Showing posts with label dana. Show all posts
Showing posts with label dana. Show all posts

Wednesday, September 26, 2007

Pekerjaan Orang-orang Kaslan

source

Ini Dicky lagi,
Saya telah enam tahun tanpa henti bergerak untuk mempersempit ruang gerak NII KW9. Saya juga mantan mas’ul. Dilihat dari animo di blog ini, bisakah kiranya, para mantan mas’ul, mantan jamaah dan semua orang yang perduli dan berani melawan NII KW9 untuk berkumpul bersama dan merancang gerakan paripurna yang akan menuntaskan NII KW9. karena sejauh ini, saya keteteran menerima banyaknya kasus yang harus saya tangani sendiri. Mungkin, bila kita bersama, akan ada pola yang lebih jelas dan menggunakan sebuah lembaga yang menjadi lawan utama NII KW9 sehingga akan lebih banyak orang yang tertolong. Saya sekarang sedang berkumpul dengan mantan mas’ul, timbara-garda al zaytun dan beberapa menteri NII KW9 yang telah keluar akibat perseteruan dan dekrit Abu Toto tanggal 15 September 2001. Saya berharap perjuangan ini tidak berjalan parsial tanpa pola. Sementara mereka menggunakan pola yang sangat sistematis. Rapatkan barisan. BIla anda semua siap melakukan ini, kita atur bersama. Termasuk teman-teman yang sudah keluar juga di Jawa barat Utara, jawa Barat selatan, jawa tengah dan jawa timur.

"The Kaslanis"




source

Kepada Semuanya,
Bagi yang sudah melewati jalan terjal dan berlikunya NII KW9, jangan pernah hilangkan semangatnya. Bila ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang masih aktif didalam, lakukan dengan cara yang baik. Bila ingin menyampaikan kepada kawan-kawan diluar yang belum dan kalau bisa jangan sampe kenal NII KW9, lakukan dengan seluas-luasnya. Lakukan bersama secara serentak. Setiap orang menyampaikan ke sepuluh orang setiap minggunya, sepuluh untuk satu hari kalau bisa. Ya, seperti dulu DK (Daftar Kunjungan) dan CT (Calon Tilawah) lah. Jadi, tidak perlu lelah dengan kata-kataan. Lakukan dengan aksi. Bukankan tindakan lebih besar nilainya dari kata-kata?. Bila anda perduli dengan teman-teman yang masih diluar dan yang didalam, lakukan langkah-langkah sosialisasi sebanyak dan seluasnya. Semakin sempit gerakan mereka, akan semakin muncul tindakan-tindakan putus asa yang terus memperlihatkan keburukan mereka. Lihat saja nanti. Semakin sempit ruang gerak mereka, akan semakin banyak masalah yang mereka hadapi. Semakin banyak orang tua yang tau, maka semakin banyak umat yang “amnu” dan otomatis memusingkan mereka. Jadi, kita bikin aja mereka terus ngga aman. Sosialisasi meluas, penggerebekan kalau perlu dan penanganan orang yang telah masuk. Percaya deh, kelabakan ntar mereka. Lama-lama juga pada kaslan sendiri. Saya cuma ingat kata Munir untuk mendeskripsikan pola saya, LAWAN!!

Saya sendiri melakukan pola diatas dengan teman-teman yang sudah keluar, setiap hari. dan telah berhasil menyadarkan banyak orang, Insya Allah. Dan hal ini terus dilakukan dengan sistem getok tular.

Untuk Rian, kebetulan saya juga sedang menangani kasus-kasus di 932204. Sudah lumayan yang kaslan. Saya lagi nangani tiga Qobilah itu, Frotila, Karatekan dan resimen. Banyaknya dari mahasiswa FIB UI, FEUI, FKUI, BINUS, YAI, TRISAKTI ma LONDON SCHOOL.

Kalau teman-teman mau nyikat, hajar dari NII KW9 yang kodenya 9322(1-12). Mereka pendana terbesar untuk NII. Bayangkan, untuk desa 9322-10 aja, infaknya 93.000.000 sebulan.

Monday, September 24, 2007

Decieved

source

Deception

The problem with deception is that you don't know that you've been deceived.
In retrospect, finding out is actually a good thing ... even if it's hard to believe at the time


(Gerakan Pemuda Al Kahfi) Deviant sect with strange induction under probe

www.nst.com.my

09 Jan 2007
Neville SpykermanThis email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it

SHAH ALAM: A movement targeting young Muslim professionals and executives is being monitored by the Selangor Religious Affairs Department (JAIS).

The department’s public relations officer Fakrul Azam Yahya said the movement was secretive and had strange induction methods.

He said new members of Gerakan Pemuda Al Kahfi have to pay RM1,000 to join and must agree to wear a blindfold before being taken to a secret location for their initiation.

He said they are subjected to "counselling" by senior members and the group utilises its own scriptures.

He said since the group moved around a lot, the department has found it difficult to track it down.

He said there were suspicions that the group may have links to deviant movements in Indonesia.

The department has to date received numerous complaints about the group but investigations were hindered by the group’s movements and the lack of information.

Fakrul Azam said Al Kahfi was first detected by Angkatan Belia Islam Malaysia (Abim) at the end of 2004, but since then the movement has grown stronger in Selangor.

However, hard evidence was needed before a fatwa (declaration) could be issued against the group. JAIS is appealing to disgruntled ex-members to come forward to help the department.

"We are especially keen to obtain a copy of their scriptures as it will allow us to scrutinise the roots of its deviant teachings. We heard it contains matters such as wahyu (divine revelations), for members," he said.

Fakrul Azam urged those with information about the group to call 03-5519-6997.

Yesterday, JAIS gave a briefing for representatives of Muslim organisations, NGOs and enforcement agencies in Selangor on Rufaqa, a group which is accused of being a front for the banned Al-Arqam movement.

*image taken from here

Sunday, June 10, 2007

Sapi Perah Tanpa Akhir

Jakarta- Gerakan yang dilakukan oleh NII (Negara Islam Indonesia), sebuah organisasi yang hendak menegakkan khalifah Islam di Indonesia, menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), M Amin Djamaluddin, hanyalah penipuan.

Sasarannya hanya untuk uang saja. Ini penipuan,” tegasnya.

Selasa kemarin (20/03) sekitar 50 orang yang mengaku menjadi korban NII melapor ke Polda Bandung. Mereka menuntut polisi mengusut tuntas organisasi yang telah merugikan mereka secara ekonomi ini. Bahkan tidak sedikit yang melakukan tindak kriminal untuk memenuhi kewajiban sadaqah jariyah yang dibebankan kepada setiap anggota.

Sebelumnya, pada tahun 2000, pengaduan serupa juga dilakukan namun tidak ada tindak lanjut.

Ada beberapa ajaran NII yang mesti diikuti oleh para pengikutnya. Di antaranya, mengajarkan bahwa orang di luar NII dianggap kafir atau jahiliyah, bodoh. Bagi mereka tidak wajid untuk menunaikakan shalat. Oleh karena itu, mereka diharuskan untuk hijrah, pindah. Hijrah merupakah inti ajaran NII.

Selain itu bagi setiap anggota juga dibebani dengan sadaqah jariyah.

Amin mengatakan maraknya gerakan NII ini sebenarnya hanya bertujuan untuk mendapatkan uang dari korbannya. Jumlah uang yang harus disetor oleh korban disesuaikan dengan kekayaan yang dimiliki. Biasanya 10% dari harga rumah.

Menurut hasil penelitian LPPI, calon pengikut NII biasanya diajak ngaji bersama di salah satu tempat yang sembunyikan. Materi yang disampaikan berkisar pada permasalahan jihad dan infaq.

Setelah beberapa kali mengikuti pengajian, calon pengikut dibaiat dan disuruh membayar uang shadaqah untuk mewujudkan negara Islam di Indonesia yang jumlahnya disesuaikan dengan kekayaan yang dimiliki. Tak hanya setelah menjadi pengikut NII, masih ada banyak shadaqah yang mesti dikeluarkan. Misalnya, setiap tahun semua pengikut NII harus menyediakan 500 kilogram emas.

Uang sebesar itu, papar Amin, disetorkan ke pusat gerakan NII. Sejauh penelitian Amin tempat-tempat yang menjadi pusat NII susah diidentifikasi. Tak jarang, calon pengikut NII ditutup matanya apabila hendak diajak ke tempat persembunyiannya.

“Mereka sering pindah-pindah. Biasanya mengontrak rumah 3 bulan. Lalu pindah...,” jelas Amin kepada Syirah.[]

Friday, May 04, 2007

Fenomena Kaslanis


sumber

Pengaruh lingkungan dalam membentuk corak keberagamaan, bagaimana?

Saya cenderung anti-sosial dan tak peduli. Yang menentukan lingkungan waktu itu kebetulan memang agama. Dan agama yang saya pilih adalah Islam dan karena itu saya lebih mengerti tentang apa yang harus dilakukan dalam bidang itu. Tapi waktu kelas III SMA, saya mulai memilih kelompok tarbiyah dan mulai mengenakan jilbab.

Itu terjadi sekitar tahun 1990-an. Waktu itu mengenakan jilbab memang tidak dibolehkan di sekolah umum. Semua diseragamkan sekolah. Tapi dengan begitu, saya justru ingin tampil beda dari anak-anak di sekolah. Saya pikir, jilbab waktu itu adalah sebuah simbol pernyataan diri atau identitas.

Bagaimana nuansa keagamaan di sekolah-sekolah umum saat itu?

Unik. Saya bergairah mengikuti rohis (rohani Islam) karena ada ruang kontemplasi yang saya tidak temukan di televisi dan teman-teman yang suka dugem atau jalan-jalan. Saya justru menemukan kepuasan spiritual di sana. Saya dulu kan tidak peduli dengan orang lain dan egois. Beranjak dari rohis itu, saya bertemu dengan kelompok-kelompok tarbiyah. Ada halaqah dan segala macam kegiatan.

Tapi saya tidak cepat puas. Karena ketidakpuasan, saya mulai mencari perbincangan tentang isu-isu perempuan. Sejak itu saya membuat mading (majalan dinding) bersama teman-teman dan para ikhwan. Tapi kemudian, saya dilarang membuat gambar-gambar kartun, hanya karena saya perempuan. Laki-laki justru boleh. Alasan itu sangat tidak masuk akal bagi saya.

Saya langsung mundur dan mencari aktivitas lain. Lalu saya ikut lomba karya tulis tentang sekolah ideal dan meraih juara satu. Sekolah ideal yang saya bayangkan waktu itu adalah yang mensegregasi antara anak perempuan dan laki-laki. Saolnya, isu perempuan yang saya dapati waktu itu adalah tentang banyaknya pelecehan terhadap perempuan. Makanya, saya berpikir solusinya adalah dipisahkan, supaya prestasi perempuan kelihatan. Sebab, kebanyakan siswa perempuan introvert dihadapan laki-laki. Jadi mereka tidak bisa muncul.

Adakah titik balik cara pandang Anda terhadap agama di kemudian hari?

Ya, dan itu karena kekecewaan. Saya kan orang sangat idealis. Ketika tak menemukan yang ideal di sana (gerakan tarbiyah), saya mencari yang lain, tapi masih dalam aspek yang sama, yaitu Islam. Waktu juara lomba karya tulis itu, saya didatangi seseorang yang mengajak aktif di halaqah dia. Dulu saya juga sempat ikut ICMI Orwil Jakarta. Nah, orang itu mengajak saya untuk membuat kajian teoritis-analitis tentang Islam dan kenegaraan.

Ternyata, setelah datang beberapa kali, tiba-tiba saya dibaiat dan diminta berganti nama jadi Fatimah Azzahra. Di situ saya kemudian menemukan agama bisa menggunakan logika lebih banyak. Saya diajak berpikir tentang bagaimana Islam di Mekah dan mengapa Nabi hijrah ke Madinah; bagaimana Tuhan dan lain-lain. Analogi-analogi itu menurut saya bisa masuk akal.

Seperti apa ikrar baiat ketika itu?

Aduh, saya lupa. Tapi sifatnya agak militeristik. Loyalitas ditujukan hanya kepada Rabb. Tapi Rabb yang mereka pikirkan bukan hanya sesuatu yang imaginer, tapi nyata: berupa negara. Kita diajak hijrah dari Mekah ke Madinah, dari jahiliah ke Islam. Saya merasa jadi orang yang disucikan, atau dalam istilah mereka, sudah tazkiah. Di situ banyak masalah unik yang saya temukan. Menarik juga sih untuk ukuran waktu itu.

Tapi lama-lama kok ada tugas macam-macam seperti tugas kenegaraan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Mereka menyebut tugas itu untuk memperjuangkan tegaknya Negara Islam Indonesia (NII). Bagi mereka, di Indonesia itu sebenarnya ada dua negara: RI dan NII. Ada yang aktual dan ada yang sedang diimpikan. Mereka mengklaim, ketika sudah berganti nama menjadi Fatimah Azzahra, maka saya sudah hidup di negara yang diimpikan itu (NII).

Saya benar-benar merasakan bahwa pikiran dan jiwa saya bukan lagi di negara kesatuan republik Indonesia. Saya tidak bilang itu ilusi di waktu itu, tapi sebuah kenyataan. Karena itu, saya juga bersedia dikenakan pajak dan sebagainya. Setiap bulan saya harus menyumbang Rp. 50.000 untuk gerakan. Lama-lama angkanya naik menjadi Rp. 100.000 per bulan. Wah, sampai lima tahun dalam gerakan, saya merasa ternyata cuma ditarik uang doang.

Adakah hak-hak Anda yang diakui di negara impian itu?

Kalau dihitung-hitung, yang ada kewajiban semua. Jadi harus membayar infak lah, merekrut orang lah. Setiap bulan, saya harus merekrut orang, dan selama seminggu, diusahakan dapat sebelas orang. Saya sampai turun ke Terminal Pulo Gadung untuk mencari orang yang bisa ditarik ke NII. Untuk beberapa orang, saya berhasil. Ada sopir Metromini, beberapa mahasiswa, dan sebagian pelajar yang sampai dicari-cari kepala sekolahnya, yang berhasil saya rekrut. Pokoknya militansi saya luar biasa.

Saya berpikir, kalau ingin bikin revolusi, memang harus begitulah caranya. Saya bekerja hampir tanpa pamrih. Tidak ada hak sama sekali, kecuali kepuasan hati. Itu justru dianggap kepahlawanan dan pengabdian kita terhadap negara yang kita impikan. Dan memang banyak sekali iming-imingnya. Misalnya, kalau NII sudah futuh atau menang dan RI kalah, maka kamu akan mendapatkan surga sebagaimana yang digambarkan Alquran. Waktu itu, saya berpikir “boleh juga, ini!” Makanya saya bisa bertahan sampai lima tahun.

Kapan Anda berpikir itu hanya ilusi lalu banting setir ke persoalan lain?

Saya banting setir ketika mulai melihat adanya ideologi yang fasistik di situ. Manusia benar-benar tidak dilihat keberadaannya. Jadi apapun yang dikatakan pimpinan kita, kita harus sepenuhnya nurut. Disuruh membunuh orang, kalau perlu, ya bunuh orang. Mencuri, kalau perlu, ya mencuri. Saya akhirnya sempat mencuri untuk membayar infak. Itu fakta, bukan omong-kosong. Yang tidak fair dari gerakan ini: kita selalu dikasih mimpi terus, sama seperti sinetron Hidayah.

Sejak kapan Anda merasa ada yang tidak beres dalam utopia Anda itu?

Pada tahun keempat dalam gerakan. Tahun kelima saya keluar. Itu terjadi saat masih kuliah dan menjelang skripsi. Skripsi saya betul-betul belang-blentong. Tapi setelah pelan-pelan keluar, akhirnya beres juga skripsi itu. Sejak itu saya langsung melakukan titik balik. Saya pergi dan tak peduli lagi dengan banyak orang yang mencari. Saya mulai masuk teater Taman Ismail Marzuki. Dan justru di situlah saya merasakan diri saya sebenarnya.

Saya merasakan dunia lebih ramah. Saya sudah masuk di fase sebelumnya yang terisolasi. Makanya, saat masuk fase keterbukaan, keragaman, kok saya justru diterima dan merasa jadi diri sendiri. Akhirnya saya mengekspresikan perasaan itu lewat seni dan teater. Saya sempat ngamen di jalan, nyanyi-nyanyi, dan lain sebagainya. Di situ saya merasakan kehidupan yang sebenarnya.

Ketika memutuskan keluar dari NII, Anda tak takut akan disanksi?

Nggak sama sekali. Semua adalah ilusi. Saya tak pernah mendapat teror. Sampai sekarang, saya kira gerakan ini masih ada, tapi under ground. Karena sebagai perempuan, keanggotaan saya hanya sampai level umat. Hanya laki-laki yang bisa jadi pemimpin. Karena itu, informasi tentang sistem NII sangat tertutup bagi saya. Saya agak kaget dengan temuan-temuan intelijen tentang kasus terorisme saat ini karena mereka juga memakai sistem sel seperti NII.

Jadi, selama ini saya tak bisa masuk ke dalam. Dan begitu keluar, saya tidak lagi bisa menemui mereka dan mereka pun seperti raib entah kemana. Memang sempat juga kami digrebek polisi ketika bikin rekrutmen di base camp Bekasi. Polisi sebenarnya tahu itu, tapi kucing-kucingan saja.

Ada berapa lapis dalam sistem sel kelompok seperti itu?

Mereka ada tujuh lapis. Istilah ini merujuk ke surah al-Baqarah tentang tujuh lapis langit. Jadi, ada lapisan Musa, Ibrahim, sampai Adam. Nah, kita yang umat hanya boleh tahu sampai level Musa. Kalau kita nanya soal level di atasnya, kita akan dibilang kayak Ibrahim yang ingin melihat matahari tapi justru silau. ”Kamu harus melihat ke bumi, jangan ke matahari, kalau tidak mau silau!” kata mereka. Perumpamaan-perumpamaan seperti itu, saya pikir kok bagus banget waktu itu.

Tapi saya tak tahu perkembangan yang sekarang. Laki-laki yang pangkatnya sampai level Ibrahim atau Hud, mungkin bisa lebih banyak tahu. Tapi biasanya, mereka cenderung trauma karena sudah terjebak di dalam sistem. Saya pikir, abang saya pernah jadi anggota pada level itu dan mengalami latihan-latihan militer. Karena itu, abang saya ingin keluar, tapi takut diteror. Untungnya dia tidak sampai diteror. Sekarang, dia seperti mengalami trauma. Nah, hal-hal seperti itu tak pernah diinformasikan kepada kita yang di level umat.

Apakah orangtua ikut mengamati perubahan-perubahan Anda?

Jelas. Waktu saya masuk rohis, saya sudah diamati, terutama soal pakaian. Pernah juga saya ditegur teman, ”Kok jilbabnya makin panjang?!” Saya mengamuk: ”Emangnya apa urusan Anda?!” Banyak sekali waktu itu kejadian yang membuat saya cepat marah. Disenggol dikit langsung marah. Waktu itu, saya memang sangat emosional. Tapi pelan-pelan, ketika masuk ke fase baru, perkembang emosi dan pikiran saya langsung melejit. Kreativitas makin tumbuh.

Sampailah ketika saya masuk Program Pascasarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia. Di situ saya makin menemukan jati diri saya sebenarnya. Saya tak lagi menyandarkan diri pada sistem, perintah, atau pimpinan. Saya lebih bersandar pada diri sendiri. Saya kemudian menemukan teori yang cocok untuk diri saya sendiri.

Akhirnya, saya masuk Jurnal Perempuan dan di situ bisa melihat banyak orang dari atas. Rupanya, banyak juga orang yang punya sejarah hidup seperti saya. Banyak ilusinya; banyak utopia yang sama sekali tidak riil. Tapi saya tidak menyesali pengalaman itu, karena itu merupakan bagian dari perjalanan hidup saya. Saya jadi tahu banyak.

Apa pengaruh Kajian Wanita bagi Anda?

Sebelum di Kajian Wanita, saya seperti manusia yang buta. Begitu masuk di sana, tanpa harus diperintah untuk belajar ini-itu, teori ini-itu, saya cepat dapat menangkap persoalan dan menemukan solusi dan kesimpulannya. Nggak tahu, pokoknya Kajian Wanita memberikan saya alat-alat produksi sosial untuk bisa menghadapi kehidupan sebagai perempuan. Ternyata, saya sendiri yang harus berpikir. Ternyata, ada masyarakat yang diciptakan oleh posisi sosial tertentu. Pokoknya saya berpikir tidak hitam-putih lagi, lebih ingin mengejar ke akar-akar persoalan.

Adakah buku-buku yang ikut mempengaruhi perkembangan Anda?

Saya cenderung bisa seperti jet, keluar dari NII, ketika diberi novel oleh kakak saya. Novel itu dikarang oleh penulis Timur Tengah, yaitu Nawal El Saadawi. Kelompok-kelompok seperti NII itu kan suka terjebak simbol Islam. Kebetulan namanya Nawal Arab gitu. Wah ini dikira Islam; ditulis perempuan yang saleh. Makanya saya baca. Padahal isinya sangat memberontak.

Waktu itu saya tak tahu kalau novel Nawal mengandung isu feminisme. Jadi, perkenalan saya dengan isu feminisme justru tidak dimulai dari penulis Barat, tapi penulis Arab: Nawal El Saadawi dan Fatimah Mernissi. Dari situlah saya lalu menentukan pilihan kuliah S2 di Kajian Wanita. Saya masuk seperti orang yang sudah tahu isu gender karena telah membaca karya-karya itu.

Jadi karya-karya sastra itu mengubah sesuatu, ya?

Ya, sangat mengubah. Menurut saya, tulisan-tulisan Nawal mengilhami orang yang membacanya untuk bertindak revolusioner, bukan dalam konteks negara, tapi dalam konteks pribadi. Dengan membacanya, saya merasa harus berubah secara radikal. Nawal sangat to the point ketika membicarakan dirinya, menukik langsung ke kehidupan nyata, ke dalam kondisi sosial masyarakat.

*image taken from here

Thursday, May 03, 2007

Fenomena Kaslanis

source

Dialog kesembilan:
Nidah dan gerakan Islam

Dalam hal ini terpaksa saya katakan bahwa mbak Nidah pengetahuannya tentang gerakan Islam amatlah minim, terbukti sampai beberapa lama dia tidak bisa membedakan mana gerakan Islam yang benar, mana yang tidak benar. Sebenarnya kalau sejak awal dia tahu dogma gerakan itu menghalalkan menipu, merampok, menganggap halal harta orang lain di luar kelompoknya, bahkan dianggap kafir, maka saya katakan cepatlah lari jauh-jauh dari kelompok itu. Itu jelas sudah enggak benar dari sisi manapun apalagi Qur’an dan Sunnah. Sebab tidak ada perjuangan suci menegakkan syari’ah tetapi di sisi lain dikotori dengan cara-cara nista, keji, dan kotor. Apakah kita berniat membersihkan air kencing dengan air kencing? Kalau memang cara-cara tersebut menjadi andalan dalam mewujudkan syari’at Islam yang suci maka dapat dikatakan mereka bukanlah gerakan Islam tetapi justru gerakan yang menghancurkan dari dalam.

Buat para wanita saya ingatkan kalau memang anda ingin aktif di gerakan Islam carilah gerakan Islam yang ingin menerapkan Islam ini secara kaffah, cari-carilah setiap hari apa yang dibicarakan dalam gerakan itu, keseluruhan Islam ataukah salah satu bagian Islam saja, misalnya hari-harinya yang dibicarakan politik saja dan melupakanyang lain seperti: aqidah, syari’ah, akhlak, penyucian jiwa, dll. Atau mengurus ekonomi saja melupakan aqidah. Pendek kata, carilah gerakan Islam yang syamilah (menyeluruh), bukan juz’iyyah (parsial). Carilah ajaran Islam yang mengurusi baiknya qolbiyah (hati), fikriyyah (pemikiran), dan jasadiah (tubuh kita)....

Saturday, April 21, 2007

Kaedah melunaskan Infaq, 58:12 dan Zakat 9 pintu


Bagaimana untuk melunaskan dana untuk Negara Kurnia Allah?

1- Bagi siswa, anda boleh membayar dana selaku tanggungjawab warga Madinah(MD) dengan menggunakan pinjaman siswa anda, iaitu PTPTN
PTPTN perlu anda lunaskan semula ENAM bulan selepas anda graduate dengan service charge sebanyak 3%. Kegagalan anda melunaskan dana ini boleh menyebabkan nama anda disenaraihitamkan dan penjamin anda bermasalah kelak.

Bagi pelajar yang cemerlang tapi ingin masuk syurga dengan jalan tunggal/haq iaitu warga MD (kerana jika anda belum MOU2 anda masih kafir dan calon ahli neraka), cara lain ialah dengan:


2- Bagi yang baru graduate, anda boleh meminjam dana Bank Rakyat untuk pinjaman peribadi. Negara/Daulah masih miskin, tanggungjawab anda untuk mengayakannya. Ingat, anda dijanjikan untung 700% di atas kemampuan anda berjihad (menjadi sapi perah tanpa akhir)

3-Bagi pimpinan yang terpaksa berhenti kerja untuk bergiata fulltime menjadi balaci/pencacai/mujahid Negara Kurnia Allah ini,anda boleh melakukan bisnes:

  • Jual barangan dapur dengan "markup" harga kepada umat bawahan
  • Menaikkan nilai infaq
  • Menaikkan nilai wang haji untuk MOU2 ke Ka'bah abad ke 21 dari RM1400 kepada RM3500
  • Memperkenalkan infaq baru kepada calon warga dan ahlul bait

Mudah bukan? Syurga di tangan anda, berinfaqlah, dan jangan ragu-ragu lagi.

Saturday, April 07, 2007

Glosari al-kahfi: Cash Cow alias Sapi Emas Perahan


source
In business, a cash cow is a product or a business unit that generates unusually high profit margins: so high that it is responsible for a large amount of a company's operating profit. This profit far exceeds the amount necessary to maintain the cash cow business, and the excess is used by the business for other purposes. The expression is a metaphor for a dairy cow, which after being acquired can be milked on an ongoing basis with little expense.

Risks of a cash cow include complacency, with management ignoring the need for change as market forces erode value; and ongoing turf wars between the management in charge of the cash cow and other managers trying to garner support for other products.

Tuesday, March 27, 2007

It's all about MONEY, damn it!



source

Hidden from view there exists a parallel economy alongside, and intertwined with, the economy we interact with every day. It is an economy that exists simply to handle the mind-boggling amounts of money that are produced by a variety of illegal activities. It shuttles money from countless drug deals to Colombian cartels, hides money from those seeking to evade taxation or who have stolen it and provides funding for terrorist activities. Some experts estimate that this underground economy is an incredible $2.5 trillion in size.

Journalist Nick Kochan explores this world in The Washing Machine: How Money Laundering and Terrorist Financing Soils Us, an eye opening book that should be a revelation for those who believe money laundering -- essentially the fabrication of a legitimate excuse for illegally gotten gains -- is an exotic crime that doesn't touch their lives. As Kochan illustrates, money laundering's tentacles reach into every aspect of society. Even respectable bank where your savings account is located may be involved in laundering -- knowingly or otherwise.

The Washing Machine explores the various criminal enterprises that rely on laundering to make their money appear more legitimate. In one respect the criminal world is little different from ours: criminals need a financial infrastructure to conduct business. They need to pay for product, receive profits and reinvest the money in order to continue their operations. They need to move large sums of money globally and convert currencies as necessary. Kochan shows that a variety of methods are used to complete these tasks including barter between different gangs and organizations, the use of diamonds as currency -- popular among weapons smugglers -- or simply smuggling money on one's person.

This financial infrastructure, however, would be almost useless if it wasn't for the international banking system. Somewhere along the line a legitimate bank is used to transfer and store black money. Although this is typically because banks are more interested in their profit then investigating the provenance of suspicious deposits and transfers, Kochan shows that occasionally banks are complicit in laundering the proceeds of crime. As he points out in one case, it would be hard to believe a bank wouldn't wonder how a leader of an impoverished African nation was able to deposit tens of millions of dollars in a relatively short period of time.

As informative as Kochan efforts are, unfortunately The Washing Machine mostly fails to live up to its title. Kochan spends the vast majority of his time chronicling the money laundering actions of drug gangs and organized crime, terrorists rate just two chapters out of fifteen, groups that may have some connection to terrorists but in general seem to usually only share a need for clean money. There is no doubt that the activities of criminal enterprises are even more corrosive to society then the occasional terrorist attack but Kochan's effort is sold to the reader as an investigation of terrorism and money laundering.

Civil libertarians and classical liberals might also have a problem with Kochan's work given he doesn't seem particularly concerned about their worries. When the issue of civil liberties does occasionally arise, Kochan seems to be unconcerned about the potential for governmental abuse with the vast new powers they have taken upon themselves since September 11, 2001, an event that forced the U.S. Department of Justice to take money laundering more seriously. Kochan also incredibly lumps the pursuit of free market policies along with regulatory failures and political opportunism in creating "a dangerous world where money laundering and the black market have thrived."

Despite those concerns, The Washing Machine is a valuable introduction to the world of money laundering and its destructive effects. Most large-scale criminal enterprises would simply be unable to function without the ability to cleanse their profits and the massive scale of this underground economy will likely amaze the average person. Kochan rightly argues that the price we all pay for money laundering isn't limited to enriched Third World leaders or powerful criminal enterprises, but also the debasement of the world economy, political and economic instability and ultimately threats to our own security.

Steven Martinovich is a freelance writer in Sudbury, Ontario, Canada.

Worth to read also:

http://www.moneylaundering.com


Money laundering, the metaphorical "cleaning of money" with regard to appearances in law, is the practice of engaging in specific financial transactions in order to conceal the identity, source, and/or destination of money, and is a main operation of underground economy.

http://en.wikipedia.org/wiki/Money_laundering



Friday, March 23, 2007

Darul Islam @ Dar as Salam and Peace Dilemma

source

Action is urged against the Indonesian Islamic State (NII, Negara Islam Indonesia) movement.

The Jakarta Post says former members of a religious group affiliated with the Indonesian Islamic State (NII, Negara Islam Indonesia) movement urged the Bandung chapter of the Indonesian Ulema Council (MUI) to issue a warning about the congregation.

The former members recently went to the MUI Bandung chapter on Jl. Martadinata in Bandung, West Java, asking it to alert the public to aggressive tactics used by the movement.

Dede Ahmad, 34, a former NII member, said he was worried over increasingly strident efforts to collect donations, supposedly to establish an Islamic state.

Now they are aggressively campaigning in Depok (West Java) and Jakarta. We don’t want to see them thrive again in Bandung like seven years ago

Dede once led an NII chapter in the area of Pulogadung, Jakarta from 2000 to 2003. Dede said it was difficult to track what the money was actually being used for.

Such methods used to be applied by my colleagues to gather funds to be transferred to the organization

He added that as an NII leader he had to pay Rp 16 million ($1,700) per month collected from members.

The NII movement is known to recruit new members through prayer groups at public and university mosques. Each member is obliged to pay a monthly contribution while those who do not have been known to be punished by being isolated in rooms. Fearing punishment, many members have ended up resorting to theft, deceit and blackmail to get the money, it is said.

Egi Rahmadi, 25, whose younger brother had been an NII member, said monitoring of prayer groups on university campuses should be stepped up because the NII gained new members through religious mentoring.

My brother entered NII through an introduction at a campus prayer activity.

Responding to the complaints, Rafani Achyar, general secretary of MUI’s West Java chapter, said both security officers and government agents had been unable to determine who was behind the NII movement. (Panji Gumilang of Al Zaytun has in the past been pointed at as a leader.) Thus it was difficult for MUI to attempt to deal with it.

Rafani said MUI had not remained silent, however. He said the organization had held activities within the last year in both East and West Java to explain its views against the establishment of an Islamic state (of (West) Java, or South Sulawesi, the areas where NII is traditionally strongest) within the unitary state of the Republic of Indonesia.

We are encountering difficulties following up on this case due to the absence of evidence.

Hedi Muhammad of the “Deviation Movement Investigation Team” of the “Indonesian Muslim Followers and Ulema Forum” said that as of 2000, at least 260 former NII members had repented and were ready to testify in court against the group.

The problem is that there should have been a case report from the police at the court. No investigation of the case has been conducted by the West Java police thus far.

Friday, February 23, 2007

Pengertian Struktur Teritorial NII (Komwil 9)

Struktur Teritorial adalah Aparat dan Warga NII yang bergerak di bawah tanah (undeground movement) yang bertugas dan bertanggungjawab untuk menyediakan keperluan seluruh program NII,dalam bentuk:

  • Sumber Daya Manusia untuk meningkatkan pemasukan dan sebagai kader mas'ul Teritorial dan kader yang akan dimutasi ke struktur fungsional sebagai muwadzhof (Karyawan,Korwil dan Korda YPI, Eksponen, Guru dan Kesihatan (Doktor,Bidan dan Perawat)

  • Penggalangan Dana sebagai kekuatan untuk membangun Ibukota Negara MAZ dan pusat pendidikan lain setingkat sekolah dasar di 340 kota di Indonesia serta dalam rangka penguasaan ekonomi lewat jalur pertanian, perkebunan, perikanan dan industri.

Struktur Teroterial dalam gerakannya memiliki susunan keaparatan sebagai berikut:

1. Gubernur Wilayah (Mas'ul Wilayah)

Jumlah Personil (Mas'ul Wilayah) berlaku untuk Wilayah Jawa:
  • Gubernur
  • Wakil Gubernur
  • Sekretaris Gubernur
  • Kepala Personalia
  • Waka. Personalia + 2 staff
  • Kabag. Keuangan + 2 staff
  • Kabag. Pendidikan dan Bimbingan + 2 staff
  • Kabag Kesra. Umum + 2 staff
  • Kabag Pertahanan dan Perhubungan + 2 staff
  • Kabag Logistik + 2 staff

Tanggungjawab Gubernur Wilayah adalah untuk mengatur program dan koordinasi di seluruh jajaran di bawahnya, untuk memenuhi target yang telah ditentukan dalam forum Syura Wilayah bersama Imam dan seluruh Menteri.

2. Daerah/Residen (Mas'ul Daerah)

Jumlah Personil (Mas'ul Daerah):
  • Kepala Daerah
  • Wakil Kepala Daerah
  • Sekretaris Daerah
  • Kepala Staff Daerah
  • Kabag Pendidikan
  • Kabag Personalia
  • Kabag Keuangan
  • Kabag Logistik
  • Kabag Perhubungan
  • Kabag Kesejahteraan Ummat
  • Kabag Pertahanan

Tanggungjawab kepala daerah (residen) adalah mengatur koordinasi distrik dalam pemenuhan program yang harus dilaporkan kepada wilayah dan penyampaian instruksi dari Wilayah kepada Distrik. Dalam hal penyetoran dana dari daerah ke Wilayah melalui kemudahan bank (akaun bank) yang telah ditentukan (pada tahun lalu masih atas nama Abu Ma'ariq dan keluarga di bank CIC).

3. District Office (Mas'ul Kabupaten)
Jumlah Personil (Mas'ul Kabupaten):
  • Kepala District (Bupati)
  • Wakil District
  • Sekretaris District
  • Kabag Personalia
  • Kabag Pendidikan
  • Kabag Keuangan
  • Kabag Logistik

Tanggungjawab parab bupati NII mengagihkan tugas dari Gubernur (Wilayah) kepada Desa yang dikoordinasikan dengan Kecamatan, dan menyerahkan hasil setoran dana harian-bulanan negara yang diterima dari tingkat ODO kepada Kabag Keuangan Daerah (residen) dalam saat forum breifing setiap pagi dan taqrir (pelaporan) sore.


[dipetik dan disesuaikan dari tulisan Abu Ahmad Khalid Ismail, "Konspirasi Neo Orba Mega, Hendro & NII al Zaytun", LPDI-SIKAT & CEDSOS, September 2004]