikan manfaat kepada sesama.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan mereka hidayah untuk bertaubat, aamiin.
===========================
N11 berkata:
Kemana kita hijrah? Dari RI ke NI, jika kita tidak berhijrah, sama saja sholat kita dengan siulan dan tepuk tangan.
Dalil : Surat Al Anfal ayat 35 (8:35)
“Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanya siulan dan tepuk tangan, maka rasakan adzab disebabkan kekafiran itu”.
Negara RI ibarat sampah, karena bercampurnya yang hak dan batil(ada yang sholat dan ada yang maksiat). Padahal jika diibaratkan keislaman seseorang seperti buah apel yang bagus(muslim yang berduit/ berpotensi untuk memberikan duit) dan berada ditempat sampah(negara RI), maka tidak mungkin kita membiarkannya ditempat sampah(negara RI), tetapi mesti kita mengangkatnya(ajakan HIJRAH) ke tempat yang meja dan diberikan tempat(ke Negara Karunia Allah).
Bantahan : Dalam tafsir ibnu katsir, dalam menafsirkan ayat 35 dari surat Al Anfal ini tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan ayat sebelumnya(ayat ke 34) sehingga menjadi jelas siapakah ”mereka” yang dimaksud oleh ayat ke -35 dengan ”sembahyang mereka disekitar Baitullah...”, selengkapnya terjemahan kedua ayat itu adalah ” Kenapa Allah tidak mengajak mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertaqwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”(Al Anfal :34-35).
Jelas sekali bahwa “mereka” yang dimaksudkan oleh ayat ke-35 itu adalah orang-orang musyrikin mekkah. Pada saat itu ‘ibadah’ yang mereka lakukan adalah dengan berthawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan telanjang, dengan tepuk tangan dan siulan. Mereka beranggapan bahwa karena ibadah-ibadah(selain thawaf ada diantara mereka bertugas memberi minum para penziarah baitullah) yang mereka lakukan, mereka berhak atas Baitullah itu, padahal hak kepemilikan itu hanya milik orang-orang yang beriman sebagaimana firman Allah azza wajalla “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, me.nunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”(At Taubah :17-18).
N11 menganggap seluruh kaum muslimin yang belum “HIJRAH” adalah kafir musyrik, sehingga menyamakan sholatnya kaum muslimin sebagai siulan, dan tepuk tangan. Padahal pada merekalah tanda-tanda yang menunjukkan kriteria “musyrik” itu ada, karena menambah-nambah syariat Allah subhanahu wata'ala dengan misal menganggap sholat ritual tidaklah penting, padahal pembeda(furqan) utama antara seorang muslim dan seorang yang musyrik adalah pada sholat ritualnya, sebagaimana sabda rasulullah sholallahu'alaihi wassalam “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan mereka hidayah untuk bertaubat, aamiin.
=======================
Menurut N11, balasan bagi orang yang tidak hijrah adalah pada ayat berikut :
Surat An Nisa ayat 97
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri kepada mereka malaikat bertanya: “dalam keadaan bagaimana kamu?” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (makkah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannan itu seburuk tempat kembali.”
Oleh karena itu hijrah dari negara RI ke negara Islam tujuannya adalah ibadah 9:20.
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. dan itulah orang yang mendapat kemenangan.” (At Taubah 20 )
Bantahan : Dalam tafsir ibnu katsir, dijelaskan bahwa pada saat perintah hijrah itu turun, ada sebagian muslim yang karena lemahnya keimanan mereka, mereka ’tertinggal’ di mekkah. Mereka sulit ’melepaskan’ diri dari penguasaan kaum musyrikin mekkah saat itu. Bahkan ketika pada kaum musyrikin itu membentuk pasukan untuk menyerang kaum muslimin, ada sebagian dari kaum muslimin itu karena ketakutannya yang sangat bergabung dengan pasukan kaum musyrikin, sebagian kaum muslimin yang tertinggal lainnya memilih disiksa dan tetap menolak untuk bergabung dengan pasukan kaum musyrikin. Dan tatkala pasukan kaum muslimin madinah yang dipimpin rasulullah sholallahu’alaihi wassalam telah berhadapan dengan kaum musyrikin mekkah, melesatlah anak panah dari pasukan muslimin madinah mengenai kaum muslimin yang bergabung dengan kaum musyrikin mekkah tersebut, rasulullah sholallahu’alaihi wassalam bersabda ”barangsiapa yang bergabung dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya berarti ia sama seperti mereka”(HR. Abu Dawud). Hal inilah yang menjadi penjelasan ayat ke-37 dari surat Annisa yang berarti ” Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?". Mereka menjawab : "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata : "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”(An Nissa:97).
Dan sebagian muslim lainnya yang tidak berhijrah bersama rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, tetapi tidak turut bergabung dengan pasukan kaum musyrikin mekah, dan 'memilih' tetap ditindas karena meskipun mereka berhasil kabur, mereka tidak tahu Madinah itu kearah yang mana, ada pengampunan Allah azza wajalla untuk mereka, yang kita ketahui pada ayat selanjutnya, ayat ke-98 & 99 dari surat Annisa, dimana Allah berfirman “kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.( Annisa:98-99). Jadi ayat tersebut diatas, tidak ada sangkut pautnya dengan doktrin ’Hijrah’ N11 dari RI ke negara karunia Allah? Tidak karena sebab-sebab kesamaan historis, apalagi dalil Qurani. Sehingga semakin tidak ada kaitannya dengan ayat ke-20 dari surat At taubah yang memberitakan keutamaan dan ketinggian derajat orang-orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah azza wajalla dengan mereka yang "hijrah" ala N11 itu. Malah melihat konteks kekinian, hijrah yang utama(bagi umat Islam Indonesia) adalah hijrahnya pemikiran kita kepada pemikiran Islam yang kaffah, dan Jihad yang utama bagi kita adalah bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan dalam segala bidang, dan menjauhkan diri dan keluarga serta masyarakat dari kemaksiatan(syirik, tahayul, bid'ah dll) kepada Allah. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka untuk bertaubat, aamiin.
N11 mengumpamakan :
Buah di umpamakan dengan umat Islam
Batang di umpamakan dengan tempat Negara Islam
Akar di umpamakan dengan aturan hukum Islam Dalil dari Surat Ibrahim ayat 24-25
Tidak mungkin pohon mangga buahnya pisang, itulah perumpamaan yang menggambarkan negara. Kalau ingin menegakkan negara harus dengan hukum Islam. Negaranya harus negara Islam. Rakyatnya Ummat Islam, tidak mungkin yang lain.
Bantahan : Didalam surat ibrahim ayat 24-25 , Allah berfirman yang artinya ” Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Didalam tafsir ibnu katsir dijelaskan, dari ali bin abi thalhah dari Ibnu Abbas ra, "kalimat yang baik" adalah syahadat, "pohon yang baik" adalah orang-orang mukmin, "akar yang teguh" adalah menghunjamnya makna tauhid didalam hati orang-orang mukmin, dan “cabangnya ke langit” adalah amalan-amalan baik orang-orang mukmin yang selalu diangkat ke langit dan diterima oleh Allah azza wajalla. Dan pada kalimat “pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizing Tuhannya” memiliki makna agar setiap mumin hendaknya seperti pohon itu(ibnu Abbas mengatakan pohon yang dimaksud adalah pohon kurma), menebarkan kebaikan tanpa mengenal musim, kebaikan yang banyak, baik, bagus, dan penuh barokah. Hal-hal diataslah yang sangat berguna bagi perbaikan diri dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, bandingkan dengan penafsiran N11 yang sangat dipaksakan sekali agar sesuai dengan hawa nafsu mereka dan cenderung mengada-ada, mengaku-ngaku bahwa negara Islam rakyatnya harus islam? padahal sejarah membuktikan bahwa negara madinah pertama bentukan rasulullah sholallahu'alaihi wassalam terdiri dari berbagai suku dan berbagai agama, dan semua hak warga negara madinah tanpa memandang agamanya apa adalah sama dimata hukum. Bagaimana misalkan kasus pencurian baju besi milik khalifah Ali bin Abi thalib ra, dimana didalam pengadilan justru si pencurilah yang dimenangkan oleh Hakim, dan khalifah Ali bin Abi Thalib menerima keputusan itu dengan lapang dada karena pertama ia tidak memiliki bukti bahwa yahudi tersebut mencuri baju beliau ra, kedua, menunjukkan kepada umat(sebagai pelajaran) bahwa seorang khalifah Ali bin Abi Thalib memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan rakyatnya dimata hukum, tetapi karena sebab ini pula si yahudi akhirnya memeluk Islam dan mengembalikan baju besi yang telah dicurinya dari sang khalifah. Adakah ini bisa ditemukan pada diri orang-orang N11?
Semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan hidayah kepada mereka untuk bertaubat, aamiin.
=======================
RI adalah Neraka karena tidak memakai hukum Allah. (bantahan : N11 berkhayal bahwa mereka lah yang justru menggunakan hukum Allah? Hukum Allah yang mana yang menyatakan orang RI harus berhijrah ke N11?? Na’udzubillah. )
Mengapa kita harus memejamkan mata ketika akan tiba ? Jawabannya adalah menguji keikhlasan karena kondisi orang Islam yang sedang perang dengan kafir. (bantahan : Yang bisa menguji keikhlasan seseorang itu hanyalah Allah, karena ikhlas adalah salah satu perkara hati, Allah jualah yang tahu kadar keikhlasan kita. Disamping itu ikhlas itu terkait dengan apa-apa yang diniatkan(lintasan sesuatu yang akan dikerjakan, meliputi keinginan dan cara ) karena Allah, sedangkan apa yang dilakukan oleh N11 tidak sedikitpun diniatkan karena Allah(menegakkan kalimat Allah, mengajak kepada perbuatan baik, dan mencegah kemungkaran), hanya untuk kepentingan "negara karunia Allah".)
Ulama à hafal, tetapi tidak paham maka ulama itu Islamnya hanya ikut-ikutan. Rasul hijrah karena Abu Jahal tidak memakai hukum Allah 4:97 (An Nisa: 97) . Diluar/selain N11 tidak ada jihad, jadi harus hijrah (9:20/At Taubah: 20) lihat 14:28
Bantahan : Pertama mereka mengatakan ulama hafal(mungkin hafal Al Quran maksudnya), tetapi tidak paham. Yang ’paham’ itu seperti N11(menurut mereka), berbicara banyak hal dengan membawa-bawakan ayat Al Quran, menjelaskan tentang ini dan itu dengan ayat-ayat yang seringkali tidak ada hubungannya. Apakah yang seperti ini yang dianggap memahami Al Quran? Kedua, mereka menyatakan rasulullah sholallhu’alaihi wassalam hijrah karena abu jahal tidak memakai hukum Allah, apa hubungannya hijrah dengan abu jahal yang tidak mau masuk Islam. Hal mengada-ada seperti ini pun batal demi sejarah. Tidak berdasar dan asal keluar saja dari mulut mereka. Merekan menambahkan ’dalil’ tentang hijrah yakni pada ayat ke 28 dari surat ke 14, surat Ibrahim. Mari kita lihat, didalam surat Ibrahim ayat ke-28 tsb tidak dapat dipisahkan dengan 2 ayat selanjutnya, yakni ayat 29 dan 30, Allah subhanahu wata’ala berfirman ” Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman, Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka"’ ( Surat Ibrahim 28-30)
Yang dimaksud dengan “nikmat Allah’ adalah perintah-perintah Allah yang mencakup mengerjakan yang ma’ruf(kebaikan) dan mencegah kemungkaran. N11 menggunakan ayat ini untuk menakut-nakuti target agar tunduk kepada perintah pemimpin ‘negara karunia Allah’, bukankah justru karena hal ini, N11 malah ‘menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah’ seperti yang dimaksudkan pada ayat setelahnya?? Karena sejatinya mereka(para target) bukan diarahkan untuk takut kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah Allah, tetapi para target diarahkan untuk takut kepada N11 dan mematuhi program-program N11. Mengerikan ancaman Allah azza wajalla terhadap orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan Allah, Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka untuk bertaubat, aamiin.
========================
61:3 /Ash Shaff ayat 3
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”
Jadi umat Islam RI mengaku-ngaku mengerjakan hukum Islam, padahal tidak (bohong) maka 61:3 tidak sah ibadah tanpa hijrah.
Dari mana hijrah? Dari : Republik Indonesia + Pancasila + Thogut -> ke : Negara Islam Indonesia + Hukum Islam /Al Qur’an + Allah SWT .
Untuk apa hijrah? Untuk ibadah
Memangnya di RI tidak ibadah? Di RI ibadah, tetapi bukan pada tempatnya. Di RI ada judi, mabuk, zina (yang dilarang ada)
Di RI shalat, zakat, puasa, (yang diperintah ada) Ibadahnya tidak diterima.
Supaya puasa, salat ,zakat diterima, maka harus pindah (hijrah) ke negara Islam Indonesia. Tujuan ibadah apa? Umat Islam melaksanakan hukum Islam di N11.
Bantahan : didalam tafsir ibnu katsir, ayat ke -3 dari surat Ash shoff tidak terlepas dari ayat ke-2 , secara lengkap dapat kita lihat, Allah berfirman ” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan, (Ash Shaff :2-3)” Ayat ini berbicara tentang pengingkaran Allah terhadap orang yang menetapkan suatu ucapan tetapi tidak memenuhinya, dalil Qurani tentang orang-orang munafik. Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam menjelaskan dengan sabdanya “Tanda-tanda orang munafik itu ada 3, jika berjanji ia mengingkari, jika berbicara ia berdusta, dan jika dipercaya ia berkhianat”.
Umat Islam RI tidak pernah mengaku-ngaku sudah mengerjakan hukum Islam, tetapi memang sedang berusaha untuk menegakkan hukum Islam. Sehingga meski ada beberapa hal dimana umat Islam masih belum mampu melaksanakan hukum Islam itu secara total (misalkan membendung tayangan-tayangan pornografi pada televisi dan media Indonesia, dll), setidaknya beberapa hal pokok(sholat, puasa, zakat, haji, dll) dalam agama ini tidak dipersulit oleh Negara. Artinya Negara RI komit agar kebebasan beribadah dan melaksanakan syariat agama itu memiliki hak yang sama dan dilindungi oleh undang-undang. Meski tidak seideal Negara madinah dizaman rasulullah, tetapi setidaknya umat Islam dapat belajar banyak dari sejarah rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, bahwa dimanapun seorang muslim berada, tugas yang utama adalah menegakkan kalimat laa ilaa haillallah, dan amar ma’ruf nahi munkar. Justru dengan ayat ini seharusnya bisa menjadi introspeksi bagi N11(jika mereka masih menggunakan karunia Allah azza wajalla berupa akal dan hati nurani), sejauh mana mereka melaksanakan hukum Allah?? Jika mereka tidak bisa menunjukkannya, bukankah justru mereka yang mengaku-ngaku mengerjakan hukum Islam? Jika kemudian menetapkan sesuatu yang tidak ada ketetapannya didalam agama Islam ini.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka untuk bertaubat, aamiin.
=============================
N11 berdalih : Mengapa sudah tahu kok diam!!
4/140, 30/31:32, 42/13
Surat An Nisa ayat 140 (4/140)
“Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang–orang munafik dan kafir di dalam jahannam.”
“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang yang mempersekutukan Allah”. Surat Ar Ruum 31, 32 (30: 31, 32).
“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan tiap golongan mereka merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. Surat Asy Syuura :13 (42:13)
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan–Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki–Nya dan memberi petunjuk kepada agamaNya orang yang kemballi kepadanya.”
Ayat-ayat diatas sudah seharusnya menjadi bahan perenungan diri bagi mereka yang bergabung di N11, dan semoga mereka mau menggunakan akal dan hatinya untuk kembali mereview apa yang telah mereka lakukan selama ini terkait keterlibatan mereka didalam N11. Siapakah yang sedang mengingkari dan memperolok-olok ayat-ayat Allah? Sederhana saja cara memandang hal itu, mereka yang suka mengingkari dan memperolok-olok ayat-ayat Allah itu adalah mereka yang berbicara mengatasnamakan Allah, tetapi kenyataannya malah menyalahi syariat Allah. Siapakah yang sedang merendahkan kedudukan sholat ritual bagi seorang muslim? Siapakah yang sedang menjauhkan umat dari ulama-ulama yang hanif dalam agama ini? Siapakah yang sedang mewajibkan ibadah zakat hijrah didalam Islam? Dll.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka untuk bertaubat, aamiin.
==========================
Sebenarnya ada banyak ayat yang sering mereka gunakan dalam memuluskan doktrin yang mereka sampaikan, hanya saja, ayat-ayat yang terangkum diatas adalah ayat-ayat ”wajib” yang kadang mereka(rekruter N11) hafalkan guna meyakinkan(menipu) target mereka. Biasanya mereka akan ’membentengi’ si target dengan kalimat-kalimat ”jangan dengar kata ulama-ulama Islam, mereka hanya bisa berkata-kata tetapi nol dalam prakteknya”, atau ”apa yang sudah kamu perbuat untuk Islam, jangan tanyakan apa yang telah Islam berikan untuk kamu”, atau ’jihad itu amwal wa anfus..harta dan diri, omong kosong jika mereka berbicara tentang jihad tetapi disuruh bayar 3 juta sebulan malah ga sanggup”, dan masih banyak hal lain yang pada akhirnya bertujuan agar orang mau "HIJRAH" ke N11 dan mau membayar ini dan itu sebagai bentuk 'ketaatan' kepada hukum Allah, na'udzubillah. Boleh jadi sebenarnya mereka paham bahwa yang mereka sampaikan itu sesat dan menyesatkan, hanya saja ’ketakutan’ yang begitu sangat jika mereka keluar dari N11 itu mengalahkan akal sehat mereka, mereka inilah seperti kisah sebagian orang- orang muslimin yang ’bergabung’ dengan pasukan musyrikin. Mereka mendhalimi diri sendiri karena membiarkan diri tersesat dari jalan Allah dan bahkan lebih jauh dari itu mereka turut menyesatkan dan menghalang-halangi orang dari jalan Allah, padahal sangat jelas perbedaan antara yang Haq(kebenaran) dan Bathil(kesesatan)itu disisi Allah subhanahuwata'ala yang dapat kita ketahui melalui kajian yang benar terhadap Al Quran dan Sunnah, Wallahu'alam.
Akhir kata, marilah kita tutup dengan salah satu doa rasulullah sholallahu'alaihi wassalam "wahai Dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agamamu”(HR. Tirmidzi), agar semakin ditunjukkan kepada kita kebenaran itu sebagai sebuah kebenaran, dan kesesatan itu sebagai sebuah kesesatan, serta agar kita memiliki keistiqomahan dalam meniti jalan yang lurus ini, yakni al Islam, Allahumma aamiin.
Semoga bermanfaat, Aquluqawlihadza, fastaghfirullahal adhim
wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
No comments:
Post a Comment